Setelah jam kerjanya habis, Kintan pun pulang ke panti dengan lesu. Sepanjang jalan menuju panti, Kintan terus memikirkan perkataan Ibu Reyhan yang sangat melukai hatinya. Ibu Reyhan bèrdècíh. “Tidak salah kamu menanyakan itu?! Hahaha ... kamu memang benar-benar perempuan tidak tahu malu, seharusnya kamu sadar dengan posisi kamu! Kamu tidak pantas bersanding dengan Reyhan, anakku hanya pantas bersanding dengan perempuan yang sederajat dengan keluarga kami!” Ucapan ibu Reyhan benar-benar pedas. Kintan menghela napasnya, dalam hati ia menanyakan apakah seburuk itu hidupnya? Apa salah ia terlahir tanpa ayah dan ibu, lalu dibesarkan di panti asuhan? Ah, memang salah karena keluarga Reyhan berasal dari keluarga terhormat beda sekali dengan dirinya yang bahkan tidak tahu asal usulnya. Mungki

