BAB 10 PERASAAN YANG TERSEMBUNYI

1055 Kata
"Tapi aku sudah memiliki janji!" seru Adeline tak terima. "Batalkan," ucap Leo tak peduli. Adeline mengatur napas, mengusir amarah akibat tindakan Leo yang semena-mena. Setelah tenang, dia memikirkan cara supaya dia bisa tidak membatalkan janji. "Kalau seperti itu ...." Adeline memalingkan wajah ke jendela. Menatap mobil-mobil yang bergerak di tengah ramainya lalu lintas ibu kota. "... Kita hentikan saja pernikahan ini," sambungnya seketika membuat William langsung menatap tajam ke arahnya. "Kamu berani mengancam—" "Kamu membuatku berani melanggar janjiku, itu artinya kamu juga bisa sewaktu-waktu melanggar janjimu padaku!" sergah Adeline. Kalimat Adeline membuat Leo tidak bisa berkata-kata. Sesaat hening samapi terdengar kekehan keluar dari mulut Leo. Dia tidak menyangka bahwa Adeline akan membalikkan keadaan. Dia mengela napas panjang sebelum akhirnya menyetujui keinginan Adeline. "Baiklah, jika kamu ingin pernikahan ini batal, maka aku akan menuruti semua keinginanmu," balas Leo penuh percaya diri. "Tunggu!" sergahnya. "Apa kamu akan benar-benar membatalkan pernikahan kita?" tanya Adeline tidak percaya. Dia hanya ingin membalikkan keadaan tadi. Adeline sama sekali tidak bermaksud pernikahan ini akan benar-benar batal. "Iya, aku akan mengabulkan keinginanmu," ujar Leo dengan senyum penuh kemenangan. Adeline memutar bola mata malas. Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan Leo yang memiliki tabiat tidak akan pernah mengalah. Apapun yang pria itu inginkan, pasti akan terwujud bagaimanapun caranya. "Tapi, aku sudah memiliki janji dengan temanku. Aku tidak mungkin membatalkannya karena dia hanya memiliki waktu siang ini saja." Adeline mengambil kedua tangan Leo dan menggenggamnya erat. Seketika Leo terkejut, jantungnya berdetak cepat. "Leo, aku tahu ini mungkin akan membuatmu marah atau tidak suka. Tapi, aku mohon, biarkan aku pergi menemui temanku," Adeline memohon. Sikap Adeline semakin membuat Leo tidak suka. Teman seperti apa yang sampai membuat Adeline memohon-mohon? Padahal ketika Adeline meminta Leo untuk berinvestasi di Kane Global saja, Adeline tidak sampai seperti ini. Bukankah itu berarti teman yang dimaksud Adeline adalah seseorang yang lebih dari sekedar teman? "Kamu yakin bahwa kalian hanya berteman?" tanya Leo tidak percaya. Adeline menganggukkan kepala. Dan gerakan biasa yang dilakukan wanita itu, malah membuat Leo terkesima. Sesaat Leo tidak berkata sesuatu apapun. Dia terdiam dengan tatapan yang sulit Adeline mengerti. Adeline menjadi kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. "Ehmm ... Leo? Apa kamu mengizinkanku untuk pergi bersama dengan temanku siang ini?" tanya Adeline dengan penuh kehati-hatian. Leo mengela napas panjang. Dia menarik kembali tangannya yang ada di genggaman Adeline. Memalingkan wajah, enggan melihat wajah wanita itu yang memohon padanya. Melihat reaksi William yang memang seperti tidak mengizinkannya, Adeline hanya bisa menerima. Saat ini dia memang membutuhkan bantuan pria itu untuk bisa mengembalikan lagi kejayaan perusahaan keluarganya. “Lakukanlah sesukamu," Leo menyerah melihat wajah kecewa Adeline. Mendengar kalimat itu, kepala Adeline yang sudah menunduk sedih, seketika langsung terangkat dan melihat pria yang sudah mengizinkannya pergi. “Benarkah? Kamu mengizinkanku pergi?” tanya Adeline meyakinkan. “Kamu tidak mau? Aku bisa—” “Tidak, tidak! Aku … terima kasih, Leo.” Adeline tersenyum cerah di depan Leo. Kemudian dia memalingkan wajah dan melihat jalanan yang mulai macet, entah sejak kapan lalu lintas menjadi padat. Tiba-tiba Adeline teringat dengan kejadian tahun lalu ketika dia harus berpisah dengan sahabat yang selalui ada bersamanya. Saat Adeline harus kehilang calon bayi yang sangat dia nantikan. Ketika mantan suaminya sibuk bekerja untuk mengalihkan rasa sakit kehilangan calon bayi mereka, meninggalkan Adeline seorang diri dalam kesakitan, hanya sahabatnya yang tetap setia menemaninya. Sampai suatu hari, sahabat Adeline terpaksa pergi ke luar negri karena urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Adeline harus berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan kembali kondisi kesehatannya pasca keguguran. Sang ayah juga sangat sulit dihubungi karena sedang berada di luar negri. Adeline pun mengingat dengan jelas mantan suaminya yang sudah jarang sekali pulang. Terkadang pulang hanya untuk berganti pakaian saja. Selebihnya dihabiskan di luar seakan tidak peduli dengan Adeline yang kesakitan. Adeline mengambil udara sebanyak yang dia bisa, lalu mengembuskannya perlahan. Hari ini sahabatnya kembali setelah setahun mereka berpisah dan kehilangan kontak. “Ehmm … Leo, kamu bisa menurunkanku di depan sana,” ucap Adeline menunjuk sebuah halte bus. Supir melirik ke arah kaca spion seakan sedang menunggu jawaban sang tuan. Beberapa saat kemudian, Leo menganggukkan kepala dan supir itu langsung menepikan mobil mereka. “Terima kasih karena sudah mengantarku.” Adeline membuka pintu hendak beranjak dari sana. Namun, tangan Leo menahannya membuat Adeline kembali duduk dan menatapnya. Leo tidak kunjung bicara, Adeliner bertanya, “Kenapa?” Lek hanya diam, kemudian dia melepaskan genggamannya dan kembali ke posisi duduk. Membiarkan Adeline dengan kepala penuh tanya dan menyuruhnya untuk segera ke luar. Adeline pun tidak ambil pusing. Dia juga memiliki pekerjaan yang harus dilakukan dengan Dalton sebelum dia pergi ke suatu tempat. Leo melihat kepergian Adeline dengan pandangan yang sangat tidak menyenangkan. Wanita itu terlihat sangat senang hanya karena akan bertemu dengan temannya. “Teman katanya?” Leo bergumam. “Teman tapi sesenang itu?” “Teman macam apa yang bisa sampai menyebabkan senyum cerah ketika akan bertemu? Bukankah reaksinya terlalu berlebihan?” Leo mengusap wajah dengan kasar dan melihat Adeline yang duduk di halte bus. Rasa ingin menghampiri sangat besar. Namun, dia juga merasa tidak wajar jika tiba-tiba menyuruh wanita itu kembali masuk ke mobil. Dia mengusap wajah gusar. “Argggg …! Sial!” serunya dengan nada penuh emosi. Suaranya sangat keras sampai membuat sang supir terkejut. Namun, tentu saja dia tidak peduli. Leo mengambil ponsel dari dalam saku jas kemudian menekan sebuah nomor dan menempelkan ponselnya ke telinga. Tak butuh waktu lama untuk menunggu panggilannya terjawab karena seseorang di sebrang sana sangat tahu sifat William yang tidak suka menunggu. “Kumpulkan semua informasi tentang Adeline Rothwell termasuk daftar teman-teman dekatnya. Kirimkan semua ke e-mail saya sebelum jam makan siang.” Pip! Leo menaruh kembali ponselnya tanpa melepaskan pandangan dari sosok Adeline. Ketika wanita itu masuk ke dalam bus, barulah dia pergi dari sana. *** Hari itu Adeline dan Dalton bertemu di sebuah restaurant untuk berbicara mengenai perusahan dan langkah apa saja untuk bisa mengembalikan kejayaan perusahaan. Setelah selesai berbicara dengan Dalton, Adeline langsung bergegas ke sebuah café. Tempat biasa dia bertemu dengan sahabat lamanya itu. "Astaga!" Adeline menepuk dahinya. "Aku terlalu memikirkan perusahaan sampai lupa bertanya sama Pak Dalton tentang aku menginap." Adeline menghendikkan bahu, biarlah nanti saja dia tanyakan lagi. Ada hal yang lebih penting dari ini. Adeline memesan secang hot coffe dan beberapa makanan ringan sebagai teman menunggu. Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah orang yang ditunggunya hadir. Bersambung~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN