Semua orang mengidamkan pernikahan yang manis, indah, dan penuh dengan kenangan. Tapi tidak dengan gue yang gamau nikah.
Kalian bertanya-tanya kenapa gue gamau nikah? Gue bakal jelasin itu nanti.
Sekarang gue lagi fokus liatin baju dari Maria yang dia kasih sebelum pernikahannya.
Ini satu set kebaya dengan rok batik lilit yang ga gue ngerti cara pakainya.
Gue coba buka YouTube dan liat tutorial cara memakai rok lilit, untungnya ga susah-susah banget.
Setelah itu gue ngaca, tampilan gue masih kurang. Wajah harus dipoles makeup kayaknya.
Berhubung gue gapunya makeup, gue berniat ke salon buat minta dandanin.
Mahal sih, tapi ya gue juga gamau diketawain orang-orang.
Menurut gue sih itu etiket berpenampilan ya, menyesuaikan dengan orang-orang agar diterima masyarakat.
Buset dah bahasa gue.
Gue langsung chat Mbak Novi, seorang karyawan salon terdekat yang kosannya sebelahan sama gue.
Kebetulan kami seumur juga jadinya akrab gitu, hehe...
Tapi anehnya kami saling manggil dengan sebutan 'mbak'. Ga masalah sih, tapi kedengeran aneh aja kayaknya.
"Aduh mba Dira, cantik banget kebayanya. Rambutnya mau diapain, nih?"
Mbak Novi langsung menyambut gue setelah gue duduk di salah satu kursi salon dengan kaca besar di depannya.
Ga terlalu rame jadi ga ngantri juga dan langsung dilayani.
"Bebas deh mbak, asal jangan sanggul berat-berat. Bikin pusing. Makeup nya juga yang tipis-tipis aja. Aku juga ga ada pembersih wajah, nanti susah dihapus, hehe." Penjelasan gue bikin mbak Novi ketawa. Bukan merendahkan ya, dia emang suka ketawa apalagi gue kalo ngomong suka jujur banget gitu.
"Nanti minta punyaku aja di kosan, mbak. Aku dandanin yang cantik, yaa."
Gue nurut aja terus sekitar 20 menit riasan gue jadi. Gue melek pelan-pelan kan karena katanya dipakein bulu mata palsu.
Dan gue kaget dong gue bisa secantik ini. Bisa join jadi member Twice yang ke 10 ini mah.
"Wihh ini bukan aku kayaknya mbak, sampe kaget."
"Mbak Dira kan pada dasarnya cantik, jadi dipertegas aja wajahnya. Rambutnya juga ga ribet kok, cuma aku kepang sama dikasih jepit tusuk. Terus sedikit dikasih hairspray biar kaku. Nanti dishampoin juga ilang," jelas mbak Novi yang bikin gue puas dan berterimakasih banget.
"Duhh, makasih ya mbak. Aku puas banget!"
"Iya, mbak, sama-sama. hehehe...."
"Gojek aku udah dateng, aku langsung bayar ke kasir, deh. Sekali lagi makasih banyak, mbak!"
Gue langsung ngacir ke kasir buat bayar dan ngacir keluar salon sambil konfirmasi plat dan alamat pastinya.
***
Gue chat Jovan setelah sampai lokasi dan katanya dia udah di dalam.
Gue langsung aja masuk ke dalam lalu isi kehadiran dan masukin amplop ke box yang emang disiapin di sana.
"Jovan mana, ya? Katanya di deket panggung sebelah kiri..."
Gue jalan terus sampe ga sadar Jovan ada di sebelah gue.
"Weits bundaa!! Kamu cantik bangett. Jadi pangling!"
Gue kaget sama suara Jovan yang teriak kenceng banget. Emang sih rame, cuma ga seberisik itu. Suara dia malah yang bikin berisik. Jadi gue yang malu kan.
"Gausah teriak, sat."
"Nama aku Jovan Anggara Putra, bukan sat :("
-_-
"Anak-anak pada belum dateng?" Tanya gue sambil celingukan nyariin. Iya, biasanya mereka rombongan sama Jovan juga.
"Tuh, di pojokan sama gerombolan cewe-cewe temennya Maria."
Gue liat ke arah yang ditunjuk Jovan, tapi posisinya mereka di belakang para pacar cewe-cewe cantik itu. Wkwkw kasian.
Ga lama prosesi pernikahan dimulai. Acara adat jawa modern berlangsung dengan meriah dan ga lama kedua mempelai muncul dengan elegannya.
Sumpah Maria yang udah cantik jadi super duper cantikk. Menangis aku melihatnya :""
"Gantengan gue padahal."
"Heh."
Gue menegur Jovan yang bergumam di sebelah gue.
Iya, dia pernah nembak Maria tapi ditolak. Tapi untungnya masih berhubungan baik jadi ya masih temenan.
Atau mungkin Maria ga enak ya sama gue karena gue temennya Jovan? Gatau dah.
"Maria nolak lo karena lo blangsak kali. Ga ada masa depannya."
"Paham bener si bunda nih, wkwk." Jovan cuma ketawa denger omongan gue.
Setelah mempelai pengantin duduk di pelaminan, gue sama Jovan langsung serbu makanan.
Tau sendiri kan makanan di gedung tuh suka limit. Tapi ini beda sih kayaknya, makanan terus terusan keluar bor. Mantap.
"Bund, ayo ke depan dulu. Giliran foto."
Gue buntutin Jovan sama anak-anak yang lain padahal lagi asik makan sate padang.
Maria menatap gue dari pelaminan dengan senyum paling bahagianya. Gue ikut senyum sambil jalan kesana.
Beruntung gue ga ikutin saran mba Novi buat pake high heels, jadi ga oleng jalannya.
"Sneakers amat bund."
"Bacot." Gue kesel sama komenan Budi.
Dia di belakang gue cuma cengengesan setelah ngomong begitu.
"Selamat ya, Maria! Selamat menempuh hidup baru!!" Ucap gue seraya tersenyum pas salaman. Dia meluk gue sambil nangis bahagia. Gue cuma bisa puk-puk aja, gatau caranya biar dia lebih tenang seperti sebelumnya.
"Makasih ya udah dateng. Lo cantik banget, Dir. Gue pangling liatnya pas lo jalan!"
Gue cuma ketawa aja terus cameramen mengarahkan kita buat berpose di foto. Gue rasa sih sesi foto kita yang paling rempong, segala si Budi minta pose love sign segala. Geli sumpah liat cowo-cowo begitu-_-
"Mba, jepitnya jatuh."
Gue kaget karena ada yang nepuk pundak gue pas gue asik makan lagi setelah kelar foto-foto.
Gue nengok dan langsung liat dia. Dia cowo yang keliatannya seumuran gitu, tapi kayaknya bukan anak kampus.
Dia senyum sambil menyodorkan jepit rambut gue yang terlepas.
"Oh, makasih mas."
Setelah menerima itu, gue langsung taro di tas. Gue gamau pake lagi karena ribet, biar nanti gue langsung balikin aja ke mba Novi setelah gue balik dari sini.
Gue ngerasa mas-mas yang tadi ga langsung pergi dan malah ambil makan di sebelah gue.
Gue cuek-cuek aja sih sambil celingukan nyari Jovan sama yang lain. Mereka berasa hunting kulineran makanya mencar semua.
"Mbak temennya mempelai perempuan, ya?"
Gue nengok dan liat ternyata yang nanya mas-mas tadi.
"Iya," jawab gue singkat.
"Temen kuliah?"
"Iya."
"Ohh, kalo saya temen mempelai pria. Temen sekantor."
Serius gue ga nanya.
Tapi gue jadi tau kalo cowo di sebelah gue ini ga seumuran sama gue.
Dan dari cerita Maria ditelpon beberapa hari setelah dia kasih undangan, dia bilang calonnya itu manager perusahaan ortunya dan beda 5 tahun sama dia.
"Ohh, gitu," sahut gue sekenanya.
"Kuliah semester berapa, mbak?"
Ini orang kayak interogasi gue njir-_-
Gue tertolong dengan kedatangan Jovan dan yang lain buat ngajakin balik.
"Eh, lo bang!"
Eh? Jovan kenal?
***