Aku tidak menghiraukan apa yang diucapkan Mbak Dila, duduk dengan bersandar adalah caraku mengalihkan emosi yang mulai mendidih karena mendengar ucapan Mbak Dila. Bukan menyimak apa yang dikatakan Om Farhan, malah terus memperhatikan papaku. "Eh, tapi itu papa kamu bukan sih? Dari penampilan si jelas jauh berbeda, tapi namanya dan muka juga mirip. Eh bisa saja sih wajah sama, nama pun bisa kembar." Mbak Dila terus menerus bersuara tanpa peduli aku mendengarkan dia atau tidak. "Mbak, dengarkan aja, itu simak atasan lagi pidato kok malah nyerocos, nggak punya adab apa ya?" Aku bertanya balik padanya. "Susah sih ya ngomong sama orang susah seperti kamu dan papamu itu, aku yakin seratus persen, papamu mengharapkan balasan saat menolong Pak Farhan," tutur Mbak Dila kembali membuatku mengh

