Bagian 7 - Facing Versaline (II)

1636 Kata
"Ada binar-binar dari sorot matanya yang tak luput dari penglihatanku. Dan sejak itu aku tahu, perasaan ini memang telah mencapai batas akhir." ~Valerie Genneth. *** Versaline tampak memperhatikan dengan perhatian penuh. Selama Valerie mengambil jeda untuk memikirkan apakah dia akan memberi tahu semuanya. Perihal hubungannya dengan Gosse pada sang kakak, atau apakah sebaiknya perempuan itu berpura-pura tidak mengenal sosok Gosse saja. Mencoba memilih mana kira-kira yang akan menyisakan luka lebih sedikit dari dua opsi yang tersedia, nyatanya Valerie kembali dihadapkan pada fakta bahwa kedua pilihan tersebut sama-sama membawa luka. Hingga kemudian bibir perempuan itu terbuka dengan hati yang terasa amat berat, guna menggumamkan jawaban. "Aku mengenalnya," kata Valerie pelan sekali. Maniknya masih bersitatap dengan manik sang kakak, yang lantas tampak bergerak kecil untuk menanti jawaban selanjutnya. "Dia adalah ... seniorku." Versa tampak melebarkan manik sekarang. Bahkan tanpa sadar perempuan berambut coklat itu membuka bibirnya untuk membentuk huruf 'O', sungguh tidak menyangka bahwa semesta akan menggores takdir seindah ini untuk mereka. "Oh, Val!" Versa berseru. "Kau serius dengan itu? Maksudku, kau benar-benar mengenal seorang Gosse Armour?" Nada suara Versa melonjak naik, yang jelas sekali menyiratkan bahwa perempuan itu juga sedang mengalami lonjakan rasa bahagia sekarang. Sebagai seseorang yang mengenal kakaknya sejak dia lahir, Valerie tahu bahwa Versa adalah tipikal orang yang mudah mengekspresikan sesuatu. Versa adalah wanita yang ceria dengan senyum yang senantiasa menghiasi bibir, dan menjadi pusat perhatian sudah dekat sekali dengan image perempuan itu. Terpaut hanya hampir dua tahun dengan Versa, nyatanya putri kedua keluarga Genneth memiliki kepribadian yang amat bertolak belakang dengan putri pertama. Tidak seperti Versa yang mudah tertawa, lantas mudah menangis atau marah, Valerie tumbuh dengan darah introvert di tubuhnya. Jika Versa lebih menyontoh sikap dan perilaku sang ibu yang tidak jauh berbeda, maka Valerie mengambil hampir 80% sikap dan perilaku yang diturunkan oleh sang ayah. Keduanya mengerjap, menyadari beberapa detik baru saja berlalu dalam keheningan. "Iya," sahut Valerie. Mencoba sebisa mungkin menjaga nada suaranya, dia tidak ingin Versa yang peka itu menyadari bahwa ada yang berbeda kini. "Jadi, Gosse adalah orangnya?" Demi apa pun, lagi-lagi pikiran untuk bergabung dengan klub teater begitu saja terlintas. Versa mendesah samar. "Kau benar, itu dia," sambutnya dengan senyum yang merekah. "Anak tertua dari keluarga Armour, yang katanya akan melanjutkan bisnis ritel keluarga mereka. Sekarang ayahnya, Leo Armour, yang masih memegang kendali atas semua." Valerie berusaha bernapas dengan baik. Tampaknya meski belum mengenal sosok Gosse, tetapi Versa pastilah sudah sedikit banyaknya tahu mengenai latar belakang lelaki itu. "Sepertinya kami seumuran, Val," ucap Versa riang. "Bukankah dia juga berada di tahun terakhirnya tahun ini?" Valerie mengangguk. Ada begitu banyak hal yang ia ketahui mengenai Gosse, yang rasanya tidak rela untuk dia bagi pada orang lain. Namun bagaimana ekspresi bahagia di wajah kakaknya sukses melunturkan hal itu, saat kini perlahan demi perlahan Valerie berubah bersedia untuk memberitahu apa pun mengenai Gosse. "Kau benar," Valerie kembali menyahut. "Apakah kalian sudah pernah bertemu? Atau apakah kau hanya mengetahui tentangnya dari kabar yang diberikan Ibu?" "Kami belum pernah bertemu," Versa tampak berpikir sejenak. "Kabar itu datang begitu saja, Val. Aku bahkan tidak tahu kapan Ibu mengatur pertemuan dengan keluarga Armour. Beberapa hari yang lalu, Ayah memanggilku untuk berbicara serius mengenai hal ini." Menarik sebuah bantal bermotif Mickey Mouse, Valerie memperbaiki posisi duduknya dengan menyelipkan bantal itu di atas pangkuan. Sepertinya kehadiran Versa di kamarnya akan menghabiskan waktu cukup lama, dan meski hatinya berdenyut nyeri sejak tadi, Valerie tahu dia harus tetap tegak dan menghadapi ini semua. "Tentang pernikahan?" pancing Valerie. "Apa yang membuat semuanya terasa begitu terburu-buru?" Kali ini Versa yang menarik sebuah guling bersarung berwarna coklat muda, mengikuti gerakan Valerie untuk memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih nyaman. Bahkan kaki perempuan itu yang tadinya menggantung di tepian ranjang, kini ia naikkan untuk kemudian duduk bersila. "Entahlah," Versa masih tampak berpikir. "Kau tahu hal seperti ini akan terjadi pada orang-orang seperti kita, Val. Perkenalan, lantas perjodohan, yang berakhir dengan pernikahan. Bukankah seharusnya kita sudah bisa menebak hidup seperti apa yang akan kita jalani di depan sana?" Sebagai salah satu keluarga yang memiliki darah bangsawan, tentulah kedua putri keluarga Genneth itu tahu dan memahami tradisi apa yang mungkin terjadi di sekitar mereka. Meski tidak lagi hidup di zaman perjodohan seperti dulu, namun perlu diingat bahwa tradisi jodoh-menjodohkan akan selalu ada. Dan ternyata, keluarga mereka masih menganut paham yang belum berubah. "Sepertinya ini tidak terburu," Versa mengoreksi tebakan Valerie. Mengangkat bahu, perempuan itu melanjutkan. "Kudengar dari Ibu bahwa Gosse akan mengambil alih perusahaannya dengan satu syarat. Tuan Leo Armour meminta agar lelaki itu menikah, dan entah bagaimana akhirnya itu berakhir padaku." Denyutan di hati Valerie terasa semakin jelas dari detik ke detik, terlebih ketika kini Versa berbicara seakan-akan Gosse memang telah ditakdirkan untuknya sejak dulu. "Dan kau tidak keberatan?" Valerie asal bertanya. "Apakah kau langsung menyetujui perjodohan ini, Versa?" Meski Versa adalah kakaknya, namun Valerie telah terbiasa memanggil perempuan itu dengan sebutan nama. Versa melemparkan senyum. Menghela napas cukup dalam, sebelum kemudian bergeser untuk maju dan mempersempit jarak yang terbentang antara dirinya dan sang adik. "Kurasa tidak, jika itu adalah Gosse Armour," katanya setengah berbisik. "Bukankah dia adalah lelaki yang 'so hot item'?" Valerie tidak tahu apakah dia harus terbahak atau malah menitikkan air mata. Bagaimana Versa mendeskripsikan Gosse sungguh menyentil hatinya, yang lantas membuat perempuan itu kini tertawa kecil kemudian. Membiarkan visual Gosse kembali hadir di pelupuk mata, Valerie menganggukkan kepala karena kini amat setuju dengan apa yang dikatakan Versa mengenai Gosse. Lelaki itu memang 'so hot item'. Tidak hanya so hot item, namun Gosse bagi Valerie adalah lelaki sempurna yang diharapkan mampu membuatnya bahagia. Setidaknya, hingga siang hari tadi. "Katakan, Val," pinta Versa kini. "Bagaimana Gosse? Bisakah kau ceritakan mengenai dia untukku?" Kali ini Valerie yang menarik napas dalam-dalam, menahannya beberapa detik sebelum kemudian mengembuskan seraya memohon kekuatan untuk memenuhi permintaan sang kakak. Bagaimana rasanya menceritakan seseorang yang kau kagumi pada orang lain? Itu semua sangat awkward, namun sungguh Valerie tidak memiliki opsi selain membuka suara. "Gosse adalah ... seseorang yang amat baik," ucap Valerie memulai penjelasannya. "Kami bergabung di klub memanah sejak aku mahasiswa di tahun pertama, dan dia adalah salah satu senior dengan keahlian yang amat mumpuni." Versa menarik senyum. Dalam hati juga tidak menduga betapa kecil dunia yang mereka tempati ini, sebab siapa yang menyangka ternyata calon suaminya adalah senior dari adiknya sendiri? Tadinya Versa ingin meminta bantuan Valerie untuk mencari info mengenai Gosse. Namun ternyata dia tidak perlu menunggu, sebab sepertinya Valerie mengenal Gosse dengan cukup baik. "Dia memiliki senyum yang ramah," sambung Valerie lagi. "Selama kami berada di klub yang sama, tidak pernah kulihat dia memarahi atau menaikkan nada suara seperti yang senior lain lakukan. Kau tahu, Versa, ada begitu banyak orang yang ingin menjadi pemanah profesional, padahal berdiri tegak saja mereka selalu bergetar." Versa membiarkan tawanya menggema di udara. Valerie Genneth memiliki kemampuan untuk menyampaikan cerita dengan amat baik, dan itu menurut Versa, adalah salah satu hal yang menjadi daya tarik adiknya. "Astaga...." "Itu benar!" Valerie setengah berseru. "Dan kau tahu, senior kami di klub memanah bukanlah orang yang berhati malaikat." Tawa Versa berangsur memelan, selaras dengan perhatiannya yang kembali tertuju pada ada cerita Valerie. "Benarkah?" Valerie mengangguk. Menarik kembali memori tepat ketika ia baru saja bergabung dengan klub memanah dua tahun lalu, perempuan itu melengkungkan sebaris senyum. "Para senior menggunakan momen perkenalan anak baru untuk melakukan perpeloncoan di klub," jelas Valerie lagi. "Beberapa dari mereka sengaja mengerjai kami, terutama untuk mereka yang memegang busur dengan cara yang salah. Namun, ada beberapa senior yang tidak melakukan hal demikian, memilih untuk hanya memperhatikan dari ujung lapangan." Nada suara Valerie melembut. Seiring dengan visual Gosse yang kembali menyapa, perempuan itu membiarkan binar matanya bertemu dengan sorot mata Versa. "Gosse adalah salah satunya," Valerie kembali melanjutkan. "Dengan tangan yang bersilang di depan tubuh, dia hanya memperhatikan dan sesekali memberi arahan. Sejak saat itu, aku tahu bahwa Gosse adalah lelaki yang berbeda dari senior kami yang lain." "Dia baik?" tebak Versa tiba-tiba. Valerie tersenyum. "Tidak hanya baik," katanya. "Dia juga mengayomi, tanpa membedakan mana junior yang memiliki kemajuan lebih lambat dari yang biasanya. Dia dengan sabar menjelaskan, memperbaiki posisi kaki, bahu, dan tangan, hingga juniornya merasa tidak enak karena kerap kali merepotkan." Versa menautkan jemari. Pikiran perempuan itu membumbung jauh, berupaya untuk membayangkan bagaimana kira-kira sosok Gosse yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. "Bagaimana menurutmu, Val?" Versa membuka suara. "Apakah sekiranya aku dan Gosse akan menjadi pasangan yang cocok satu sama lain?" Menahan segala rasa sakit yang menjalar, Valerie lantas menarik sudut bibir setelah beberapa detik mengambil jeda. Mengayunkan tangan untuk ini menangkup punggung tangan kakaknya, perempuan itu mengangguk tanpa keraguan sedikit pun. "Jika itu Gosse, maka kurasa kau tidak perlu khawatir." Valerie bersyukur dia terbiasa menyembunyikan perasaan selama ini, dan berharap agar Versa tidak menyadari bahwa ada yang terluka di antara mereka sekarang. "Kau akan bahagia, Versa. Aku yakin, Gosse akan menjagamu dengan sangat baik." Versaline mendengarkan dengan seksama. Lagi-lagi bersyukur bahwa sang adik ternyata telah mengenal calon suaminya sebelum dia, dan sungguh penuturan Valerie tadi membuat Versa kini seratus persen yakin untuk menerima perjodohan yang diatur oleh dua keluarga. Jika Valerie memuji Gosse sedemikian rupa, maka Versa sungguh tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. "Terima kasih, Val." Bergerak pelan, Versa menarik Valerie ke dalam pelukannya. Melingkarkan lengan di leher sang adik, putri tertua keluarga mereka itu berbisik dengan nada lembut sekali. "Aku senang kau mengenal Gosse," ucapnya. "Setidaknya, kini aku yakin bahwa dia adalah lelaki yang baik dan tidak boleh dilewatkan begitu saja." Membalas pelukan sang kakak yang terasa hangat, Valerie berjuang agar degupan keras jantungnya tidak diketahui oleh Versa. Menggerakkan tangan untuk mengusap punggung sang kakak, Valerie mengangguk pelan. "Kudoakan yang terbaik untuk kalian," ujarnya setengah berbisik. "Untukmu dan Gosse, kupastikan hanya doa terbaik yang akan mengiringi pernikahan dan kehidupan kalian nanti." Senyum Versa merekah, disusul dengan anggukan setuju yang terjadi berulang kali. Tidak menyadari bahwa Valerie kini menatap nanar ke arah dinding, merasakan hatinya hancur berkeping-keping. ~Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN