“I love you!” Jesica melingkarkan tangannya ketat di pinggang Biyan sambil membisikan kata cinta. tumben-tumbennya dia bersikap manja dan sangat over protektif sekali. Tubuh Biyan yang lengket dan berbau asam juga ia hiraukan, padahal dia suka Biyan yang wangi dan bersih. “Love you too, my wife. Mau makan apa?” tanya Biyan sambil mengemudikan mobilnya. Biyan boro-boro risih karena Jesica menempel padanya bagaikan perangko ke amplop, malah senang. “Kok aku pengen yang pedes-pedes banget, ya. Pengen bikin mata melek, bibir merah sama perut anget. Apa atuh?” Jesica meminta saran. Siapa tahu suaminya juga menginginkan hal yang sama dan tahu tempat yang bagus dan enak. “Rujak petis, sambal terasi, tumis-tumisan yang pedes, pecel lele, ayam dan lain-lain.” Biyan juga membayangkan masakan ters

