Suara klakson terdengar dari mobil yang aku hadang. Lalu, sang sopir keluar dari kaca jendela mobil tersebut. Aku meneliti dan mengingat wajah sang sopir, sepertinya beda orang. "Nilam, kamu ingin bunuh Mama ya? Tiba-tiba narik tangan dan berdiri di depan mobil orang." Mama marah sekaligus panik melihat aksiku. Aku terdiam dengan wajah datar, Mama pun masih menunggu aku melepaskan genggaman tangan. "Mbak, maaf bisa minggir nggak? Bos saya mau lewat," celetuk sopir dengan cara berteriak melalui jendela. "Maaf, saya tetangga baru, ingin kenalan," kataku sopan. Pandangan ini tertuju pada pria yang berada di kursi belakang. Namun, kurang jelas kalau melihat dari luar. Sopir itu keluar, aku kembali memperhatikannya namun memang beda dengan orang yang menculikku pada waktu bersama Rifat. Ti

