03 - Prasangka

1725 Kata
Min Jee's House Entah sudah keberapa kali Na Hyeon melipat dalaman berwarna milik perempuan. Kali ini tampilannya cukup ekstrim. Na Hyeon bergidik memikirkan dirinya memakai lingerie berwarna hitam dengan beberapa kaitan gesper dan lubang-lubang. Apa yang akan dikatakan Ha Joon? tapi jika Min Jee saja suka, bisa jadi suaminya juga sukakan? Na Hyeon mencoba mengusir pikiran-pikiran liar ini. Setelah beres merapihkan pakaian-pakaian Min Jee kedalam lemari. Na Hyeon juga menaruh dalaman tadi kedalam paper bag yang ia ambil dari laci yang ada diruang tengah. Rumah pribadi Min Jee tidaklah besar, ia bersih keras untuk tidak menuruti kemauan Kakek yang mau memberikan mansion untuknya. Hanya Na Hyeon yang ia beri tahu password rumahnya sehingga Kakak angkatnya ini bisa keluar masuk dengan bebas. Menjadi ibu rumah tangga kadang membuat Na Hyeon bosan ketika sang suami sudah beres ia urusi. Ha Joon juga melarangnya bekerja karena pendapatannya sudah besar sebagai seorang CEO dari salah satu perusahaan pangan yang diberikan Kakek Na Hyeon. Na Hyeon melipat kaki di sofa dengan segelas es kopi, acara drama yang ia tunggu akan dimulai lima menit lagi. Ponselnya berdering, pasti Min Jee sudah siap mengomel karena pesan yang Na Hyeon kirim mengenai pakaian dalam ekstrim itu. "Jangan bawel, aku sudah menaruh pakaian dalam kekasihmu dengan rapih. Kau bisa berikan untuknya." ["Buatmu saja, pakaian dalam itu masih baru."] Na Hyeon melihat layar ponselnya, Park Min Jee memang sulit ditebak, "Yak! Jangan gila! Ha Joon bukan tipikal pria bar-bar sepertimu," cetusnya dengan pipi yang terasa hangat karena malu membayangkan ia memakai baju vulgar itu. ["Kalau begitu buang saja Noona, apa susahnya? Aku tidak mau melihatnya!"] Na Hyeon menaruh es kopi di atas meja lalu mulai tidak lagi peduli pada Park Seo Joon yang sudah muncul di layar, "Kenapa? kau dicampakkan padahal itu pakaian mahalkan?" ["Aku beli sekitar enam juta dan dia menyiram wajahku siang tadi. Puas?"] Na Hyeon menutup mulutnya untuk meredam suara tawanya, "Kau bilang kau ini playboy tapi itu terus yang kau dapatkan." ["Mereka yang terlalu berekspektasi dan kecewa saat aku bukan Park Jimin BTS yang punya hati selembut malaikat, HAHA!"] Na Hyeon tidak suka tawa sinis terakhir itu jika wajah pria itu depannya sekarang, sudah pasti ia akan meremas pipi gembil Min Jee, "Tapi umurmu sudah kepala tiga, mau sampai kapan kau hanya bercinta dan bercinta? Lagi pula seleramu terlalu menyeramkan, mana ada wanita yang mau pakai itu?" ["Dia yang membelinya sendiri Noona dan bukan itu penyebab kita putus, jangan sok tahu perkara ranjangku!"] Na Hyeon bergidik dengan pembicaraan mereka kali ini, "Baiklah tapi sampai kapan sih kau begini? Mantanmu sudah lebih dari selusin Min Jee!" ["Sampai aku menemukan lubang yang pas!"] Dia memang tidak punya malu, "Menikah bukan hanya perkara s*x Min Jee!" ["Kalau begitu, itu bukan gayaku! Sebentar lagi aku pulang, mau kubawakan apa?"] Es kopi Na Hyeon sudah habis setengah sekarang, obrolan dengan Min Jee cukup menyita waktu, "Tidak perlu, aku mau pulang. Kau mengganggu pertemuanku dengan Park Seo Joon! Sudah ya! Jangan lupa makan malam, sudah kusiapkan semuanya." ["Noona, berhenti mengurusiku. Aku bukan suamimu!"] Na Hyeon hanya tertawa, "Jika aku punya suami menyebalkan sepertimu, pastilah dunia sudah kiamat! Tapi kau akan kuanggap sebagai anakku sebagai gantinya. Bye Min Jee-ah, Love you MMUUACH!" Na Hyeon tertawa kecil, Min Jee paling kesal diperlakukan sebagai anak-anak. - Na Hyeon's House Makan malam yang sudah disiapkan Na Hyeon terlihat dingin dan tidak lagi menggugah selera. Ha Joon bahkan tidak mengabari apakah pulang atau tidak. Na Hyeon merapihkan makanan-makanannya dan tidak sengaja menyenggol paper bag yang ia bawa pulang tadi dari rumah Min Jee. Ia geli sendiri, bagaimana mau pakai baju begini. Tau suami pulang atau tidak saja hal yang langka. Kesuksessan Ha Joon membuahkan hasil, tidak hanya segala harta yang ia berikan tapi juga waktu yang mereka miliki perlahan semakin tersedot. Na Hyeon mematikan lampu setelah semua sudah rapih. Ia membawa paper bag dan menaruhnya didalam lemari gantung. Membuang pakaian setipis ini dengan harga enam juta bukan perkara mudah bagi ibu-ibu seperti Na Hyeon. Baru saja merebahkan diri, telinga Na Hyeon yang begitu mengenal mobil sang suami langsung membuat wanita itu beranjak. Ia mengambil kimono dan bergegas turun ke lantai bawah untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, aroma alkohol tercium dari tubuh sang suami tapi ia berdiri dengan tegap saat masuk kedalam rumah. "Sayang, apa kau minum?" Na Hyeon mengambil tas kerja yang Ha Joon taruh diatas sofa. "Tidak, hanya menemani klien, aromanya begitu kuat ya?" "Iya. Apa kau mau makan atau mandi?" Ha Joon membuka jasnya dan tersenyum menanggapi sang istri, "Aku sudah mandi dan makan jadi aku hanya mau tidur karena besok aku harus bangun jam empat. Jangan telat ya," Ha Joon mendaratkan kecupan pada pipi sang istri. Mungkin karena sudah lama tidak disentuh, Na Hyeon refleks menahan kerah baju Ha Joon dan mencium bibirnya. "Aku sangat lelah Hyeon-ah, mengerti ya," Ha Joon mengerang sembari menjauhkan diri. Penolakan ini terasa pedih karena sudah lebih dari tiga minggu mereka tidak melakukan apapun selain ciuman singkat tapi apa yang bisa Na Hyeon lakukan selain mengangguk. Ia pun mengikuti Ha Joon sampai kamar. Sayang sekali hanya bisa memandangi tubuh indah sang suami sembari menelan saliva. Na Hyeon teringat ucapan salah satu temannya untuk membeli dildo. Apakah ini saatnya? Pikiran Na Hyeon semakin tidak beraturan. Sebelum terlelap, Ha Joon biasa tidur menghadapnya dengan Na Hyeon mengusap-usap dahi Ha Joon agar sang suami nyaman. "Hmm Joon-ah, boleh aku bertanya sekali saja?" Pinta Na Hyeon hati-hati. Ia menggigit bibir bawahnya, sedikit was-was dengan respon Ha Joon. Ha Joon membuka matanya lagi, "Boleh, ada apa?" "Bolehkah aku membeli alat bantu s*x?" "Beli saja." Cepat sekali, butuh waktu lama untuk berani menanyakan ini. Benaknya berpikir kalau Ha Joon akan marah dan menceramahinya habis-habisan tapi jawaban yang Ha Joon berikan terlalu cepat. "Kau tidak masalah?" "Tidak, itu urusanmu. Aku tidak akan ikut campur." "Tapi sayang, teman-temanku bilang suaminya sangat marah saat tahu istrinya mau membeli barang ini." Ha Joon tertawa kecil, tangannya yang besar mengusap lengan Na Hyeon, "Maaf ya karena aku tidak bisa memuaskanmu beberapa waktu ini karena aku sangat sangat lelah Hyeon-ah. Kau masih memiliki hak untuk kenikmatan itu jadi beli saja, beli yang paling mahal yang ukurannya persis sama denganku. Akan ku minta asistenku mencarikan tempat custom untukmu. Okay? itu bukan masalah bagiku." "Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" Pertanyaan ini mengundang pandangan sinis dari Ha Joon. "Bisa tidak kau berhenti memancingku dengan pertanyaan anak remaja? Aku sudah memberi apa yang kau inginkan, jangan menguji kesabaranku Lee Na Hyeon." Seperti dilemparkan batu, hati Na Hyeon pecah berkeping-keping, "Tidakkah kau tahu yang benar-benar kuinginkan itu dirimu?" Ha Joon menepis tangan Na Hyeon, ia langsung membalik tubuhnya. Tidak lagi menjawab tapi tubuhnya jelas terlihat menyimpan amarah. "Aku tidak pernah memaksamu memenuhi yang kuinginkan, jadi berhenti menuntutku." Na Hyeon tahu apa maksud suaminya. Air mata luruh detik itu juga. Bagi Ha Joon permintaan untuk bercinta dengannya hanyalah tuntutan yang sudah tidak lagi menyenangkan. Perlahan Na Hyeon kembali kedalam selimut bersama isak tangis yang tergantikan dengan dengkuran pelan setelah ia kelelahan. - Keesokkan paginya Ha Joon tidak jadi berangkat kerja pagi-pagi. Ia memiliki hati nurani untuk menebus ucapan yang membuat Na Hyeon menangis semalaman dengan sarapan bersama. Na Hyeon sudah berias diri dengan dress berbahan sutra berwarna pink salem yang cantik dengan renda di sekitar belahan d**a rendah. Ia menaruh secangkir teh dimeja kecil disamping Ha Joon. Berita pagi ini menyedot konsentrasi Ha Joon. "Sayang, sarapannya enak tidak?" Ha Joon mengangguk dan begitu menoleh ia tersenyum, "Enak." "Bagaimana dengan bajuku? Ini designku sendiri." Ha Joon menyeruput teh sembari menikmati pemandangan sang istri, "Boleh juga." "Bagaimana kalau aku sekolah fashion?" "Untuk apa?" "Untuk memiliki kegiatan yang lain. Apa kau mau lihat koleksi gambarku?" Cangkir yang Ha Joon pegang ia taruh dengan kasar hingga tehnya tumpah ruah. "Aku salah lagi?" Ha Joon mengibaskan tangannya, "Bisa tidak sekali saja kau tidak merusak moodku berada dirumah ini? Aku sudah mengorbankan pagi ini hanya untuk sarapan dan minum teh begini tapi apa katamu? sekolah diumurmu yang sudah 35 tahun. Harusnya kau sudah menyekolahi anak daripada kau yang sekolah." Na Hyeon terdiam menatap wajah Ha Joon yang berbicara tanpa lagi belas kasih, "Iya seharusnya memang aku punya anak jika saja aku bisa." "jangan terus-terussan mengasihani dirimu. Hiduplah jadi istri yang patuh. Aku sudah memenuhi segalanya, apa itu tidak cukup untukmu?" Posisi Na Hyeon pantas disandingkan sebagai istri tidak tahu diuntung sekarang. Ha Joon mendekatinya dan memeluknya dengan erat, "Aku akan berusaha membahagiakanmu sayangku jadi kumohon bersabarlah. Aku tidak mau kau kelelahan." "Tapi aku sama sekali tidak lelah Aku butuh kegiatan selain menghabiskan uangmu dengan istri-istri temanmu atau teman-teman sekolahku! Min Jee bahkan selalu minta aku berhenti mengurusnya atau Kakek!" Ha Joon menangkup wajah Na Hyeon dan mengecup lembut bibirnya, "Kau pasti bosan ya? Baiklah, aku mengalah. Kita pergi ke paris selama satu minggu, kau sukakan?" Na Hyeon menggelengkan kepalanya, "Tidak Joon-ah, bukan itu yang aku inginkan." Ha Joon menjauhkan dirinya dari Na Hyeon. "Jika seandainya kau bisa hamil, pasti kau tidak akan rewel begini tapi aku lelah Hyeon-ah! Aku berusaha untuk tidak membahas ini denganmu atau siapapun. Bahkan aku yang disalahkan atas ini semua lalu kau menuntutku untuk bercinta denganmu terus-terusan dan sekarang apalagi? sekolah, kerja, apa yang ada dipikiranmu sih?" Na Hyeon duduk, lututnya begitu lemas mendengarkan penuturan Ha Joon. Suaminya begitu meledak lalu tanpa mendengarkan ucapan Na Hyeon ia masuk kedalam rumah. Sejak awal pernikahan memang Ha Joon sudah mewanti-wanti Na Hyeon untuk meninggalkan dunia kerja. Ia tidak suka dengan wanita karir karena Ha Joon tidak pernah merasakan kasih sayang ibu. Ibunya wafat saat ia berumur lima tahun. Na Hyeon mengejar Ha Joon yang hendak pergi dari rumah. "Kumohon jangan pergi Joon-ah." Ha Joon mengusap wajahnya, "Kau tidak mau menurutiku terus untuk apa aku disini?" Na Hyeon mengangguk dengan cepat, mengusir perasaannya lagi, "Aku tidak akan membahas ini lagi tapi jangan pergi. Kumohon." "Kau mau ke paris denganku?" Na Hyeon mengangguk, "Baiklah. Aku mau." Ha Joon mengusap pipi sang istri, "Jawab yang benar sayang." "Aku mau sayang, ayo kita liburan." "Disana aku akan liburan sambil kerja jadi kumohon kau mengerti ya?" Mau tidak mau, suka tidak suka, pekerjaan adalah kunci bagi kehidupan mereka berdua jadi Na Hyeon setuju. Ha Joon berteriak pada asisten rumah mereka dan meminta mereka untuk membantu Na Hyeon menyiapkan segalanya. Mereka akan berangkat untuk penerbangan nanti malam. Ha Joon yang semula terlihat tidak b*******h, kini penuh dengan semangat menyiapkan liburan mereka walaupun suasana hati Lee Na Hyeon masihlah mendung. -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN