“Eh, iya obatnya manjur.” Senyum Abraham dengan aneh, namun yang lebih aneh adalah saat merasakan jemarinya bertaut dengan jemari Sarah. Jantungnya seakan berhenti berdebar. Sarah menatap Abraham yang masih tersenyum kepada pihak keamanan hotel itu saat memasuki taksi. Tangannya besar dan terasa hangat, Sarah sangat menyukai genggaman tangannya, mereka bergandengan hanya sampai di dalam taksi. Pria itu segera melepaskan tangannya. Dengan kecewa Sarah menatap Abraham. “Maaf, tadi siang kamu mabuk, jadi aku harus menggendongmu masuk, pihak keamanan bertanya, jadi aku … Saya harus berbohong, mengatakan kamu,... istriku,” ucap pria itu tergagap karena salah ucap lagi. Abraham terbatuk untuk menutupi perasaan anehnya. Jemari Sarah terasa sangat pas di dalam tangannya. Begitu pas, sampai rasa

