Napas Adit tercekat, kini dihadapannya terpapar pemandangan yang begitu ironis, dengan mata terpejam tubuh mungil Andini bergerak liar. Lorong kemalluan mungil dan sempit milik istrinya yang selalu dibanggakannya, memaksakan melumat sebuah batang besar, lebih besar dari miliknya. “Aaaaghhhh, Ranggaaaa,” Andini terpekik saat Rangga mulai memberikan perlawanan, ini jauh lebih nikmat dari apapun, mata sendu yang menyiratkan kepasrahan menatap Rangga dengan mesra, namun sesaat kemudia terkaget saat mendapati tubuhnya tepat berada diantara kedua kaki suaminya yang menjuntai. “Maaasss, maaaf maasss, ini hanya sebuah permainan tantangaaaaannn,” “Aaaagghhhh,ooowwwwwhhh, ga kuaaaat, Andini ga kuat Masss,” tangan Andini terulur meraih tangan suaminya seiring tubuhnya yang bergetar hebat mendapat

