"Mbak! Jalannya yang cepet dong! Jangan kayak siput! Lelet banget kaya tuan putri!" sentak seorang anak laki-laki yang berjalan tak jauh dari Dinda. Teriakan anak itu cukup membuatku terkejut. Aku benar-benar heran mengapa Dinda sampai dibentak-bentak seperti itu. Lebih terkejut lagi saat dia menarik kasar lengan Dinda sampai nyaris terjatuh. Aku dan Dinda saling pandang sesaat, tanpa ada sepatah kata pun yang terucap. Wajah Dinda memerah seolah menahan malu dan mungkin amarah yang terpendam. Dia buru-buru mengalihkan pandangan saat kami tak sengaja bersirobok. Seperti halnya denganku, Dinda juga tak menyapa kedua anak kembarku yang mungkin begitu merindukannya. Meski dia penyebab hancurnya rumah tanggaku, tapi Yuki dan Yuka tak terlalu tahu soal itu. Aku pun tak mengajari mereka unt

