05. Sosok Sebenarnya

1388 Kata
Tangis Aletha kini sudah mulai mereda. Semalam dia digempur habis-habisan oleh Kafka. Pria itu seperti binatang yang tidak kenal puas. Sekeras apapun Aletha memohon, pria itu tetap tidak mau berhenti. Dan sekarang, Aletha merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Gadis itu mencoba bangkit dari tempat tidurnya, namun bergerak sedikit saja sudah membuat tubuhnya nyeri luar biasa. Lagi-lagi Aletha ingin menangis. Kenapa tidak ada yang memberitahunya kalau ‘bercintaa’ ternyata semenyakitkan ini? Saat Aletha sibuk mengendalikan rasa sakitnya, terdengar suara ketukan di depan pintu. Tanpa pikir panjang Aletha langsung menyuruh orang tersebut masuk. “Permisi, Non. Ini saya bawakan sarapan buat Non Aletha. Saya juga diminta Tuan Kafka untuk membantu Non Aletha membersihkan diri,” ucap Maureen dengan sopan. “Kenapa Bibi Maureen yang ke sini? Mira kemana?” tanya Aletha bingung. Hanya Mira yang Aletha perbolehkan masuk ke kamarnya. Aletha hanya mempercayakan kebutuhannya diurus oleh Mira—pelayan pribadinya. Tidak ada pelayan lain yang boleh mengurus kebutuhannya selain Mira. Tapi akhir-akhir ini Aletha tidak pernah melihat Mira lagi. Apa yang dilakukan gadis itu sampai tidak sempat mengurus kebutuhannya? “Mira sudah nggak bekerja di sini lagi, Non.” Informasi dari Maureen membuat Aletha terkejut. “Apa? Kok bisa?” Aletha tidak ingat pernah memberhentikan Mira, jadi kenapa gadis itu tiba-tiba berhenti dari pekerjaannya? “Tuan Kafka yang memberhentikan Mira. Nggak cuma Mira, tapi setengah dari jumlah pelayan di sini juga diberhentikan Tuan Kafka,” ujar Maureen. “A-apa? Tapi kenapa? Mereka salah apa sampai harus dipecat?” “Tuan Kafka ingin pekerja di rumah ini melakukan pekerjaannya dengan lebih efektif. Menurutnya, jumlah pelayan di rumah ini terlalu berlebihan.” Mata Aletha berkilat marah. “Dia pikir dia siapa?! Berani-beraninya memecat orang yang bukan pekerjanya?!” Ini tidak bisa dibiarkan. Semakin didiamkan, Kafka semakin semena-mena. Pria itu bertingkah seolah memiliki kuasa atas rumah ini. Kafka mungkin memiliki kuasa penuh atas perusahaan, tapi tidak dengan rumah ini. Ini masih rumah kakeknya, yang otomatis juga milik Aletha. Pria itu tidak punya hak mengatur sesuatu yang bukan miliknya! *** Sebenarnya Kafka agak berat meninggalkan Aletha di rumah dalam keadaan kurang sehat akibat ulahnya semalam. Namun mau bagaimana lagi? Saat ini dia punya tanggung jawab besar yang tidak bisa dia tinggalkan seenaknya. Pria itu terlihat menghela napas panjang, seolah memiliki beban ratusan ton di punggungnya. Matanya melirik ke papan nama di meja kerjanya yang bertuliskan jabatannya yang baru. CEO Adhitama Group Kafka tersenyum miris membaca jabatan mentereng yang kini harus diembannya. Banyak orang berpikir kalau Kafka beruntung karena bisa ada di posisinya yang sekarang ini. Orang pikir Kafka senang dan bangga dengan jabatan ini, namun nyatanya tidak. Dibandingkan senang, Kafka lebih merasa tertekan. Dia takut tidak bisa mengemban amanah yang diberikan kepadanya. Kafka takut mengecewakan banyak pihak. Ratusan karyawan menggantungkan hidupnya pada perusahaan ini. Bagaimana jika dirinya gagal? Suara ketukan dari luar membuyarkan lamunan Kafka. “Masuk,” suruhnya sambil berusaha menampilkan sisinya yang penuh wibawa. Dari luar, Kafka mungkin terlihat penuh percaya diri. Dengan skill bisnisnya yang luar biasa di usia muda, wajar jika Kafka bisa se-percaya diri ini. Namun tidak banyak orang yang tahu kalau sebenarnya Kafka adalah sosok yang pemikir. Sejujurnya, pria itu sering berada di titik ragu akan kemampuannya sendiri. Kafka juga manusia, dia juga pernah merasakan yang namanya insecure. “Ini laporan keuangan yang kamu minta kemarin. Sudah ada rincian lengkapnya sejak bulan Januari sampai dengan bulan ini.” Irene—sekretaris Kafka, menyerahkan dokumen tebal tersebut pada pria itu. Kafka menerima dokumen tersebut dan mempelajarinya sekilas. Wajahnya tampak serius. Tanpa sadar Irene terus memperhatikan wajah serius itu. Selain sebagai bos, Kafka juga merupakan sahabat sekaligus pacar Irene—Ah tidak! Lebih tepatnya mantan pacar. Hubungan mereka sudah berakhir karena Kafka sudah memutuskannya tepat sebelum pria itu menikahi cucu Arnold Adhitama—pemilik perusahaan sekaligus orang paling berjasa di hidup Kafka. Setiap kali mengingat itu, hati Irene kembali berdenyut sakit. Tidak ada yang lebih sakit dari merelakan cinta demi kebahagiaan orang lain. Dirinya dan Kafka berpisah demi keinginan Arnold. Pria tua itu dengan egoisnya mengorbankan Kafka demi bisa menjaga cucu manjanya. “Kita harus atur ulang arus kas perusahaan. Untuk sementara, kita harus memangkas biaya operasional yang nggak terlalu penting. Aku juga akan bicara ke kepala tim pemasaran untuk mendorong produk ke margin tertinggi. Kita harus bisa survive, sebelum suntikan dana dari investor cair.” Irene menatap Kafka dengan wajah prihatin. Dia kasihan pada pria itu karena harus berjuang mati-matian mempertahankan perusahaan seorang diri. Adhitama Group saat ini sedang berada di ambang kehancuran akibat ulah keponakan Arnold Adhitama yang tidak becus menjalankan tanggung jawabnya. Mereka seperti segerombolan tikus yang mengemis jabatan pada Arnold Adhitama. Namun begitu diberikan, sekumpulan tikus itu tidak bekerja dengan semestinya dan justru terindikasi menggelapkan uang perusahaan. “Kamu harus segera menangkap tikus-tikus itu dan mengeluarkannya dari sini. Percuma kamu berjuang mati-matian menyelamatkan perusahaan kalau sumber masalahnya masih berkeliaran di sini.” Kafka menghela napas panjang. Wajahnya terlihat begitu lelah. “Aku tahu. Aku juga sedang berusaha mengumpulkan bukti-bukti untuk mengeluarkan mereka dari sini.” “Tapi untuk saat ini aku ingin fokus menyelamatkan perusahaan dulu. Kerugiannya belum terlalu banyak, masih ada kemungkinan untuk kembali bangkit,” ujar Kafka lagi. “Kamu sudah bekerja keras,” puji Irene. “Kamu juga,” balas Kafka seadanya. Kemudian, Kafka sudah kembali tenggelam pada berkas-berkas di tangannya. Akhir-akhir ini wajah Kafka selalu tegang. Irene selalu mendapati kening Kafka berkerut dalam—tanda bahwa pria itu sedang banyak pikiran. Saat Kafka sibuk dengan laporan di tangannya, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring hingga membuat pria itu menghela napas berat. Dengan terpaksa Kafka meletakkan laporannya sejenak ke atas meja. Kafka mengecek ponselnya. Anehnya, begitu pria itu mengecek layar ponselnya, Irene menyadari raut wajah Kafka yang tak setegang sebelumnya. Bahkan Irene mendapati sedikit senyum di wajah yang selalu tegang itu. “Kenapa?” Pria itu berbicara melalui teleponnya. “Kenapa Mas Kafka pecat Mira tanpa seizinku?!” Senyum Kafka semakin lebar. Irene jadi penasaran, siapa yang menelepon hingga membuat Kafka tersenyum selebar itu? “Gimana keadaan kamu? Udah mendingan?” “Jangan mengalihkan pembicaraan!” “Dilihat dari cara kamu bicara, sepertinya kondisi kamu memang sudah jauh membaik.” Lagi-lagi Kafka mengatakan hal yang tidak ada kaitannya dengan pertanyaan Aletha. “Kenapa kamu pecat Mira? Dia itu pelayan pribadiku, kenapa Mas Kafka bertingkah seenaknya begini?” “Kita bicarakan masalah itu nanti di rumah. Sekarang aku lagi sibuk.” Kafka mematikan sambungan telepon sebelum Aletha sempat melayangkan protes. Namun Kafka masih mengamati layar ponselnya dengan senyum geli di bibirnya. “Siapa?” tanya Irene dengan wajah tidak suka. “Bukan siapa-siapa. Nggak penting juga.” “Nggak penting tapi kamu senyum-senyum begitu.” Kafka mengernyit begitu menyadari ketidaksukaan dalam nada suara Irene. Gadis itu bertingkah seperti seorang istri yang tidak suka melihat suaminya tersenyum karena wanita lain. “Apa itu Aletha?” tanya Irene lagi. “Ya,” balas pria itu singkat. “Sepertinya kehidupan rumah tangga kalian berjalan dengan cukup baik,” sindir gadis itu. “Begitulah,” balas Kafka seadanya. “Walaupun sering membuatku sakit kepala, tapi hidup bersama Aletha ternyata nggak seburuk itu,” ucapnya jujur. Jawaban jujur itu tentu membuat Irene tidak senang. “Kamu sudah mencintai dia?” tuduh Irene. Kafka hanya terkekeh, menyadari betapa lucu pertanyaan yang ditujukan Irene padanya. “Aku? Mencintai Aletha? Itu hal yang konyol,” ujarnya dengan sisa tawa di bibirnya. Saat ini Kafka memang menikmati kehidupan rumah tangganya bersama Aletha. Melihat Aletha yang menangis, marah, dan kesal membuatnya sangat terhibur. Tapi apakah dia sudah jatuh cinta pada gadis itu? Tentu saja tidak! Jatuh cinta pada Aletha tidak pernah ada di kamusnya. “Benar, kamu nggak boleh mencintai dia. Kamu harus ingat apa yang sudah gadis itu lakukan ke kamu di masa lalu. Aletha itu nggak lebih dari gadis sombong. Jangan tertipu dengan wajah polosnya,” pinta Irene dengan wajah serius. Sesaat, Irene dapat melihat keterkejutan di wajah Kafka. Ucapan Irene berhasil membuatnya sadar. Dia seolah ‘dipaksa’ untuk mengingat kenangan buruknya bersama Aletha di masa lalu. “Kamu benar. Dia memang nggak lebih dari gadis sombong…” “Dan juga pembohong,” lanjut Kafka sambil menerawang jauh. Ingatan-ingatannya di masa lalu kembali menyadarkan Kafka akan sosok Aletha ‘sebenarnya’. Beberapa hari tinggal bersama Aletha, membuatnya hampir lupa dengan apa yang sudah gadis itu lakukan padanya di masa lalu. Akhir-akhir ini Kafka terlalu terlena dengan kehidupan barunya. Beruntung ada Irene yang mengingatkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN