Penyangkalan Perubahan Sikap Aruna

1109 Kata
Sejak hari itu, sesuatu yang tak pernah Wira lakukan sebelumnya justru menjadi kebiasaannya, datang setiap hari untuk menemui Aruna. Entah itu di depan gedung perusahaan kecilnya atau bahkan di kafe tempat Aruna ketika berada di luar. Keberadaannya begitu kentara, seolah pria itu tak peduli lagi pada harga dirinya yang biasanya menjulang tinggi. Namun, yang ia dapatkan bukan sambutan hangat, justru sebaliknya. Aruna tak segan-segan melontarkan kata-kata tajam yang menusuk tanpa ampun, bahkan di hadapan banyak orang. Suatu sore, ketika Aruna keluar dari perusahaannya bersama beberapa rekan bisnis muda yang baru saja ia temui, Wira berdiri di depan pintu, menunggunya. Penampilannya tetap rapi, dengan setelan jas dan dasi yang sempurna, tapi wajahnya tampak lelah menahan sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan. “Aruna.” Suara Wira terdengar rendah, mencoba mencuri perhatian. Aruna menghentikan langkahnya, lalu menoleh sekilas. Matanya yang dulu selalu berbinar tiap kali menatap Wira, kini dingin tanpa sedikit pun kehangatan. Ia tersenyum tipis, senyum sinis yang membuat udara seakan membeku. “Lagi-lagi kau di sini,” ucap Aruna datar, suaranya tegas. “Aku sudah bilang, Wira. Kehadiranmu tidak ku harapkan. Kau hanya seperti… benalu yang menempel tanpa diminta.” Beberapa orang yang bersama Aruna saling pandang, tak menyangka seorang Aruna berani berkata sekeras itu pada pewaris keluarga besar seperti Wira. Wira menelan ludah, mencoba tetap tenang meski dadanya seperti dipukul keras. “Aku hanya ingin bicara. Tak bisakah kau berhenti melontarkan kata-kata itu di depan orang lain?” Aruna terkekeh. “Kenapa? Kau malu? Bukankah dulu kau tidak pernah peduli kalau aku harus menanggung malu karena sikapmu? Bedanya, sekarang aku yang membuatmu merasakannya. Rasanya adil, bukan?” Suara Aruna terdengar tajam, penuh ironi. Ia melangkah maju, berdiri hanya beberapa langkah dari Wira, menatap langsung ke matanya tanpa gentar. “Kau tahu, Wira… aku benar-benar menyesal pernah berharap kau ada di sisiku. Kehadiranmu dalam hidupku dulu tidak pernah jadi berkat, hanya racun yang membunuh perlahan. Dan sekarang, aku bahkan muak melihatmu berdiri di sini. Kau bukan apa-apa bagiku. Kau hanyalah penghalang kehidupan tentram ku.” Wira terpaku. Kata-kata itu terasa seperti belati yang ditusukkan berkali-kali ke dadanya. Aruna yang ia kenal, Aruna yang dulu selalu menatapnya penuh cinta, yang rela menyerahkan segalanya hanya untuk bersamanya, kini mengucapkan kalimat paling kejam yang bisa ia bayangkan. Beberapa orang yang berada di sekitar mereka jelas menyaksikan ketegangan itu. Namun Aruna sama sekali tak peduli. Ia malah sengaja meninggikan suaranya agar semua orang tahu. “Aku tidak butuh kau di sini, Wira. Jadi pergilah, sebelum aku benar-benar menganggapmu sebagai orang yang lebih rendah dari sekadar musuh.” Wira terdiam. Matanya menyipit, napasnya memburu. Ia tak terbiasa diperlakukan seperti ini, apalagi oleh Aruna. Namun, meskipun hatinya tercabik-cabik, ia tetap tidak menyerah. Dalam batinnya, Wira mencoba menenangkan diri. “Tidak mungkin. Ini hanya permainan Aruna. Dia pasti sedang mengujiku. Tidak ada cinta yang bisa menghilang secepat itu. Aku mengenalnya. Dia terlalu mencintaiku dulu… terlalu dalam. Mustahil dia bisa membenciku sekeras ini.” Wira mengepalkan tangannya di samping tubuhnya. “Aku tidak akan menyerah. Aruna hanya sedang menguji. Dan aku akan buktikan bahwa dia salah jika mengira aku akan pergi begitu saja.” Tapi kenyataannya, hatinya sakit. Setiap kali Aruna mengabaikannya, ia merasakan sesuatu yang aneh, kekosongan. Biasanya, ia terbiasa menjadi pusat perhatian Aruna. Terbiasa dengan tatapan penuh cinta, pesan-pesan kecil, senyum manis yang selalu menunggu kedatangannya. Namun kini, setiap kali ia muncul, Aruna hanya menatapnya dengan dingin. Atau lebih buruk lagi, tidak menatapnya sama sekali. Rasanya benar-benar seperti ada yang hilang dari kehidupannya. Dan untuk pertama kalinya, Wira merasakan betapa menyakitkannya menjadi seseorang yang tidak lagi dibutuhkan. *** Aruna menyandarkan tubuhnya di sofa kamar dengan tarikan napas panjang yang terasa berat. Lampu meja di sudut ruangan menyala redup, menebarkan cahaya kekuningan yang seakan mempertegas kesepian yang menghantam dirinya. Seharian penuh Wira mengganggu, menyusup ke setiap celah pikirannya, meninggalkan luka-luka kecil yang terus menganga. Tangannya meremas bantal sofa, jari-jarinya menegang, seolah-olah ia sedang menahan dorongan liar yang ingin sekali meledak keluar. “Dasar b******k!” gumamnya lirih, mata menatap kosong ke langit-langit kamar. “Kalau saja membunuh tidak dianggap dosa… mungkin sejak lama kau sudah aku kubur dengan tanganku sendiri, Wira,” desis Aruna, suaranya bergetar tapi sarat racun. Bibirnya bergetar, tapi tatapannya menusuk seperti sebilah belati. Tidak ada kelembutan, tidak ada keraguan. Hanya amarah yang sudah lama membusuk menjadi dendam. Nada ucapannya tak lagi seperti keluhan wanita yang terluka, melainkan kutukan yang tertahan di tenggorokan, setiap kata seolah lahir dari bara api yang siap membakar. Kemudian, senyum miring merayap di wajahnya, senyum pahit yang asing, kejam dan tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya. “Mati dengan cepat? Itu terlalu mudah untukmu, Wira.” Suaranya kini berbisik, rendah dan menggema seperti petir di ruang hatinya. “Aku ingin kau merasakan semuanya, setiap detik penderitaan, setiap luka yang kau tancapkan ke tubuh dan jiwaku. Aku ingin kau merangkak, ingin kau menjerit, seperti aku dulu memohon belas kasihan yang tidak pernah kau beri. Aku belum selesai denganmu, Wira. Tidak akan pernah selesai hingga rasa sakit yang kau torehkan padaku benar-benar menghilang ....” Kilas balik menyerbu kepalanya. Tubuhnya kembali terasa dingin seakan masih terkapar di jalan aspal yang keras, darahnya mengalir deras hingga udara pun terasa pekat oleh bau besi. Pandangan matanya samar, langit malam buram, sementara kesakitan menjalari sekujur tubuhnya. Aruna terhuyung dalam ingatan itu, tapi segera ia pejamkan mata rapat-rapat, menahan agar rasa sakit itu tak kembali menghancurkan dirinya. Saat ia membuka mata lagi, pancaran matanya pun semakin menajam. “Tidak ada lagi Aruna yang bodoh, lemah dan buta cinta,” gumamnya serak, bibirnya bergetar penuh amarah. “Aku sudah mati sekali dan sekarang aku kembali bukan untuk menyerah. Aku kembali untuk berdiri, untuk melawanmu, Wira! Menghancurkan setiap titik kebusukan yang pernah kau lakukan padaku!” Tangannya mengepal erat, kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri, menahan gemetar. “Penghinaanmu, tatapan jijikmu, ucapan kejimu, sikapmu yang selalu menginjak harga diriku… dan pengkhianatan busukmu, semua akan kau bayar, Wira. Dengan cara yang paling menyakitkan.” Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Hanya detak jam dinding terdengar, menggaung seperti bunyi palu hakim yang mengesahkan tekadnya. Aruna menegakkan tubuhnya, wajahnya kini beku tanpa ekspresi selain amarah yang membara. Matanya menyala, penuh keberanian yang tak tergoyahkan. Ia meraih gelas di meja samping sofa, meneguk isinya dengan cepat, air itu dingin, tapi tak cukup untuk meredam api yang berkobar dalam dirinya. Sebuah tawa lirih lolos dari bibirnya. Tawa itu pendek, getir, tapi lebih terdengar seperti ancaman daripada pelepasan. “Bersiaplah, Wira …,” katanya sambil menatap cermin besar di hadapannya. Bayangan dirinya sendiri menatap balik, bukan lagi gadis polos yang pernah jatuh cinta mati-matian pada Wira, melainkan sosok yang dipenuhi dendam. “Kali ini… kau yang akan menjerit. Bukan aku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN