Mas Arlan mengangkat telepon di hadapanku. Ia mengaktifkan speaker agar aku bisa dengar percakapan mereka. "Halo, Tante," ucap Mas Arlan. "Arlan, Tante lagi di Jakarta lagi nih, kata Mbak Desti, pernikahan Hesti maju minggu depan? Ini makanya disuruh ke rumahnya, eh pas sampai rumah Mbak Desti ternyata kamu sudah tidak tinggal di sini," ungkap Tante Dian membuat Mas Arlan menoleh ke arahku. Tante Dian seolah-olah hadir menjadi malaikat penolong, padahal ia pun termasuk orang dalam daftar pelindung mama. "I-iya, Tante, kami berdua sudah tidak tinggal di sana," jawab Mas Arlan gugup. "Tante juga baru tahu kalau Mama kamu sudah tahu ya tentang jati diri Nilam, padahal beneran deh Tante dan Om Khalil tidak mengatakannya pada Mbak Desti." Kalau hal ini memang sepertinya mereka tidak me

