Esok hari sebelum Richard berangkat kerja ia terlebih dahulu menyantap sarapan bersama dengan Sierra. Hanya ada suara sendok yang bertabrakan dengan piring. Sierra berdehem hendak mengutarakan keinginannya. “Ehem, ehem.”
Richard tampak tak terpengaruh dan tetap melanjutkan kegiatan sarapannya. Sierra pun berdehem sekali lagi dan lebih keras. Richard lalu meliriknya “katakan saja apa maumu,” katanya.
Sierra tersenyum “em, apa kau tidak akan mengajakku bulan madu?” tanya Sierra.
Richard meletakkan sendoknya kemudian ia terkekeh geli tak henti-henti.
Sierra mengerutkan dahi “kenapa?” tanyanya.
“Kau bilang kau terpaksa menikah denganku tapi sekarang kau meminta bulan madu?” Richard tertawa terbahak-bahak.
Sierra merengut merasa sindiran Richard sangat menohok “kalau kau tidak mau ya, sudah,” ketusnya kemudian berhenti makan dan beranjak dari tempat duduknya.
“Memangnya kau mau ke mana?” tanya Richard yang secara otomatis menghentikan langkah Sierra.
Sierra tersenyum merasa ada angin segar yang meniupnya “aku mau keliling Eropa atau paling tidak ke Pulau Dewata,” jawabnya.
Richard mengagguk-angguk pelan masih sibuk dengan sarapannya sementara Sierra menunggu jawaban berikutnya.
“Jadi?” tanya Sierra.
“Aku akan pikirkan itu sekaligus menyesuaikan dengan jadwalku,” jawab Richard setelah suapan terakhirnya.
Sierra mengangguk-anggukkan kepala kemudian tersenyum manis “aku akan menunggu jawaban bagus,” katanya.
Richard kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil jas yang ia letakkan di sofa “aku pergi ke kantor dulu,” katanya.
Sierra diam beberapa detik mencari kata-kata yang biasanya diucapkan istri saat suaminya akan pergi bekerja “ya, em, hati-hati di jalan,” katanya dengan mata kebingungan.
Richard melirik Sierra sejenak penuh arti kemudian pergi dari rumah.
***
Saat sudah petang Richard akhirnya pulang ke rumah. Saat itu Sierra sedang menonton film kesukaannya di televisi. Begitu mendengar pintu terbuka Sierra cepat-cepat beranjak. Richard langsung menuju ke kamar sambil melepas dua kancing bagian atas kemejanya.
Sierra pun menyusulnya. Dilihatnya Richard langsung merebahkan diri seakan ia baru saja memindahkan batu seberat satu ton sejauh 50 mil. “Jadi, bagaimana bulan madunya?” seloroh Sierra.
Baru saja Richard akan menghela napas “apa kau tidak lihat aku baru saja pulang, semestinya kau sambut aku dan buatkan minuman, kau kan istriku, kau harus bisa melayaniku,” protesnya.
Sierra merengut “membuat minuman? Minumanku sendiri bahkan bukan aku yang membuatnya, kau kan punya banyak pelayan kenapa harus aku yang membuatnya,” omelnya “pokoknya aku mau kita segera berangkat bulan madu sebelum perutku semakin membesar karena aku tidak mau kelihatan gendut di foto,” lanjutnya kemudian membanting pintu dan keluar kamar.
Mendengar omelan Sierra Richard baru bisa menghela napas panjang. Tampaknya ia harus ekstra bersabar memiliki istri seperti Sierra. Ini demi anaknya, anak yang sangat dinantikannya sejak dulu.
***
Saat makan malam tiba Sierra berkali-kali melirik Richard. Ia melipat bibirnya dan tampak menyesal mengingat kejadian tadi. Saat ia melihat Richard mengangakat tangannya ia cepat-cepat mengambilkan lauk.
“Ini, kau ingin tambah lauknya kan?” kata Sierra sambil meletakkan satu potong daging di piring Richard.
Richard melirik Sierra dengan tangannya yang masih mengambang di udara. Ia melanjutkan gerakan tangannya “aku mau menuangkan air dalam gelasku, lagi pula piringku sudah kosong,” jawab Richard sambil mengambil teko di depan Sierra.
Sierra melongo melihat gelas dan piring Richard yang kosong. Ia kemudian tersenyum sambil garuk-garuk kepala “oh, aku tidak melihatnya,” gumamnya.
“Kau sendiri kenapa hanya mengaduk-aduk makananmu saja?” tanya Richard “apa kau tidak suka makanannya atau tidak enak menurutmu?” tanyanya lagi.
Sierra baru sadar kalau makanannya masih utuh dan kini bentuknya sudah tak mengundang selera makan lagi “bukannya tidak enak, tapi…” ia tidak berani meneruskan niatnya yang sebenarnya karena tadi sore ia sudah ketus pada Richard.
“Kenapa?” tanya Richard.
“Perutku sedikit tidak nyaman,” dalih Sierra lirih nyaris berbisik.
Richard langung berdiri “tidak nyaman bagaimana, apa kau mual, katakana saja,” katanya cemas.
Melihat reaksi Richard membuat Sierra terkejut “ah, em, entahlah, aku tidak nyaman saja, mungkin aku hanya butuh istirahat,” jawab Sierra cepat-cepat mencari alasan.
“Kau mau kubantu ke kamar?” tawar Richard sambil mendekat ke kursi Sierra.
Sierra menganggukkan kepala pelan.
Kemudian dengan hati-hati Richard membantu Sierra berdiri. Sierra pun berpura-pura lemah agar Richard tidak mengatahui maksudnya yang sebenarnya kemudian ia dimarahi dan malah tidak akan ada bulan madu ke Pulau Dewata.
Perlahan mereka berjalan memasuki kamar. Richard yang melihat Sierra seakan kesulitan berjalan pun tiba-tiba menggendong Sierra hingga gadis itu nyaris berteriak. Sierra tak menyangka Richard akan tiba-tiba menggendongnya menuju ke kamar. Ia sampai mendelik tetapi pria itu tak melihatnya dan lebih fokus dengan langkah kakinya yang sangat hati-hati.
Setelah sampai di kamar Richard meletakkan Sierra di ranjang dengan hati-hati. Ia meletakkan Sierra dengan posisi tidur supaya gadis itu merasa nyaman. “Bagaimana, apa masih tidak nyaman?” tanya Richard.
“Sudah lebih baik,” jawab Sierra.
“Jika kau merasakan sesuatu langsung katakan saja padaku, kandunganmu masih muda, jadi ini mungkin akan merepotkan dan mengganggu karena kau harus ekstra dalam menjaga kandunganmu, jika aku tidak di rumah kau bisa hubungi aku, aku tidak akan mematikan ponselku, atau kau bisa langsung hubungi dokter, nanti aku akan kirimkan nomor pribadinya bila perlu aku akan suruh dia ke sini jika kau tidak bisa datang padanya,” kata Richard panjang lebar penuh dengan nada kecemasan.
Sierra hanya mengangguk-angguk saja.
“Sekarang, apa kau ingin sesuatu?” tanya Richard.
“Aku ingin bulan madu ke Pulau Dewata,” jawab Sierra dalam hati sambil menggigit bibirnya “aku hanya ingin tidur,” jawabnya akhirnya.
“Baiklah, aku akan ke ruang kerja dulu, ada yang harus kukerjakan tapi tidak banyak, aku akan segera kembali jika sudah selesai,” kata Richard.
“Baiklah,” jawab Sierra.
Richard kemudian merapatkan selimut Sierra lalu pergi meninggalkan Sierra dalam kamar. Sementara Sierra kini sibuk dengan keinginannya yang terpendam. Ia ingin mengutarakannya tetapi tampaknya tidak bisa sekarang.
Richard yang baru saja sampai di ruang kerja yang berada di samping kamarnya dengan Caren dulu pun langsung mendapat telepon. Ia cepat-cepat menjawab telepon itu begitu melihat nomor yang tertera pada layar ponselnya.
“Ya, bagaimana?”
“Benarkah, mereka tinggal di sana sekarang?”
“Awasi mereka terus, jangan sampai kau lalai.”
Telepon ditutup.
***
Richard pun meneruskan pekerjaannya yang terbilang sedikit tetapi ternyata memakan waktu lebih dari dua jam. Setelah menyelesaikan pekerjaannya ia kemudian kembali ke kamar. Begitu sampai dilihatnya Sierra sudah terlelap dengan nyaman di tempat tidur.
Ia berdiri sambil menatapi perempuan kasar yang sebenarnya cantik itu. Saat tertidur perangainya yang arogan itu tertutupi wajah ayunya yang bagaikan seorang dewi. Bulu mata lentik, pipi kemerahan juga bibir yang mengilat menambah aura kecantikannya.
Richard kemudian menurunkan pandangan matanya. Selimut Sierra sudah melorot sampai ke pinggang. Tanpa sengaja ia melihat daging empuk yang menyembul dibalik gaun tidur tampak mengintip sedikit dan berusaha merayunya. Richard pun mengerjap. Apa yang baru saja ia lihat itu? Apa yang ia pikirkan?
Richard membuang muka menghindari agar matanya tak melihat hal-hal yang akan menggodanya sebagai seorang lelaki. Tetapi ia ingat bahwa ia telah menikahi Sierra dan adalah hal yang wajar jika ia menginginkannya.
Richard kemudian mengembalikan matanya pada Sierra lagi. Tetapi gadis itu sudah merubah posisinya. Ia menyamping membelakangi Richard sambil memeluk guling dengan nyaman.
Richard pun mendengus. Bahkan tertidur saja perempuan itu masih menciptakan batas di antara mereka. Apa benar perempuan itu tak menginginkan sebuah masa depan bersamanya, di tengah keadaannya yang sudah jatuh dan tertimpa tangga?
Richard menggeleng-gelengkan kepala kemudian memilih merebahkan diri di sofa saja daripada ia melampaui perbatasan yang dibuat oleh Sierra dan menyebabkan hal yang buruk terjadi dan akan berdampak pada anaknya. Mungkin suatu saat gadis itu akan terbiasa dengan statusnya kini sebagai seorang istri dan akan memperlakukannya selayaknya seorang suami.