Laki-laki yang Tak Bisa Diabaikan

862 Kata

Cahaya pagi yang lembut menerobos sela tirai kamar, menyinari wajah tenang Baby yang tertidur pulas di atas ranjang. Napasnya teratur, wajahnya damai—berbeda jauh dari beberapa malam sebelumnya saat ia selalu terbangun dengan mata basah dan jantung berdegup tak karuan. Kini, tubuhnya hanya terbalut selimut tipis, rambutnya berantakan di bantal, dan pipinya kemerahan akibat tidur panjang. Di sisi tempat tidur, duduklah Reigan, memandangi gadis itu dengan mata yang sulit dijelaskan—campuran rasa bersalah, cinta, dan kemarahan yang disimpan rapat-rapat. Ia menyentuh perlahan dahi Baby, memastikan suhu tubuhnya tetap normal. Tangan Baby menggeliat, tapi ia tak terbangun. Efek obat penenang yang diberikan dokter semalam masih bekerja dengan baik. Reigan menghela napas panjang. Ia ingat jelas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN