Baby menunduk, tangannya saling menggenggam erat. Ia tampak bimbang, seperti ada rahasia besar yang enggan ia buka. Sementara Reigan masih menatapnya serius, menunggu penjelasan. “Ada yang belum kau katakan padaku, ya?” tanya Reigan lembut tapi menusuk. Baby mengangkat wajahnya perlahan. Matanya masih sembap. “Iya... tapi aku takut kau menganggapku aneh.” “Baby, aku ini bukan pria sembarangan yang bisa dikagetkan oleh hal-hal sepele. Kau tahu itu. Jadi katakan saja.” Baby menarik napas panjang, lalu menelan ludah. “Tato itu... bukan cuma sekadar gambar. Ada sesuatu tentangnya... tentang tubuhku...” Reigan mengerutkan alis. “Maksudmu?” “Setiap... setiap kali ada yang menyentuh area itu, tubuhku... bereaksi. Aku tidak bisa mengendalikannya, Rei.” Suaranya hampir tak terdengar. Sejenak

