10. Mr Liandra is a savior

1585 Kata
Lisha tidak pernah membayangkan bahwa Reza akan sangat marah, galak dan tidak berprikemanusiaan seperti ini. Lisha sekarang mulai takut pada pria itu. "Kenapa aku tidak dapat menyentuhmu, Lisha? Kau sudah ternoda dan sudah menjadi barang rusak yang kotor sekarang. Kau harusnya bersyukur bahwa aku masih mau meniduri mu!" ​​Reza berteriak padanya dengan keras, dengan mata menusuk tajam menyiratkan amarah, dia menatap tajam tubuh Lisha yang baju bagian atasnya telah robek sebagian. Tatapan tajamnya seolah-olah akan menguliti Lisha disini hidup-hidup. "Bip ----" tiba-tiba, Reza tersentak oleh suara melengking dari sebuah mobil di belakang. Reza dan Lisha sama-sama terkejut dan menolehkan kepalanya kebelakang. Lisha mengambil keuntungan dari momen itu, saat Reza sedang lengah memperhatikan ke mobil itu Lisha mengangkat kaki yang terbalut rok pendeknya lalu tanpa basa-basi menendang s**********n Reza. "Ah!!!" pekik Reza, dan refleks menarik tangannya dari pergelangan tangan Lisha, saat matanya tertutup karena kesakitan yang luar biasa. Lisha mendorong Reza hingga terhuyung kebelakang. Lisha berlari secepat yang dia bisa, tanpa memerhatikan sekelilingnya, seolah dia sedang dikejar oleh setan. Reza menyaksikan Lisha dengan perlahan hingga dia menghilang ditelan kejauhan, Reza tidak bisa mengejarnya ketika dia akan melangkah namun terdapat ngilu yang luar biasa di balik celananya. dan berakhirlah dengan luapan amarah dari Reza yang terus menggerutu tak jelas. "Lisha .." Reza tidak bisa melepaskan Lisha dengan mudah. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia telah dikhianati oleh kekasihnya, yang tidur dengan pria lain sebelum dia bisa merasakan. Amarah yang membuncah memenuhi hatinya dia berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Lisha dan kekasih barunya membayar apa yang mereka telah lakukan padanya. Reza akhirnya berhasil mengatur napas, dia teringat klakson mobil yang menggelegar yang tiba-tiba mengganggu niatnya untuk menyeret Lisha kedalam mobilnya dan membawanya ke hotel lalu menikmati tubuh nya. Dia langsung membeku di jalan ketika dia menyadari siapa pemilik mobil mewah itu. Dia juga cukup gentar oleh orang itu. Liandra turun dari mobilnya melangkah menuju Reza dengan ekspresinya yang datar serta tatapan yang dapat membekukan lautan, sangat tajam. Reza mengusap rambutnya, membenahi pakaiannya dan berdiri tegak ketika dia melihat pria itu berjalan ke arahnya. Iya, itu adalah Liandra. Keponakan tirinya. Tetapi Reza selalu memanggil Lian dengan panggilan Kakak karena Liandra tiga tahun lebih tua dari dia. Liandra dikenal orang memiliki sikap dingin dan agresif, keluarga William adalah tipikal orang yang sangat menjunjung tinggi kehormatannya, begitu juga dengan Lian. "Kak Lian?" "Kakak!" Sambutan Reza tiba-tiba terputus ketika Liandra langsung menampar wajahnya dengan keras. Reza kehilangan kata-kata untuk mengekspresikan dirinya. Dia benar-benar membeku oleh pukulan Liandra "Kak Lian?" Untuk menambah Reza menyadari kesalahannya. Liandra tidak berniat untuk menjelaskan kesalahannya yang terlibat kasus prostitusi dan juga menyakiti Lisha. Liandra tidak mengucapkan sepatah katapun, melainkan beralih memukuli Reza Reza langsung jatuh ke tanah, menggeliat sakit. meskipun dia menghormati Liandra, dia juga tidak terima dipukuli olehnya seperti ini tanpa alasan yang jelas. "Kakak, apa kau sudah gila?!" Ucapan Reza membuat rahang Lian mengeras. Liandra marah, bahkan sekarang dia melanjutkan pukulannya dengan brutal. Tidak memperdulikan Reza yang merintih kesakitan seolah Lian ingin memukulnya sampai mati. Reza tahu dia bukan tandingan kakaknya, Reza mempertimbangkan posisi Liandra dalam keluarganya, dia tidak berani melawan balik sebagai pembalasan. Dia menelan rasa sakit dan menanggung pukulan demi pukulan yang di layangkan oleh Kakak nya itu, sampai akhirnya dia kehilangan kesadarannya. Sayangnya, alih-alih menolong, Liandra malah pergi sesegera mungkin. setelah itu, meninggalkannya tanpa rasa iba. tetapi Lian menyuruh Revano untuk mengurusnya, sedangkan dia mengendarai mobilnya sendiri untuk menyusul Lisha. *** Lisha menghabiskan beberapa hari ini dengan rasa tenang, jauh dari Reza. Lisha selalu berdoa agar Reza lebih lama lagi tinggal sakit dan tetap tinggal di mansion nya, terdengar jahat memang. Tetapi itu yang sekarang diinginkan oleh Lisha. Berita perpisahan mereka berdua telah menyebar ke seluruh perusahaannya seperti api yang terus menerus membakar kayu kering, sangat cepat tersebarnya. Berkat akting kebohongan yang di ciptakan Rosa semua orang di perusahaan menganggap dirinya murahan dan menganggap dirinya wanita tak tahu malu yang berselingkuh dan akhirnya menyebabkan mereka putus. Lisha mencibir dalam hatinya memikirkan itu semua. "Apakah dia berbicara tentang dirinya sendiri, huh?" gerutu Lisha, bertanya-tanya bagaimana Rosa bisa begitu tak tahu malu untuk berbohong kepada semua orang dan menjebak dirinya dengan cara yang begitu kejam. Meskipun jijik dengan kebohongan ini, Lisha menolak untuk membela diri, dia tidak ingin terpengaruh sedikitpun oleh rumor itu. sudah cukup dirinya diturunkan jabatan oleh Mr. jack juga menyuruhnya untuk menjadi salah satu asisten Rosa, konyol memang. Selain iri karena Lisha berpacaran dengan Reza, Rosa juga menghasut Mr jack untuk menurunkan jabatan Lisha menjadi asistensinya. Tentu dengan rayuan Rosa yang menjijikan hingga akhirnya Mr. Jack menyetujui nya. Siapa yang akan menolak tawaran tubuh Rosa bukan? "Terus?" Rosa terus saja memerintahkan Lisha untuk mengerjakan ini dan itu mulai dari sekarang Lisha harus mengikuti perintahnya dengan patuh. Rosa mengerjai Lisha agar mengerjakan pekerjaannya , sehingga mau tak mau Lisha harus bekerja lembur di perusahaan. jika tidak, Maka Lisha akan di pecat dikantornya itu tentu karena Rosa mempunyai koneksi dengan Mr. Jack ya, koneksi sebagai pelacurnya dan tidak lebih. Hampir jam sembilan malam Lisha baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ketika dia beranjak akan keluar untuk meninggalkan perusahaan. Dia mengklaim bahwa semua orang sudah pulang, dan dia adalah satu-satunya yang tersisa di kantor ini. Lisha mengemasi barang-barangnya dan hendak pergi, dia terus menerus memutar knop pintu dan akhirnya dia menyadari itu, kantor tampaknya telah dikunci dari luar. Tidak salah lagi Lisha menuduh Rosa yang telah merencanakan ini semua. Lisha bingung ketika dirinya tiba-tiba mendengar suara 'letupan'. Segera setelah itu, lampu-lampu di kantor padam dan seluruh kantor pun diselimuti dengan kegelapan Warna kulit putih wajahnya berubah menjadi pucat. Dia mulai merasa ketakutan, suasana gelap mengingatkannya pada pengalaman dulu, Saat dirinya di culik. faktanya, Rosa tahu betul bahwa Lisha memiliki fobia pada kegelapan. Terlalu gelap hingga untuk melihat apapun tidak bisa. Lisha mencoba menenangkan dirinya sendiri, merogoh tasnya untuk menelpon dan kemudian mengklik buku kontak berwarna hijau. Dengan ragu-ragu memanggil beberapa rekan kerja untuk meminta bantuan, mereka semua menjawabnya dengan kata-kata acuh tak acuh sebelum menutup telepon dengan cepat, seolah-olah mereka juga berada dibalik ini semua. Keterlibatan Rosa dalam masalah ini sudah jelas. Lisha sangat sadar dia tidak mempunyai banyak teman di kantor ini. Lisha merenung sejenak sebelum memutuskan untuk menelepon Reza. Paling tidak, dia berharap bahwa Reza akan membantunya. Lisha yakin sebenci-bencinya Reza padanya ia tidak akan membiarkan dirinya ketakutan Sayangnya, semua harapannya sia-sia ketika yang mengangkat telepon bukan Reza melainkan Rosa. Di balik telepon itu Rosa sedang mengerang kenikmatan seperti sedang bercinta. Lisha pikir Rosa sengaja bermaksud untuk memprovokasi dia dan menunjukkan keintimannya dengan Reza. Dia juga bisa mendengar suara Reza samar-samar yang terengah-engah di latar belakang. Ah ralat maksudnya mendesah panjang. Karena mual oleh suara menjijikan itu, Lisha segera mematikan telepon itu secara sepihak. Ah dia memang bodoh untuk apa dirinya menghubungi Reza. Setelah beberapa saat merutuki dirinya sendiri, Lisha terduduk di bawah meja dan memegang teleponnya dengan erat, tidak tahu siapa yang harus ia mintai bantuan. Dia diliputi kegelapan dan kesunyian yang mencekam yang menguasai ruangan itu Lisha merasa semakin ketakutan. Peristiwa tentang penculikannya dulu di masa kecilnya secara bertahap teringat dalam benaknya, hatinya mulai gelisah akan kegelapan di sekitarnya. Keputusasan dan ketakutan membanjiri pikirannya yang luar biasa seakan akan pikiran itu hampir mencekiknya. "Tidak, aku tidak bisa tinggal di sini ..." Lisha mulai melirih, butiran-butiran kecil keringat keluar dari dahinya. Dia mencengkram ponselnya dengan kuat, menggulir ke atas dan ke bawah pada layar, sampai nama 'Liandra' muncul. Tidak butuh waktu untuk berpikir lama Lisha pun akhirnya menghubungi Liandra, hanya dialah harapan Lisha satu-satunya. Urusan dia mau atau tidak nya terserah nanti yang penting Lisha sudah berusaha berjuang keluar dari kegelapan ruangan ini "Mr. Li-lian" Lirih Lisha ketika panggilannya sudah tersambung Lian yang sedang duduk di mobil dalam perjalanan pulang pun terkejut karena sebuah nomor yang sangat ia harapkan menghubunginya ternyata menelponnya, tanpa berlama-lama lagi Lian pun mengangkatnya. "Kenapa Lisha?" Tanya Lian Ketika mendengar lirihan Lisha. Lian tidak dapat berpikir jernih yang ia pikirkan hanyalah bagaimana keadaan Lisha sekarang, Dia berpikiran negatif tentang Reza sekarang. "Aku takut, aku sedang berada di kantorku" Ujar Lisha, "Tolong aku" Sambungnya, kini suara Lisha perlahan memelan. Tut tut tut. Belum sempat menjawab, panggilan itu sudah mati. Lian dengan cepat memberitahu Revan agar cepat ke kantor Mr Faris Hainan. Tanpa banyak bertanya Revan pun memutar mobilnya. Lian begitu khawatir, karena setelah tiba di kantor Mr. Faris. Keadaan sekitar gelap, pantas saja Lisha ketakutan. Lian segera menyuruh Revan agar meminta kunci kantor pada satpam dan bertanya ruangan Talisha Aprillya dimana. Bukan hal yang sulit sehingga Lian pun dapat mudah masuk ke kantor itu. Pintu terbuka dengan sangat lebar didobrak oleh kaki Lian sendiri, Lisha yang sedang meringkuk di bawah meja sambil memeluk lututnya sangat terkejut ketika melihat siapa yang datang, hatinya sekarang mulai merasa tenang. "Kenapa kau tidak menyalakan handphone mu" tatapan tajam Lian mengintimidasi di ruangan yang sinarnya sudah mulai remang karena berkat bantuan dua handphone sekaligus yang di pegang oleh Revan. Lian tersenyum lirih kala melihat Lisha sendiri. Tadi dia sempat berpikiran bahwa Lisha sedang bersama laki-laki lain suruhan Reza. "Aku takut, handphoneku mati." isak Lisha menenggelamkan wajahnya di d**a Lian. Lian pun melepaskan jas kebanggaannya dan memasangkannya pada tubuh Lisha yang mungil itu. Kini tubuh bagian atasnya hanya di balut kemeja putih yang ia gulung sampai siku. Setelah itu Lian segera mengangkat tubuh Lisha ala bridal style. Lisha terkejut atas perlakuan Lian padanya, Lian mulai menuruni anak tangga satu persatu untuk sampai ke luar kantor dan menuju mobilnya. wajahnya hanya datar saja. Tidak menunjukkan ekspresi apapun. Untung saja ruangan Lisha berada di lantai dua, jadi tidak terlalu jauh untuk sampai ke mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN