"Apa dugaan kita benar? Ryan pengkhianat?" tanyaku pada papa. "Sulit dipahami, kita tidak boleh asal nuduh," celetuk papa. "Dia menyukai Nilam, Pah, bisa saja sakit hati lalu memberikan informasi pada Kiara yang berada di penjara," susul Mas Arlan. "Kayaknya terlalu cepat ia memberikan kabar itu pada mereka yang masih si sel, setidaknya kita pulang ke rumah Ryan belum sampai ke kantor polisi, lagi pula jam besuk tahanan kan ada aturannya, nggak mungkin malam gini dia besuk," tambah papa lagi. Banyak kemungkinan terjadi tapi tuduhan pada Ryan tidak sesuai dengan logika. "Sudahlah, kita bicarakan besok lagi, masalah kantor sudah cukup rumit, sekarang waktunya istirahat," suruh papa. Kami bergegas ke kamar masing-masing. Aku dan Mas Arlan mandi bergantian, setelah itu kami merebahkan t

