Peraturan nomor 1: jangan pernah jalan di sebelah orang ganteng kalo gamau mendapat tatapan direndahkan dari orang-orang.
Gue gatau dia sengaja apa gimana, tapi dia malah bawa gue ke mall. Dan begonya lagi, penampilan gue ga rapih-rapih banget. Pake kaos oblong sama kulot 7/8, serta sendal jepit swallow warna kuning. Muka bare baru kelar mandi, dan posisi rambut masih setengah basah.
"Kenapa harus mall, sih?"
"Refreshing. Kamu mau makan apa? Mall nya baru buka, jadi masih fresh nih makanan."
Fastfood bukannya selalu fresh, ya? Kan baru dimasak semua-.-
"Terserah."
Satya lalu cekikikan, "ternyata kamu kayak cewe pada umumnya."
"Maksudnya?"
"Mau makan seblak mercon?"
Gue menggeleng. Udah gila kali pagi-pagi makan seblak.
"Tuh 'kan, hahaha..."
"Apa sih maksudnya?" Tanya gue keheranan.
"Ya 'kan biasanya cewe kalo ditawarin jawabnya terserah, kalo ditanya lebih spesifik malah nolak."
Gue mau ngakak tapi gue tahan. Iya juga ya, baru ngeh kalo gue begitu.
"Ketawa aja kayak biasa, gausah ditahan-tahan gitu. Saya 'kan mau kenal kamu lebih jauh, gausah jaim."
"Siapa yang jaim-_-" gue langsung mengelak sebal. Ini orang kayak dukun njir.
Kami akhirnya milih sarapan ke tempat yang menyediakan masakan rumahan dan membebaskan Satya buat mesen makanan buat gue. Toh dia bilang bakal bayarin.
"Langsung ngomong aja, saya gamau buang-buang waktu."
Satya lalu tersenyum dan berkata, "sabar dong, kita makan dulu."
Asli, gue berasa dikerjain. Gue pikir bisa langsung balik tapi ternyata dia nahan gue.
Gue diem aja sambil main Onet di ponsel.
"Dira. Nama panjang kamu Adira siapa?"
"Clarissa Putri."
"Cantik ya namanya, kayak orangnya."
Mata dia katarak apa gimana, sih bilang gue cantik? Tampang preman gini dibilang cantik-_-
"Kenalin, nama saya Satyavano Adhitama. Biasa dipanggil Satya. Umur 26 tahun."
Gue langsung natap matanya. Sumpah ya dia keliatan masih 22 tahun gitu. Masih cocok kuliah. Ya gue tau sih dia udah kerja, cuma ga nyangka aja umurnya jauh di atas gue.
"Ga keliatan tua ya? Hehe..."
Gue yakin dia pernah berguru sama Ki Joko Bodong. Bisa banget baca pikiran gue.
Tepat saat itu makanan dateng dan langsung gue santap.
"Heii pelan-pelan makannya. Saya ga bakal minta, kok."
Padahal gue niat bikin dia ilfeel terus ngejauhin gue. Ternyata trik ini ga berhasil buat Satya.
"Lo ga malu apa bawa orang kayak gue masuk ke mall begini?"
"Kenapa harus malu? Kamu kan cantik, menurut saya kamu yang apa adanya itu cantik banget."
"Tapi saya yang malu. Saya pikir kita ga bakal pergi sejauh ini." Gue jadi ikut-ikutan pake 'saya' 'kan ngomongnya-_-
"Kamu malu jalan sama saya?"
"Bukan gitu--"
"Maaf ya saya ga bilang, habis saya bingung dan di mobil kamu diem aja...."
Kita sama-sama diem. Gue juga bingung jadinya buat lanjutin makan.
"Setelah ini saya mau pulang."
"Tapi saya kan belum ngomong apa-apa."
"Saya udah persilahkan sejak awal kita duduk disini."
Satya kembali terdiam. Gue emang paling jago bikin orang kicep.
"Maaf ya, saya salah ajak kamu kesini."
Kan, jadi ga enak lagi gue-_-
"Yaudah, kelarin makan dulu baru ngomong." Gue memutuskan agar masalah ini cepat clear. Satya cuma senyum terus ngikutin gue makan sampe habis.
***
Sekarang kami udah balik ke mobil. Gue mengarahkan dia buat dateng ke cafe biar ngobrolnya lebih santai.
"Kamu sering ke cafe?"
Gue menggeleng. Menurut gue nongkrong di cafe itu boros, jadi jarang banget gue lakuin. Kecuali diajakin Maria atau Jovan dan kawannya. Tapi kalo Jovan lebih seneng mampir ke kosan gue sih buat pesta makan.
"Suka minum apa?"
Gue liat menu bar di depan counter, dan langsung milih minuman warna pink rasa stroberi.
"Selera kamu ga sinkron ternyata, hahaha..."
Kadang gue ga paham sama kata-katanya.
Setelah memesan kita langsung duduk di meja paling pojok. Sebenernya cafe ini juga belum terlalu rame sih.
"Kamu jadi tenang ya kalo perut udah kenyang."
"Maksudnya?" Lagi-lagi gue ga ngerti.
"Ya tadi sebelum makan kan ketus banget. Apalagi pas kelar jogging. Bikin istighfar."
Gue malu asli. Kejadian tadi pagi bener-bener bikin gue ga punya muka lagi saking malunya. Ngapain juga gue ambil minum dari tangan dia? Apa karena kurang fokus jadi butuh Aqua? Dan karena pikiran kacau jadi bertindak kayak begitu? Tau ah puyeng.
Gue terdiam, gatau harus respon gimana. Satya juga ga ngomong dan malah natap gue. Tatapannya tuh bikin salting gitu tau ga sih, ga senyum gitu rata aja ekspresinya.
"Kenapa liatin saya? Emang saya pisang?"
"Iya, saya 'kan monyet yang lagi jatuh cinta sama si pisang."
Gue terkesiap sama jawaban lugasnya. Baru kali ini ada cowo yang terang terangan ngomong begitu. Biasanya sekali nembak dan gue tolak, mereka udah benci setengah gila sama gue. Apalagi tampang preman gue mendukung buat dibenci.
"Kenapa bisa jatuh cinta?"
"Mau saya jelasin?"
"Engga."
"Yaudah."
Udah gitu doang?
"Jadi, mau ngomong apa?" Kata gue menyambung percakapan lagi.
"Sabar dong, minumannya aja belum jadi." Ucapan ini bikin gue pengen gebrak meja. Jiwa bar-bar gue harus bertindak kayaknya.
"Saya udah sabar dari sebelum makan. Sengaja ya bikin saya stay terus disini?"
"Iya, saya mau lebih lama nikmatin waktu sama kamu soalnya."
Sinting-_-
Gue memilih diam. Walau risih sama tatapannya, lebih baik diam daripada ajak ngobrol orang ga waras ini.
Ga lama minuman udah dateng dan langsung gue tenggak sampe setengah kurang dikit. Dan lagi-lagi Satya ketawa.
"Oke, saya mulai ya."
Gue meneguk ludah dengan keras. Ini mirip kayak interview sama hrd hawanya.
"Kamu mau tau saya kenal kamu dari mana?"
Gue ngangguk. Jelas lah, ini yang paling utama.
"Saya tau kamu dari pak Leonard, suami Maria. Dia nunjukkin foto teman-teman Maria saat itu karena dia tau saya sedang cari calon istri."
"Dari semua yang saya lihat, kamu yang paling menarik perhatian saya," lanjutnya yang bikin hati gue berdesir.
"Setelah itu, saya stalking sosmed kamu. Tapi ga banyak yang bisa saya dapat karena kamu ga pernah upload apapun disana. Dan kebetulan, saya kenal sama Jovan. Dia ngajak saya kerjasama sebagai client usaha dia. Disitu saya tau kamu temannya Jovan. Karena frustasi cari sendiri, saya langsung bilang aja sama Jovan."
"Sekian penjelasan dari saya. Ada yang mau ditanyakan?"
Beberapa detik otak gue blank, tapi langsung sadar lagi begitu kesadaran gue meresap ke otak kembali.
"Teman-teman Maria banyak yang cantik, 'kan? Kenapa harus saya?"
Satya ketawa. "Saya ga perlu yang cantik makeup kalo wajah polos kamu bikin saya kepincut." Lagi-lagi hati gue berdesir sama ucapannya.
"Buaya." Seakan-akan suara hati gue keluar dari mulut gue padahal gue ga bermaksud ngomong begitu.
"Kalo saya buaya, cewe saya dimana-mana dong."
"Emangnya engga?"
"Engga."
Gue jadi bingung mau nanya apa lagi ke dia. Dari penjelasannya sih udah jelas banget, dan keliatannya jujur.
"Tapi tadi lo bilang mau cari calon istri?"
Satya langsung mengangguk sambil senyum, "ya. Mau jadi calon istri saya?"
Gue terbelalak kaget. Dia frontal banget!
***