Bab 6

1042 Kata
Ting Tong Ting Tong Haikal terusik dari tidurnya karena bell rumah terus berbunyi, ia membuka mata dan melihat jam yang masih menunjukan jam 4 pagi, pantas saja tidak ada yang membuka pintu, bibi di rumahnya saja belum datang jam segini. Biasanya paling cepat bibi yang mengurus rumah datang jam 5 untuk menyiapkan sarapan dan bersih-bersih. Haikal berusaha bangun dengan bermalas-malasan. "Siapa yang bertamu sepagi ini?" ucapnya kesal. Ting tong Ting tong "SABAR!" Teriak Haikal kesal. Dengan tubuh yang masih linglung, ia memakai sendalnya sendiri, saking buru-burunya sendalnya sampai terbalik dan membuatnya mengumpat kesal. Ia kembali memperbaiki caranya memakai sendal dan berjalan menuju pintu utama rumahnya. Haikal membuka pintu dengan cepat, penasaran dengan sosok yang mengganggu tidur nyenyaknya. Namun ternyata tak ada siapapun di sana, ia mencoba melihat ke kanan dan kiri namun kosong, hanya lampu halaman rumahnya yang masih hidup yang terlihat di pelupuk matanya. Ia baru sadar saat melihat bahwa keadaan di luar masih cukup gelap, matahari baru akan mulai perlahan naik. "Siapa yang berani menjahiliku jam segini," Haikal makin kesal dan mengacak rambutnya. Baru saja ia akan masuk ke dalam rumah, kakinya tiba-tiba mengenai sesuatu di bawah lantai, membuatnya refleks menunduk. Haikal makin menunduk, memperhatikan apa yang ada di depannya, sampai akhirnya ia shock sendiri menyadari itu adalah bayi yang sedang tertidur di dalam keranjang bersama selimut yang menghangatkannya. "Bayi siapa ini? Kenapa bisa disini?" herannya. Gukk Gukkk Jack mengonggong ke arahnya, anjing itu memang sedari tadi berada di teras rumah seolah menjaga sang bayi. "Kenapa kau menuduhku," tegur Haikal ke arah sang anjing saat Jack seolah menuduhnya. "Oh jangan-jangan ini ulahmu! Kau yang membunyikan bell kan?" tuding Haikal pada sang anjing membuat Jack memandangnya malas, Haikal kemudian melihat bell rumah, itu sangat tinggi untuk digapai oleh seekor anjing. "Bukan kau, oke, lupakan soal bell, jadi dari mana kau mencuri bayi ini?" tuduh Haikal lagi ke arah anjing yang tak berdosa itu, Jack makin malas akan kebodohan sang tuan, ia sampai memalingkan wajahnya. "Beraninya kau membuang muka padaku," kesal Haikal. "Tapi ini tak mungkin kau, mana bisa kau menculik bayi. Jadi, siapa yang menaruh bayi di sini?" bingung Haikal mengangkat keranjang bayi itu dan membawanya masuk, udara pagi sangatlah dingin di luar. Meski tak tahu bayi ini milik siapa, Haikal tak mungkin tega membiarkannya begitu saja. Haikal meletakkan keranjang berisi bayi mungil itu di atas tempat tidur. Saat ia mengeluarkan bayi itu, ia menemukan banyak foto-foto USG, satu pakaian bayi dan sepatu, juga boneka kelinci kecil di sana. Namun yang menarik perhatian Haikal adalah sebuah surat kecil di sana. "Untuk Letnan Haikal Dewangga. Bayi ini adalah anakmu, anak kandungmu sendiri. Jangan membawanya ke panti asuhan atau meminta orang lain untuk merawatnya karena dia anakmu. Jadilah ayah yang bertanggung jawab untuknya dan lindungi dia. Bila kau tak percaya padaku kau bisa tes DNA. Aku sangat mengerti bila kau tak percaya dan tak masuk akal bagimu karena ini sangat tiba-tiba. Maaf memberikan anak ini padamu dengan cara seperti ini karena aku tidak memiliki pilihan lain, aku tak bermaksud meninggalkannya dan membiarkannya hidup tanpa seorang ibu. Tenang saja aku akan selalu berada di sisinya walau tak terlihat olehmu. Namanya Gabriel Dewangga. Semua data kelahirannya dan semua tentang dirinya ada di bawah keranjang ini. Demi keamanan Gabriel dan dirimu, tolong jangan pernah mencari tahu tentang diriku. Terima kasih, Letnan." Haikal menatap surat itu lalu menatap sang bayi yang kini sudah bangun. "Ini serius?! Tak masuk akal, aku bahkan belum pernah tidur dengan siapapun, apa lagi tidur dalam artian membuat anak," tawanya konyol, ia sama sekali tak percaya hal itu. Seingatnya ia tak pernah meniduri orang. "Apa ini penipuan?" Ngoeekkkkk Haikal panik saat bayi itu menangis dengan sangat keras. "Kenapa? Kenapa? Apa ini? aku harus bagaimana!" paniknya akan suara tangis itu. Gukkk Gukkk Jack menarik keranjang bayi hingga semua isinya berjatuhan dan mendorong botol s**u yang sudah tersedia di dalam keranjang bayi itu. "Ah, dia lapar?" gumam Haikal dan memberikannya s**u. "Bayi ini baru lahir, dia masih sangat merah. Dia pasti kedinginan di luar tadi," entah mengapa Haikal tiba-tiba begitu sedih melihatnya. Sambil menggendong sang bayi yang masih sibuk dengan botol s**u di tangan kanannya, Haikal duduk di depan meja kerjanya dan menatap layar monitor. Namun sialnya kamera halaman depan rumahnya malah rusak dan tak menemukan jejak apapun pada sosok yang meninggalkan bayi itu di depan rumahnya. "Apa dia sangat ahli menghancurkan cctv orang?" Haikal menghela nafas berat dan melihat Gabriel yang perlahan mulai tidur kembali. "Apa benar, bayi ini anakku?" *** Jaya dan Bayu bergantian melihat bayi yang terbaring di keranjang bayi yang ada di depan mereka. Dua polisi itu langsung pergi ke rumah Haikal saat Haikal bercerita dan meminta solusi tentang bayi yang muncul tiba-tiba di depan rumahnya. "Kalau ku liat-liat ini sepertinya memang anak mu," timpal Bayu melihat bayi itu bergantian dengan Haikal. "Bentuk bibirnya mirip," komentar Jaya. "Anak siapa yang kau perkosa Kal?" tanya Bayu dengan polos. Plak Haikal memukul kepala Bayu kesal hingga pria itu meringis sakit. "Enak saja! Aku belum pernah tidur dengan siapapun apa lagi memperkosa anak orang, lagipula aku ini polisi. Mana mungkin aku melakukan tindakan asusila seperti itu!" geram Haikal hingga Jaya dan Bayu mengangguk mengerti. "Mungkin kau mabuk dan lupa bahwa kau sudah memperkosa anak orang," namun Jaya lagi-lagi masih kurang yakin. "Iya Kau lupa," timpal Bayu, membuat Haikal mengacak rambutnya frustasi. "Semabuk-mabuknya aku, mustahil kalau aku tidak mengingatnya sama sekali. Paling tidak aku ingat bagaimana rasanya walau tidak ingat wajah wanitanya. Tapi aku sama sekali tak pernah merasa tidur dengan seseorang," yakin Haikal. "Apa aku melaporkannya saja ya? Siapa tahu ada yang kehilangan anak. Jadi rekan kita bisa mencari orang tuanya," tanya Haikal meminta saran. "Kal, bila sampai terbukti kau adalah ayah kandungnya dan kau melaporkannya, maka kau akan tertangkap karena menelantarkan anak dan ibunya, tidak lucu bila polisi menangkap polisi militer dengan pangkat letnan, mau ditaruh di mana wajahmu saat semua artikel memberitakan bahwa seorang letnan memperkosa dan menelantarkan anaknya sendiri?" nasehat Jaya panjang lebar. "Tes DNA saja, selain untuk meyakinkanmu, kau juga bisa mengambil tindakan nantinya. Kalau anak itu memang terbukti bukan anakmu kau bisa mencari kedua orang tuanya, tetapi bila terbukti anakmu maka kau harus bertanggung jawab padanya," lanjut Bayu. "Lagi pula anak ini sangat mirip denganmu," gumam Jaya mengendong sang bayi. Haikal memejamkan matanya, rasanya masalah hidupnya makin berat saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN