"Namanya siapa, Pak? Halo, Pak!" teriakku sampai akhirnya Mas Arlan menghampiri. "Kenapa, Sayang? Kok teriak-teriak?" tanya Mas Arlan yang sudah ada di dekatku. Sambungan telepon pun sudah diputus oleh Pak Supri entahlah di sana ia sedang melakukan apa, tapi biasanya jika seperti ini dipanggil oleh papa, bos utamanya. Mungkin Mbok panggil atas perintah papa. "Pak Supri lagi cerita, Mas. Dia kan aku suruh tanya-tanya ke ojek tadi, sudah dia tanya-tanya, tapi keburu mati teleponnya," jelasku padanya. Seandainya ia tahu bahwa aku antusias menyelidiki kasus ini bukan karena penculikan, tapi karena kematian ibunya, mungkin hatinya akan rapuh, dan takkan mampu melewati hari-harinya dengan kebahagiaan. "Apa yang diceritakan Pak Supri, Nilam?" tanya Mas Arlan ikut penasaran. Ia bertanya sa

