''Kau sedang apa?''
suara pria tiba-tiba masuk ke gendang telinga perempuan cantik yang sedang fokus dengan apa yang ia lakukan sekarang. Mata cantik itu terbuka sebelah, dan kembali menutup setelah menyadari jika orang tersebut adalah suaminya sendiri.
''Yoga.'' Jawab Alana singkat dan kembali konsentrasi menstabilkan pikiran dan juga emosinya yang naik turun sejak kemarin.
Tidak ada suara apapun dari Raffi setelah Alana menjawab pertanyaan pria itu, membuat Alana penasaran dan akhirnya menyelesaikan olah raganya. Mata Alana terbuka, dan yang pertama kali dilihatnya yaitu suaminya yang sekarang sudah sibuk dengan Ipad putihnya. Ck, tak bisakah pria itu melepaskan benda datar itu semenit saja.
''Mau sarapan apa?'' tanya Alana setelah lima menit memandangi suaminya yang tampan itu.
Alana baru menyadari jika Raffi Soeteja itu adalah pria yang tampan diusinya yang matang yakni 33 tahun. Dengan rahang yang tegas yang Alana yakini jika pria itu tipikal pria yang tegas dan berprinsip kuat. Apalagi mata tajamnya yang penuh intimidasi, Alana yakin jika mata itu sanggup membuat orang yang melihatnya enggan langsung bersitatap dengan matanya.
''Kamu mau memasak?'' tanpa melihat Alana, Raffi bertanya.
''Tak bisakah kamu menatap ku jika berbicara?'' gerutu Alana sebal. Membuat Raffi akhirnya mengalah dan meletakkan Ipad putihnya, lalu menatap Alana yang pagi ini menggunakan pakaian senam hingga bentuk tubuhnya tercetak jelas di baju hitamnya.
''Baiklah, apa yang ingin kau katakan?''
Alana menegakkan badan dan bersedekap membalas tatapan suaminya dengan berani. Membuat pria di depannya menaikkan alis kanannya. ''Kenapa?'' tanya Raffi kembali.
''Sepertinya kita perlu menambah kompromi tadi malam.''
''Kompromi?''
Alana mengangguk mantap, dengan wajah serius ia kembali berkata. ''Yup, kompromi tentang pernikahan kita dan kamu harus setuju. Karena bagaimana pun kamu tidak akan pernah melepaskan aku dari pernikahan ini, bukan?''
Raffi mengangguk, ''Lalu, kompromi seperti apa yang kamu inginkan dari saya?''
Mendengar itu, Alana seperti mendapatkan angin segar jika pria di depannya ini mau mendengarkannya, tidak seperti tadi malam yang harus berurat tegang. Dan Raffi yang melihat itu, menunggu apa yang akan menjadi kesepakatan mereka pagi ini.
Alana mengambil nafas, lalu menghembuskannya perlahan. ''Okey, Pertama kita harus saling mengenal satu sama lain. Tidak ada panggilan saya atau kau, cukup aku dan kamu.'' Kata Alana membuat Raffi mengangguk setuju, lalu perempuan itu kembali berkata.
''Kedua, tidak ada orang kedua, ketiga atau seterusnya dalam pernikahan ini. Cukup kita berdua saja. Dan jika kamu masih terlibat cinta dengan wanita di luar sana, aku harap segera kamu selesaikan secepatnya.''
''Semalam sudah saya katakana jika kamu wainta saya satu-satunya.'' Jawab Raffi, membuat Alana semakin mengeluarkan segala apa yang ia pikirkan tentang kesepakatannya dengan Raffi.
''Ketiga, tidak ada batasan dalam melakukan apapun. Kamu akan membebaskan aku dalam melakukan apapun yang aku suka. Dan aku akan membebaskan apapun yang kamu inginkan." Dan sekarang Raffi menggeleng tak setuju. Membuat Alana terdiam siap mendengar sanggahan dari suaminya.
''Untuk poin pertama dan kedua aku setuju, Tapi untuk yang ketiga saya tidak setuju.'' Jelas Raffi membuat wanita itu menatap tak suka pada pria itu.
''Kenapa?''
''Kamu istri saya, jadi saya sebagai suami berhak melarang kamu berbuat diluar kewajibanmu sebagai seorang istri. Saya membebaskan karir aktingmu, tetapi dengan batasan yang saya setujui dengan agensimu.'' Jawab Raffi lagi membuat Alana beranjak berdiri dengan siap menyangah penjelasan suaminya.
''Tapi itu duniaku sebelum menikah denganmu, Raffi!'' kata Alana tak terima.
''Dan dunia mu sekarang dengan aku, jika kamu ingat. Jadi tinggalkan dunia mu itu, dan belajarlah hidup di duniaku, sebagai seorang istri dari Raffi Soeteja.'' Putus Raffi final. Lalu berjalan meninggalkan Alana yang masih ingin protes tidak terima dengan keputusan sepihak dari suaminya itu.
''Raffi, aku tidak setuju!!''
Raffi menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap dingin wajah istrinya yang memerah penuh amarah. Berjalan mendekat kembali mendekati Alana, hingga jarak sejengkal yang memisahkan mereka berdua.
''Jangan pernah berteriak dan membantah saya, itu kompromi pertama dari saya. Dan kompromi yang kedua, jangan terlalu keras kepala untuk menerima statusmu sebagai istri saya, Alana!'' tegas Raffi dengan tatapan yang mematikan pada Alana yang diam tak berkutik di depannya.
***
Alana membanting apapun yang ada di depannya. Wajahnya merah padam menyimpan segala emosi yang tak tersalurkan dalam hatinya. Hilang sudah meditasinya tadi pagi gara-gara pria sialan yang sekarang merangkap status menjadi suaminya itu.
Drrttdd
Drrttdd
Drrttdd
Getar ponsel putih milik Alana membuat wanita itu melirik sekilas tanpa minat. Kakinya masih bertahan di tempat hingga getar ponsel itu kembali bergetar, dan ternyata nama Natya terpampang jelas disana.
''Ya, Nat?'' jawab Alana ketus.
''Gue gak tau ini bencana karir lo apa gak, Lan. Raffi Soeteja suami lo sudah membatalkan semua kontrak film dan modelling yang sudah kita setujui. Dan parahnya, dia juga terlibat dalam pembelian saham gabungan agensi kita. Lan!! Gue gak tau dia sengaja apa gak, tapi ini keterlaluan menurut gue!!'' jelas Natya panjang lebar diseberang sana, membuat Alana terdiam tak percaya.
''Lo gak serius kan, Nat?'' Tanya Alana meyakinkan dirinya sendiri. Baru sepuluh menit ia meninggalkan pria itu, dunianya yang sudah ia rintis sejak sepuluh tahun lalu harus berakhir begitu saja.
''Gue serius, Lan!! Dan lo harus tahu berita pernikahan lo menjadi trending dua hari ini. Apalagi diperkuat dengan pernyataan semua keluarga lo dan Raffi, dan gue harap lo segera memberi kepastian agar berita ini tidak menjadi gosip murahan yang semakin menghancurkan karir, lo.''
Alana menutup matanya dengan helaan nafas tertahan. ''Nat, gue tutup dulu ya.'' Kata Alana cepat tanpa menjawab penjelasan Natya tadi. Yang Alana butuhkan sekarang harus menemui Raffi Soeteja itu!!
***
''Apa yang sudah kamu lakukan pada karirku, Raffi!!'' teriak Alana murka pada pria yang duduk santai menikmati segelas kopi di kitchen island villanya.
''Berani-beraninya kamu melakukan hal itu tanpa sepengetahuanku. Apa mau mu sebenarnya!'' teriak Alana lagi, dengan wajah merah padam. Raffi yang mendengar itu tampak tak peduli, wajahnya masih saja sama datar dan dingin.
''Raffi, jawab!''
Raffi mengalihkan tatapannya pada Alana. ''Kamu, saya sudah bilang saya mau kamu Alana. Sebagai istri saya yang sesungguhnya, dengan dua kompromi yang sudah kita sepakati tadi." Jawab Raffi tegas.
''Saya akan mempertimbangkan kompromimu yang ke tiga, jika kamu sudah melakukan dua kompromi saya tadi Alana. Jadi silahkan memilih, dan saya harap kita secepatnya bisa menjadi suami istri yang sesungguhnya.'' Setelah mengatakan dengan arti tersirat itu, Raffi meninggalkan Alana yang masih mencerna penjelasan suaminya itu dengan emosi yang masih melingkupi dirinya.