02. Kecurigaanku

1401 Kata
Aku menutup mulutku dan langsung pergi ke kamarku lagi. Aku masih tidak percaya tentang apa yang mereka bicarakan. Suami yang selama lima tahun bersamaku ternyata membohongiku, semua kasih sayang dan cinta yang ia berikan hanya kepalsuan, mengapa aku sebodoh ini, mengapa aku tak menyadarinya? “Aku terlanjur mencintaimu mas, begitu besar luka yang kau berikan, hatiku sakit dan hancur seperti debu yang terbawa angin entah ke mana." "Tenang Arum ... tenang ... jangan bertindak gegabah, kamu harus rileks Arum," batinku menyemangati diri sendiri. Aku harus mencari bukti, karena tidak ada tanda-tandanya kalau Mas Ariel selingkuh, aku tak mau disebut pelakor karena aku tak tahu kalau dia sudah mempunyai istri. Ya Allah apa yang harus kulakukan, aku bingung mulai dari mana? "Inikah hadiah kejutan darimu Mas Ariel, hadiah untuk ulang tahun pernikahan kita, mengapa aku harus mendengarkannya, apakah ini petunjuk- Mu ya Allah, Allahhu Akbar ... "Kamu harus kuat Arum ... harus kuat, kalian pikir orang kampung ini tidak bisa berbuat nekat, kamu tahu mas jika ternyata aku bukan istri satu-satunya dalam hidupmu, jangan panggil aku Arum kalau aku tidak bisa membalasnya, tunggu saja Mas, akan kucari buktinya sebelum kamu duluan menceraikanku," batinku mengatakan dengan senyuman sinis. Aku berpikir keras, sepertinya mas Ariel masih didalam kamar ibu. Lebih baik aku tidur kembali sebelum dia memergoki aku yang seperti ini. Kutarik selimut menutupi seluruh badanku, dan berusaha untuk tidur agar aku bisa berpikir jernih apa yang akan aku lakukan besok. Selang beberapa menit terdengar suara langkah kaki, pasti itu Mas Ariel. Dia membuka pintu lalu masuk dan langsung merebahkan tubuhnya disampingku. Namun, tidak ada tanda-tanda mas Ariel yang selalu membisikkan kata-kata cinta di telingaku, atau dia sudah melupakannya, mengapa mas? Air mataku hampir saja membasahi pipi ini, tapi berusaha tidak jatuh. Tiba-tiba tangan kekarnya melingkari di pinggangku, ingin sekali kutepis tangan itu, tapi kuurungkan niat ini, karena jika kulakukan pasti membuat mas Ariel curiga. Mata ini tidak mau terpejam, kulirik jam menunjukkan jam tiga dini hari. Pelan-pelan aku menggeser tangan mas Ariel, akhirnya aku terlepas darinya. Ku pergi ke kamar mandi berniat mengambil air wudu dan melaksanakan Shalat Tahajud. Kebetulan di rumah ini dibuatkan ruangan khusus untuk Shalat dan letaknya persis di samping kamarku. Dengan khusyuk meminta, memohon, kepada Yang Maha Kuasa agar aku bisa menjalani ini semua, sampai aku membuka Al Quran sebagai pedoman hidupku. Kulantunkan ayat-ayat suci Alquran sampai menitikkan air mata sendiri. Kupeluk Al Quran itu karena buku itu adalah saksi bisu sewaktu mengikrarkan janji suci tali pernikahan kami. Warna putih keemasan menjadi pilihanku sewaktu memilih sampul kitab suci Al Quran ku. Tiba-tiba kepalaku mendadak pusing dan akhirnya tak sadarkan diri. Saat terdengar suara azan, kuterbangun dan melihat jam sudah menunjukkan jam lima subuh. Sangat indah suaranya, mendayu-dayu hampir mirip suara azan di Saudi Arabia. Ya itu suara mas Ariel setiap subuh dia akan mengumandangkan azan. Aku terhanyut dalam suaranya yang begitu indah tapi air mata ini kembali jatuh. "Duh cengeng amat kamu Rum kamu harus semangat ... batinku Segera kutunaikan Shalat Subuh. Setelah selesai aku kembali ke kamarku untuk mencari bukti perselingkuhan mas Ariel. Aku harus menemukannya sebelum dia datang dari masjid. Kubuka laci tadi malam yang menyita perhatianku. "Ah, sial ternyata struk-struk pembelian itu sudah tidak ada disana, mengapa baru ingat sekarang," gerutuku. Hilang sudah harapanku untuk mencari bukti, sebentar lagi mas Ariel datang, aku akan cari lagi, lebih baik aku ke dapur dulu untuk memasak takut jika tidak ada hidangan diatas meja makan mereka akan curiga, lebih baik bersikap seperti biasanya. Kubergegas ke dapur seperti biasa memasak dengan cepat, karena memang hobiku memasak jadi setiap hari menunya selalu berbeda, mereka kumanjakan lidahnya lewat masakanku yang mereka bilang sangat enak. "Wah, wangi banget masakanmu, Rum ...masak apa sih wanginya sampai ke kamar, tuh lihat si Raina sampai bangun cari in kamu," ucap mbak Sukma yang sambil menggenggam tangan Riana. "Eh, Mbak Sukma, ini lagi coba menu baru lihat di geogle pengen coba, maaf ya mbak jadi ke bangun," jawabku. "Nggak apa-apa, tapi mbak bisa minta tolong nggak jagain Raina sebentar, soalnya Mbak mau mandi dulu ada meeting di kantor," ucap mbak Sukma tanpa basa basi langsung menaruhnya di ruang tengah, agar aku bisa menjaganya. "Tapi Mbak, lagi nanggung nih masaknya," jawabku tanpa menoleh lagi kearahnya. "Duh, sebentar aja, dimatiin aja dulu kompornya, lagian kalau kamu mau masak itu mbok ya pagi-pagi bangunnya, jangan kesiangan gini jadikan aku bisa tolong kekamu, ya udah aku tinggal bentar aja kok mandinya cuma satu jam ndak lama, kan?" terangnya lagi dan pergi ke kamarnya lagi. "Apa satu jam dibilang sebentar, aku aja mandi paling cepat lima menit kata orang mandi bebek, kebiasaan mbak Sukma kalau nyuruh, kenapa nggak sekalian mandi dari tadi sebelum dibawa Raina keluar, jangan-jangan Raina belum dimandiin juga," gerutuku. "Ini, nggak bisa dibiarkan memang aku Baby siternya apa, kasihan Raina sudah nggak ada bapaknya sekarang ibunya nggak peduli, semua kebutuhan Raina aku siapkan, tetapi jika keluarga besar mas Ariel berkunjung seolah-olah dia yang mengurus segala keperluan Raina. Untung sudah selesai tinggal ditata di meja makan, lengkap dengan nasi panas yang masih ngepul, buah-buahan, tak lupa dengan air putih, dan dua teko sedang satu untuk s**u dan yang satu berisikan jus jeruk, mereka tinggal menikmatinya, sungguh baikkan aku? Akhirnya aku ambil alih juga Raina, sudah hampir satu jam mbak Sukma belum muncul batang hidungnya masih ngendap di kamar. "Assalamualaikum." "Walaikumsalam, Mas udah pulang kok lama, padahal masjid kan dekat rumah Mas?" selidikku. "I ...iya, tadi di ajak ngobrol-ngobrol dulu sama Pak Ustaz, nggak enak 'kan langsung pulang. "Selamat hari pernikahan sayang, I love you," kata mas Ariel dengan mengecup keningku. "Tumben baru sekarang, biasanya jam dua belas malam," sahutku dengan kesal. "Maaf ya Sayang, tadi malam mas lihat kamu tidur nyenyak, mungkin kecapean berbenah rumah, jadi nggak enak ngebangunin," kilah suamiku. Eh, Dek tau nggak apa yang diomongin Pak Ustaz tadi, sejuk banget kalau beliau bicara, tapi bentar ya mas mau ganti baju dulu," terangnya dan langsung menuju ke kamar. Selang beberapa menit, mas Ariel sudah berpakaian rapi dengan kemeja lengan pendek berwarna biru pastel di padupadankan dengan celana levis berwarna biru tua, terlihat sangat cocok dipakai mas Ariel dan kelihatan lebih tampan. "Loh mas, bukannya kata Mas kemarin libur, kok ini dandanannya rapi mau ke kantor? ucapku dengan heran. "Tadi bilang Mbak Sukma ada meeting dadakan, soalnya klien dari Singapura mau datang, tidak jadi hari Senin, terpaksa harus ke kantor," jawabnya. "Tadi Mas lupakan, sampai dimana tadi, oh ya Pak Ustaz bilang kalau suami boleh menikah lebih dari satu orang istri, yang penting bisa bersikap adil terhadap kedua istrinya, menurut Adek gimana?" tanya suamiku berlagak polos. "Mas-Mas, kamu sok lugu, polos padahal kamu sudah melakukannya, tinggal cari bukti apakah aku ini istri pertama atau istri keduamu, tamat riwayatmu mas?" gerutuku dalam hati. "Maksudnya gimana apanya Mas?" balik aku bertanya dengan polos juga. "Kok balik tanya sih, maksud Mas Adek setuju nggak seandainya Mas nikah lagi?" tanyanya lagi enteng. Aku yang mendengarkan itu, hampir limbung tapi aku tetap mempertahankan tubuhku agar tidak melayang. "Memang Pak ustaz nggak ngomong kalau yang mau dinikahi itu para janda tua renta, bukan janda cantik bahenol atau gadis muda yang seksi, nah kalau yang begituan berarti itu namanya nafsu sesaat atau memang doyan kawin, dan kalau itu terjadi sama kamu terserah kamu mas pilih dia atau aku," jawabku sekenanya. Mas Ariel terbatuk saat mendengar perkataanku tadi membuat aku semakin curiga. "Kenapa Mas? Minum air dulu mas," sahutku. "Kamu Dek, nggak kira-kira ngomongnya 'kan seandainya, mas ini cinta mati sama kamu nggak pindah kelain hati," ucapnya serasa ingin muntah. "Akhirnya keluar juga lama banget mandinya mbak, katanya sebentar," gerutuku. Sengaja aku mengalihkan pembicaraan Mas Ariel, alias malas berdebat ujung-ujungnya aku lagi yang akan disalahkan. "Iya, sorry biasalah namanya juga wanita, banyak perawatannya bukan kaya kamu di kampung yang mandi di kali,” ejeknya. Aku sudah biasa diperlakukan seperti itu pertama disanjung lalu dihempaskan. "Ini kamu semua yang masak Rum, wah menu baru langsung pas bumbunya, enak Rum, bisa gagal aku diet nih," ucapnya yang nyeleneh. "Mbak, Arum mau ke kamar dulu, mau ngambil cucian kotornya Mas Ariel." "Iya sana, sekalian ya Rum punyaku dan Raina, kamu 'kan tau aku sibuk banget ngurus perusahaan papa, jadi nggak ada waktu dan kuku juga baru dicat nanti rusak, maaf ya Rum," titahnya dengan enteng. Aku berlalu meninggalkan mereka di meja makan dan pergi ke kamarku. Saat ingin mengambil pakaian kotor suamiku, tiba-tiba HP- ku berbunyi dan kulihat nama dilayar ponsel itu Pak Alex. Ada apa Pak Alex menghubungi pagi-pagi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN