Malam itu, Aurelia meninggalkan Hotel Imperial dengan langkah ringan tapi hati yang bergejolak. Damian masih terlelap di ranjang suite, sementara dirinya memilih pulang diam-diam. Nafasnya masih terasa berat, namun pikirannya sudah dipenuhi dengan strategi selanjutnya. Begitu menuruni lobi hotel, langkahnya terhenti. Di depan pintu kaca, ia melihat pemandangan yang tak pernah ia duga. Septimus berdiri tegang, wajahnya merah oleh emosi, sementara Bella menatapnya dengan air mata yang tertahan. Suara keduanya cukup keras untuk terdengar. “Jangan paksa aku, Septimus. Aku tidak mau melakukan itu,” Bella membentak, nada suaranya bercampur tangis. “Aku tidak akan menggugurkan kandungan ini!” Aurelia terbelalak. Kandungan? Bella hamil? Darahnya berdesir. Di balik dinding marmer hotel, ia bers

