Bab.4 Devan Wijaya??

1244 Kata
  “Kamu??” tanya lelaki itu sambil menatap Sandrina dengan tatapan tajam.   “Maafkan saya Pak Devan. Gara-gara gadis ini, mobil bapak lecet,” ucap sopir itu mencoba menjelaskan keadaan yang terjadi.   “Kenapa kamu selalu membuat masalah di hidupku??” tanya Devan sambil menatap Sandrina dengan penuh kemarahan.   “Aku tidak sengaja. Dan lagi, aku tidak tahu kalau mobil ini milik kamu!” ucap Sandrina kesal.   “Harusnya, tanpa kamu tahu siapa pemilik mobil ini, kamu bisa lebih berhati-hati!!”   “Lelaki cerewet!! Maaf saja, aku masih sibuk dan ada urusan yang lebih penting!!” tegas Sandrina sambil membalikkan badannya menaiki motor.   “Dasar gadis dekil!! Aku juga tak punya waktu mengurus kecerobohanmu!! Catat plat motornya pak!! Nanti kita suruh orang untuk memberi pelajaran gadis bandel ini!” perintah Devan pada sopirnya.   “Ba—Baik pak,” sahut sopir itu sambil memotret plat motor kendaraan Sandrina.   Sandrina pura-pura tidak tahu dengan apa yang dilakukan sopir Devan itu. Ia menuju ke tempat parkir yang dimaksud. Ia berjalan tergesa-gesa menuju ke lantai tujuh.   Cukup lama Sandrina menunggu di depan lift. Namun, lift itu tak juga terbuka. Akhirnya ia menyusuri sekitar tempat itu. Tak lama ia menemukan lift yang tak jauh dari sana.   “Lebih baik aku ikut itu saja!” gumam Sandrina sambil melangkah cepat.   Ia masuk ke lift dan langsung menekan tombol angka tujuh. Baru sampai di lantai tiga, seseorang hendak bergabung untuk menggunakan lift. Lift itu pun berhenti dan beberapa saat kemudian, terbukalah pintunya.   “Astaga!! Kamu lagi!! Apa kamu tidak bosan?? Kenapa kamu mengikutiku terus!!” pekik Sandrina saat melihat Devan hendak masuk ke lift.   “Cih!! Aku yang risih! Kenapa ada gadis dekil sepertimu di kantor ini!! Padahal banyak gadis cantik dengan body aduhai yang bisa aku lihat. Tapi kenapa kamu menjadi polusi mata bagiku!!” cecar Devan.   “Terserah kamu mau bilang apa. Yang penting aku sudah lebih dulu masuk ke sini!” ucap Sandrina.   “Aku tak peduli!! Paksa dia keluar!!” perintah Devan pada beberapa orang di belakangnya.   Dua orang menyeret Sandrina keluar dari lift itu. Sementara Sandrina menolaknya dengan sekuat tenaga. Ia juga memaki-maki lelaki yang memaksanya keluar.   “Kenapa kalian menuruti perintah lelaki arogan itu!! Harusnya kalian bisa saling menghormati!! Aku juga karyawan di sini tahu!!” seru Sandrina setelah ia berada di luar.   “Karyawan di sini?? Ah mungkin kamu di bagian cleaning service. Itu paling cocok untukmu!” ucap Devan sambil tertawa dengan tatapan sinis.   “Sial!! Jangan menghinaku seperti itu!! Aku karyawan di sini! Aku yakin aku bukan di bagian itu!!” teriakan Sandrina mungkin tak lagi terdengar.   Pintu itu terlanjur tertutup. Sandrina masih menyandarkan tubuhnya di tembok. Ada hal yang tak ia ketahui. Tiba-tiba gadis itu menggaruk-garuk kepalanya hingga tatanan rambutnya tak karuan.   “Btw, aku sebenarnya diterima di bagian apa sih?? Aku cuma tahu kalau aku diterima jadi karyawan. Tapi di bagian apa?? Aku sendiri tak tahu. Aku lupa surat lamaran yang pernah aku kirim ke sini,” ucap Sandrina lemas.   Tak lama Sandrina melihat jam tangannya. Sudah lewat jam delapan. Ia harus segera menemui Bu Desy, orang yang meneleponnya kemarin. Sandrina bergegas ke tempat yang dimaksud.   Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya Sandrina bisa sampai ke ruangan Bu Desy. Dengan canggung dan dandanan yang berantakan, Sandrina memberikan salam.   “Maaf saya telat Bu,” ucap Sandrina ragu-ragu.   Bu Desy melirik ke arah Sandrina sebentar. Wajahnya begitu datar tak menunjukkan ekspresi apapun. Sementara jantung Sandrina serasa mau copot karena menyadari kesalahannya.   Di hari pertamanya kerja, semuanya sudah menjadi berantakan. Belum lagi ketakutan dalam hatinya sebenarnya belum reda. Sandrina masih takut kalau ternyata telepon kemarin hanyalah ulah dari manusia tak bertanggung jawab.   “Nama kamu Sandrina Ayudia?” tanya Bu Desy.   “Iya Bu,” jawab Sandrina merasa lega karena wanita itu tahu namanya.   ‘Aku yakin ini bukan penipuan. Aku memang diterima di perusahaan ini. Ini memang rezeki untukku. Aku harus lebih semangat,' batin Sandrina.   “Tunggulah satu atau dua jam lagi karena masih ada meeting cukup besar,” ucap Bu Desy sambil memberikan senyumannya.   Sandrina mengangguk. Ia duduk canggung di ruangan Bu Desy. Dalam hatinya sebenarnya berjibun pertanyaan. Namun, ia tak berani melontarkannya pada Bu Desy.   Beberapa kali Bu Desy juga mengamati gadis yang sederhana itu. Bahkan wanita paruh baya itu mengamati Sandrina dari ujung kepala ke ujung kaki. Sandrina jadi semakin salah tingkah.   “Apa kamu sakit?? Wajahmu terlihat pucat,” tanya Bu Desy.   “Saya baik-baik saja. Mungkin karena saya gugup,” jawab Sandrina sambil mencoba tersenyum.   “Persiapkan dirimu dengan baik, karena kamu akan bertemu dengan pemilik perusahaan ini,” ucapan Bu Desy membuat Sandrina hampir melonjak dari tempat duduknya.   “Em, maaf. Saya masih belum mengerti. Bukankah saya diterima di kantor ini sebagai karyawan. Kenapa saya harus bertemu dengan orang penting seperti itu?” tanya Sandrina heran.   “Karyawan?? Apa kamu lupa mendaftar sebagai apa di perusahaan ini??” tanya Bu Desy.   Dengan malu Sandrina menggaruk kepalanya. Ia benar-benar lupa dengan surat lamaran yang ia kirim ke DW Group. Sandrina menghela napasnya panjang.   “Kamu diterima sebagai sekretaris,” ucap Bu Desy.   “Sekretaris??” tanya Sandrina tak percaya.   “Iya. Bahkan kamu sekretaris CEO.”   “Heuh?? Mungkin Bu Desy salah orang,” sahut Sandrina cepat.   “Ini lamaran pekerjaan yang kamu kirim bukan??” tanya Bu Desy sambil menunjukkan amplop cokelat beserta isinya.   Sandrina menelan salivanya dengan berat. Napasnya agak sesat melihat semua tulisannya. Ia memang melamar di perusahaan itu. Namun, ia tak menyangka akan mendapatkan pekerjaan yang begitu sulit baginya.   “Maaf Bu, saya masih sulit untuk percaya akan hal ini,” ucap Sandrina.   “Saya pun juga seperti itu. Tapi karena Tuan Wijaya yang merekomendasikan kamu, siapa yang bisa menolak. Semua akan patuh dan tunduk pada beliau.”   “Tuan Wijaya?? Apakah itu Pak CEO?” tanya Sandrina.   “Bukan. Beliau lebih dari CEO. Beliau Owner DW Group.”   “Eh,, kenapa Owner DW Group merekomendasikan saya??”   Belum sempat Bu Desy menjelaskan, seseorang karyawan masuk ke dalam ruangan itu dan mengabarkan bahwa meeting sudah selesai. Jantung Sandrina semakin berdegup kencang.   Ia mengikuti langkah Bu Desy dengan gamang. Saking paniknya, Sandrina bahkan merasa mual saat ia harus naik lift terlalu lama. Lantai yang mereka tuju cukup tinggi.   ‘Aduh, bagaimana ini?? Rasanya aku ingin muntah. Belum lagi pakaianku yang sudah mulai berantakan. Seperti apa orang yang akan aku temui??’ batin Sandrina.   “Mari masuk,” ucapan Bu Desy mengagetkan lamunannya.   Setelah sampai di dalam, betapa kagetnya Sandrina saat melihat Devan di sana. Bu Desy menunduk penuh hormat dengan pemuda itu. Sandrina terpaksa mengikuti orang yang mengantarnya itu.   “Pak Devan, ini sekretaris bapak yang baru,” ucapan Bu Desy bagaikan petir di siang bolong untuk kedua orang itu.   “Apa?? Tidak mungkin!!” teriak Devan sambil menatap Sandrina dengan sinis.   “Sudah aku duga, tanggapanmu seperti itu Devan. Tapi semua ini sudah menjadi keputusan Papa,” ucapan itu keluar dari seorang lelaki tua yang tiba-tiba sudah berada di dalam ruangan itu.   “Tapi Pa,” ucap Devan kesal.   “Selamat datang Tuan Wijaya,” ucap Bu Desy sambil membungkuk badan memberikan hormat.   Sandrina masih dirundung kebingungan. Ia hanya mengikuti gerakan Bu Desy dan membungkam mulutnya rapat-rapat. Ia masih ingat kesalahannya tadi pagi.   ‘Tunggu, Devan? Seorang CEO? Dia memanggil Tuan Wijaya dengan Papa?? Jadi dia Devan Wijaya? Anak dari pemilik perusahaan ini?? Ya Tuhan, posisi macam apa ini?? Kenapa Tuan Wijaya ingin memilihku yang b***k ini,' batin Sandrina meronta-ronta.   “Pa, kita masih bisa membicarakan semua ini baik-baik,” pinta Devan.   Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN