Langkah kaki Baby terdengar pelan tapi mantap di koridor kampus yang ramai. Gaun kasual yang ia kenakan membuatnya tampak segar dan anggun, rambutnya diikat tinggi, dan wajahnya dihiasi senyum tipis yang ia paksa pagi itu. Di sampingnya, Reigan berjalan gagah mengenakan kemeja hitam dan jas abu lembut yang membalut tubuh atletisnya. Sebelum turun dari mobil, Reigan sempat membelai kepala Baby lembut. “Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku. Jangan tahan sendiri, mengerti?” Baby mengangguk dan tersenyum kecil. “Terima kasih sudah antar aku, Rei.” Namun senyum itu hanya bertahan beberapa detik. Baru beberapa langkah memasuki area fakultas, udara di sekeliling Baby seolah berubah. Suara bisik-bisik terdengar samar. Tatapan orang-orang... menusuk, menyelidik, menghakimi. “Eh, itu dia ya?

