Sekitar pukul delapan pagi, Mas Denis benar-benar datang menjemputku ke rumah setelah aku pulang dari sekolah si kembar. Dengan gamis berwarna coklat muda dan jilbab senada, aku menemuinya di ruang tamu. Dia tersenyum kecil melihat penampilanku, membuat diri ini sedikit salah tingkah karenanya. "Kenapa salting begitu? Nervous banget ya ketemu calon suami yang tampan ini?" guraunya kemudian membuat wajahku makin memerah, mungkin sudah seperti udang rebus. "Kamu selalu cantik dengan busana apa pun," ucapnya memuji, membuat hatiku kembali berbunga. Ah, bukankah perempuan memang suka sekali dengan pujian dan Mas Denis memang salah satu lelaki yang doyan sekali memuji. Apapun itu. "Berangkat sekarang?" tanyanya yang kujawab dengan anggukan kepala. Mas Denis tersenyum lalu beranjak dari s

