Abraham menatap handphone-nya dengan terkejut, matanya membaca ulang terus tulisan di layar handphone-nya. Dia sedang duduk di ruang tengah rumahnya sambil menatap lampu yang menyala di tengah taman kecil di hadapannya. "Brahm, kira-kira kapankah cinta datang karena terbiasa bisa terjadi, mengapa aku tak bisa menyukai sahabatku ini?" ketikkan yang Schumann kembali muncul di layar handphone-nya. Selama ini dia berpikir semua itu hanyalah kebetulan -kebetulan kecil, saat Sarah bercerita tentang kehidupan sehari-harinya. Namun saat dia mulai bercerita tentang opor ayam yang memakai pala, hanya itu terlalu banyak kebetulan-kebetulannya, dan ciuman mereka. "Dasar bodoh, bagaimana bisa dia berpikir kalau dia akan meninggalkan dirinya hanya karena mulutnya bau pete?" pikir dia bahkan tidak me

