1

1031 Kata
1 Flozia POV Aku duduk gelisah di sofa ruang tamu rumah orangtuaku. Kukaitkan kedua tanganku di atas pangkuan tanda sedang gelisah. Mami di sampingku terlihat heboh bercerita dengan seorang wanita setengah baya yang sangat anggun yang kukenal sebagai teman dekat Mami sekaligus calon ibu mertuaku, Arra Pratama. “Raven sebentar lagi tiba, Flo. Dia masih di jalan menuju ke sini,” kata Arra manis. Aku tersenyum kaku, senyum yang benar-benar dipaksakan. Pagi ini aku akan dikenalkan pada calon suami pilihan ibuku, Raven Pratama, putra dari Arra Pratama yang sedang duduk anggun di depanku ini. Raven... aku mendesah namanya dalam hati. Seperti apa wajah calon suamiku ini? Aku cukup kenal dengan Tante Arra—begitu aku memanggilnya, tapi aku tak pernah kenal dengan anak-anaknya, karena selama ini bila bertamu ke rumah, Tante Arra hanya sendirian atau sesekali bersama temannya. Aku melirik gelisah pada Mami yang tersenyum ceria. Mami sangat senang saat akhirnya aku menurut dan menerima perjodohan ini. Aku benar-benar tidak ada pilihan. Ingin membawa calon suami sendiri ke hadapan Mami agar perjodohan ini tidak berlangsung, tapi aku tidak punya kekasih saat ini. Akhirnya, mau tidak mau, rela tidak rela, aku harus menerima perjodohan ini. Menikah dengan pria pilihan Mami. Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Dadaku berdebar tidak menentu. Apakah Raven yang dimaksud sudah tiba? Sesosok tinggi dan gagah muncul di ambang pintu. Aku mendongak dan sedikit terkesiap. Seorang pria tampan berkacamata hitam melangkah mendekati kami yang sedang duduk di ruang tamu. Bibirnya yang sedikit kecokelatan menunjukkan dengan jelas, bahwa ia adalah pria perokok. Entah mengapa, tiba-tiba saja darah mengalir ke kepalaku, membuat wajahku memanas. Bibir itu begitu menggoda membuat tanpa sadar aku menjilat bibirku sendiri. Ia melepas kacamatanya dan tersenyum. Seketika jantungku berdegup kencang, dia begitu tampan. Ah ralat, sangat tampan sebenarnya. Matanya berwarna cokelat terang dan bersinar nakal menggoda, terlihat sangat dominan dan mengintimidasi. Alisnya yang tebal dan rapi dengan rahang yang kukuh membuat ia terlihat seperti pria blasteran. Ah iya, dia pasti memang blasteran. Bukankah Tante Arra adalah wanita keturunan Jerman? Aku menatapnya sekali lagi. Dadaku seketika berdebar tidak nyaman saat sebuah kesadaran menusukku. Aku ingat. Dia Raven yang terkenal dengan predikat playboy itu. Aku memang tidak pernah berkenalan langsung dengannya, tapi aku kenal wajahnya dan tahu pasti sepak terjangnya. Teman-temanku sangat memuja pria ini, walau mereka tidak pernah dilirik Raven, bahkan sedetikpun. Astaga! Ternyata dia anaknya Tante Arra. Mami salah kali ini. Sangat salah! Kenapa Mami memilih pria playboy untuk menjadi suamiku? “Pagi, Mi, Tante, maaf telat,” katanya sopan. Dadaku berdegup makin kencang. Aku menggerutu dalam hati menyadari pesonanya yang begitu kuat menarikku. Suaranya yang terdengar berat dan penuh tekanan, begitu menggoda. Aku tahu, dia pasti pria yang sangat dominan. Pria hangat dengan sejuta pesona yang selalu membuat wanita tergila-gila. “Raven, Sayang, sini kenalkan, ini Flozia calon istrimu.” Itu suara Tante Arra, terdengar begitu renyah dan ceria. Aku menatap Raven dengan hati berkecamuk. Apa yang harus kulakukan pada pria setampan ini? Dia playboy sejati. Apa jadinya diriku bila menikah dengannya? *** Author POV Raven melepas jabatan tangan mereka. Dadanya berdebar halus saat menatap sosok cantik di depannya. Ini dia Flozia, calon istrinya. Setitik rasa lega mewarnai hati Raven. Flozia tidak sejelek bayangannya. Ia harus berterima kasih pada ibunya untuk yang satu ini. Mungkin ini sedikit bonus untuknya dari acara nikah paksa ini. Raven menatap penuh penilaian pada sosok di depannya. Wajah Flozia putih bersih dengan sedikit rona merah mewarnai pipi cantiknya, membuat ia terlihat semakin memikat. Tubuhnya langsing dan indah, yang seketika membuat Raven tersenyum dalam hati. Pasti rasanya menyenangkan sekali memeluk tubuh itu di atas ranjangnya. Ini adalah bonus. Benar-benar bonus untuknya. Tentu saja ia sangat betah dengan tubuh indah itu. Ia sudah membayangkan malam panjang penuh kenikmatan di atas ranjangnya bersama Flozia. Walau mungkin nantinya ia harus sedikit mengerjai Flozia karena membuatnya harus melepas masa lajangnya secara paksa, tapi yang jelas ia pasti puas. “Ehm!” Suara deheman ibunya membuyarkan lamunan Raven. Wajahnya sedikit memanas. “Raven, silakan duduk. Mau berdiri sampai kapan?” tegur Arra pelan. Raven tersenyum menahan malu. Ia duduk di samping ibunya, tepat di depan Flozia. Hmm.. bahkan wangi parfum Flozia sudah tercium oleh hidungnya dan mulai membangkitkan gairah primitif yang ada dalam dirinya. “Jadi hari ini kalian harus memilih cincin kawin, foto prewed, dan ke desainer untuk memesan pakaian pengantin, soalnya waktunya sudah mepet.” Raven mengerut kening mendengar kalimat ibunya. Mengapa mereka harus menikah secepat ini? Bukankah sebaiknya mereka diberi waktu lebih dulu untuk penjajakan? Untuk saling mengenal. Raven menggerakkan bibirnya untuk bersuara dan protes, tetapi urung saat mendapat tatapan penuh ancaman dari sorot mata ibunya yang ingin ia menurut. Raven menahan napas kesal. Tidak menyangka kisahnya akan berakhir seperti ini. Ia harus menikah dengan pilihan orangtuanya. Menikah dengan wanita yang meskipun menarik, tapi bukan yang ia cintai. *** Flozia POV Aku hanya diam membisu saat mau tidak mau, kakiku mengikuti langkah Raven memasuki sebuah toko perhiasan mewah dan megah. Raven sama sekali tidak mengajakku berbicara. Aku mengerti akan sikapnya, tentu saja playboy sepertinya sangat tidak ingin menikah. Entah apa yang ibunya lakukan hingga ia mau menerima perjodohan ini. Perjodohan yang menjadi awal sebuah pernikahan paksa. Raven memilih sepasang cincin titanium berhias berlian yang sebenarnya menurutku sangat mahal dan sangat berlebihan untuk pernikahan paksa ini. Setelah itu, dengan satu patah kata, Raven mengajakku keluar. Tujuan kami selanjutnya adalah studio foto untuk foto prewed dan butik untuk pemesanan gaun pengantin. Kata calon ibu mertuaku, pemilik butik ini bekerjasama dengan perancang terkenal dari Prancis, yang artinya pakaian pengantin kami nanti akan dikirim langsung dari Prancis yang pastinya dengan rancangan yang sangat mewah dan harga yang sangat mahal. Sepuluh menit kemudian, mobil sport mewah milik Raven terparkir rapi di pekarangan parkir sebuah studio foto yang kutahu sangat terkenal bagus dan... lagi-lagi mahal. Sekali lagi, tanpa bersuara aku mengikuti Raven memasuki gedung itu. Jujur, ada rasa kagum yang tiba-tiba saja datang menyapaku melihat bagaimana cekatannya Raven mengurusi semua ini. Ia berbicara dengan pengurus studio. Wajahnya yang tampan dengan rahang yang kukuh terlihat begitu menggoda saat ia terlihat serius. Tanpa sadar aku menjilat bibir, tidak tahu mengapa aku melakukannya. Tidak lama kemudian, seorang staf studio mengajak kami ke sebuah ruangan. *** bersambung ... Follow i********:: Evathink
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN