Kubuka pintu mobil perlahan. Mas Denis tampak tersenyum manis menatapku tak berkedip sekian detik. Mataku mulai berkaca melihatnya kembali di depan mata. Semua benar-benar terasa seperti mimpi. Aku tak tahu kenapa dia harus kembali di saat aku sudah bisa menata karir dan hati setelah berkali-kali disakiti. Entah mengapa aku merasa jika dia datang di saat yang tak tepat. Tak ingin berpikir macam-macam, segera kulangkahkan kaki untuk menjauhinya. Aku tak ingin dia tahu, detik ini aku kembali mengingat luka yang pernah dia tancapkan di setiap sudut d**a. Sekian lama berusaha melepas rasa sakit itu, tapi semua seolah lalu lalang di depan mata saat melihatnya kembali. Aku tak ingin mengingat semuanya dan kembali merasa dilukai. "Amelia ... Amel!" panggilnya cepat saat melihatku menjauh. Ak

