Bab 17 - Ambisi Safira

2303 Kata

Suasana di dalam ruang keluarga Bamantara masih terasa dingin. Setelah menyantap sarapan pagi, Wihesa meminta Gilang, menantunya dan Nesya untuk duduk bersama dengannya sejenak. Lelaki senja itu melirik menantunya dengan tajam, tetapi tidak ada kalimat yang diucapkan darinya. “Ayah, apa ada hal yang ingin dibicarakan? Jika tidak, saya harus pergi ke bandara sekarang. Sore ini saya mau bertemu dengan klien di Bali,” ucap Gilang mengingatkan ayahnya atas jadwal yang dijalaninya hari ini. "Ini menyangkut putri kalian, Nesya." Wihesa langsung membicarakan inti permasalahannya tersebut. Mendengar kepala keluarga Bamantara ingin membahas tentangnya, wajah Nesya berubah pias. Ia sudah bisa menerka kalau kakek tirinya itu tidak akan tinggal diam dengan masalah yang telah diperbuatnya di meja ma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN