Jangan Drama Sehari Aja!

1104 Kata
Reina memunguti satu per satu beling tajam itu dengan tangan gemetar. Suara desisan penuh kebencian dari ibu mertuanya masih terngiang-ngiang, berputar seperti kaset rusak di dalam kepalanya. "Kamu punya utang satu tamparan dariku." Setiap serpihan piring yang ia kumpulkan seolah melambangkan kepingan hatinya yang sudah lama hancur berantakan. Tidak ada air mata yang jatuh. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis di pagi hari. Setelah lantai kembali bersih tanpa noda, rutinitas penyiksaan hening pun dimulai. Reina mencuci tumpukan piring kotor, mengepel lantai, dan membersihkan seluruh rumah di bawah tatapan tajam Indri yang mengawasi dari sofa ruang tengah, seolah ia adalah mandor yang sedang menginspeksi kerja budaknya. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Indri, namun sorot matanya sudah cukup untuk membuat Reina merasa kecil dan tak berharga. Siang berganti sore. Kehadiran Rio yang pulang dari sekolah menjadi satu-satunya oase di tengah gurun penderitaannya. Bocah laki-laki itu berlari memeluknya, menceritakan dengan antusias tentang gambarannya yang dipuji oleh ibu guru. Reina tersenyum, senyum tulus pertama yang terbit di wajahnya hari itu. Ia memeluk putranya erat, menghirup aroma bedak bayi yang masih tersisa di rambutnya. Demi malaikat kecil inilah, ia rela menelan semua duri yang menusuknya setiap hari. Malam harinya, aroma semur daging yang manis dan gurih menguar di seluruh penjuru rumah. Reina telah menyiapkan makan malam kesukaan Reno. Ia menata meja dengan teliti, berharap suasana hangat dari makanan bisa sedikit melunakkan hati suaminya. Ini adalah malam yang ia tunggu-tunggu. Malam di mana ia akan mencoba sekali lagi. Entah sudah yang keberapa ratus kali. Mencoba berbicara, mencoba meminta suaminya untuk mendengarkan sisinya. Reno pulang dengan wajah lelah. Ia menyantap makan malam dalam diam, hanya sesekali menanggapi celotehan Rio. Indri, seperti biasa, tak henti-hentinya memuji masakannya sendiri yang ia klaim telah ia 'ajarkan' pada Reina. Setelah makan malam selesai dan Rio sudah tertidur lelap di kamarnya, Reina memberanikan diri masuk ke kamar tidur mereka. Reno sedang berbaring di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Reina duduk perlahan di tepi ranjang, menjaga jarak. Jantungnya berdebar kencang, mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. "Mas," panggilnya lembut. "Hm?" jawab Reno tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. "Mas capek, ya?" Reina mencoba membuka percakapan dengan basa-basi. "Menurut kamu? Seharian kerja ya pasti capek lah," jawab Reno ketus. Reina menelan ludah. "Maaf. Aku... aku cuma mau ngomong sebentar, boleh?" Reno akhirnya meletakkan ponselnya dengan kasar di meja samping tempat tidur. Ia menatap Reina dengan sorot mata jengkel. "Ngomong apa lagi sih, Rei? Aku capek, mau istirahat. Nggak bisa apa sehari aja nggak ada drama?" "Ini bukan drama, Mas. Ini penting," suara Reina sedikit bergetar. "Ini soal... soal Ibu." Ekspresi wajah Reno langsung mengeras. "Ibu lagi? Kenapa lagi Ibu? Kamu ini kok kayaknya nggak suka banget ya sama Ibu? Dia salah apa sama kamu?" "Bukan begitu, Mas. Aku cuma mau..." "Cuma mau apa? Mau ngadu lagi? Mau bilang Ibu jahat sama kamu? Mau bilang Ibu nyiksa kamu?" potong Reno cepat, nada suaranya mulai meninggi. "Aku udah muak dengernya, Reina!" "Tapi Mas harus dengar aku sekali ini aja!" desak Reina, keberaniannya entah datang dari mana. "Tadi pagi... tadi pagi Ibu..." "Ibu kenapa?! Ibu baik-baik aja sama kamu! Tadi pagi aku lihat sendiri Ibu lagi ngajarin kamu masak, ngerapiin rambut kamu. Kurang baik apa coba Ibu sama kamu?!" bentak Reno. "Kamu itu yang aneh! Selalu cari-cari kesalahan orang tua!" Air mata Reina mulai menggenang. "Itu cuma sandiwara di depan Mas! Setelah Mas pergi, Ibu beda lagi! Ibu maki-maki aku, dorong aku, bahkan mecahin piring dan nyuruh aku bersihin!" Reno tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar lebih menyakitkan daripada tamparan. "Mecahin piring? Hahaha, ada-ada aja kamu ngarangnya. Ibu udah telepon aku tadi siang. Dia cerita katanya kamu nggak sengaja jatuhin piring pas mau cuci. Ibu bahkan khawatir tangan kamu luka. Dia baik gitu kok kamu fitnah terus, sih?!" Dunia Reina seakan runtuh. Jadi, Indri sudah lebih dulu memutarbalikkan fakta, melapisi kebohongannya dengan sempurna. Ia kalah cepat, kalah licik. "Nggak, Mas! Bukan begitu ceritanya! Ibu sengaja jatuhin piring itu!" isak Reina, suaranya terdengar putus asa. "Kenapa Mas nggak pernah percaya sama aku? Aku ini istrimu Mas!" "Justru karena kamu istriku, harusnya kamu bisa lebih menghormati ibuku!" Reno bangkit dari posisi berbaringnya. Ia mencengkeram lengan Reina dengan kasar, membuat wanita itu meringis kesakitan. "Denger ya, Reina! Aku capek pulang kerja harus dengar keluhan kamu yang itu-itu aja! Lihat istri orang lain, suaminya pulang disambut senyum, dipijitin. Lah kamu? Malah ngajak ribut, jelek-jelekin ibu mertua sendiri. Nggak punya hati kamu, ya?!" "Sakit, Mas... lepasin..." rintih Reina, mencoba melepaskan cengkeraman suaminya. Bukannya melepaskan, cengkeraman Reno justru semakin kuat. Matanya menatap Reina penuh amarah. "Sakit? Hati aku lebih sakit, Rei! Punya istri yang nggak bisa akur sama ibunya sendiri! Kamu itu maunya apa sebenarnya? Mau aku usir Ibuku dari rumah ini?! Iya?!" "Bukan itu maksud aku, Mas. Aku cuma mau Mas dengerin aku..." "Nggak ada yang perlu didengerin dari pembohong kayak kamu!" bentak Reno, mendorong tubuh Reina hingga punggungnya membentur kepala ranjang dengan keras. "Cukup! Aku nggak mau dengar nama Ibu disebut lagi dari mulut kamu dengan nada jelek! Kalau sekali lagi kamu coba-coba adu domba aku sama Ibu, kamu lihat aja akibatnya!" Reno melepaskan cengkeramannya dengan kasar, meninggalkan bekas merah yang membiru di lengan Reina. Ia kembali merebahkan tubuhnya, memunggungi istrinya seolah Reina adalah sampah yang tak layak dilihat. "Tidur. Aku muak lihat muka kamu," desisnya dingin. Reina terdiam membeku. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan, terasa lebih menyakitkan daripada jika ia menangis meraung-raung. Malam ini, usahanya kembali gagal. Tembok pertahanan yang dibangun Indri di sekeliling Reno terlalu tebal untuk ia runtuhkan. Ia bukan hanya kalah, ia hancur. Setelah memastikan Reno benar-benar tertidur dari dengkuran halusnya, Reina bangkit perlahan. Tubuhnya terasa remuk, hatinya lebih-lebih lagi. Ia berjalan keluar kamar, tujuannya hanya satu: kamar Rio. Ia perlu melihat wajah damai putranya untuk sekadar mengisi kembali serpihan kekuatan yang tersisa. Langkahnya terhenti di depan kamar ibu mertuanya yang sedikit terbuka. Terdengar suara Indri sedang berbicara di telepon dengan nada berbisik, namun cukup jelas untuk ditangkap telinga Reina di koridor yang sepi itu. "Iya, sabar saja. Sedikit lagi juga dia hancur dan pergi sendiri dari rumah ini," bisik Indri ke gagang telepon. "Reno? Hahaha, kamu tenang saja. Anak bodoh itu seratus persen ada di genggamanku. Dia lebih percaya sama ibunya daripada sama istri pembawanya sial itu. Kamu tinggal siapkan saja semuanya." Reina menahan napas, tubuhnya kaku. Ia mendekatkan telinganya lebih dekat ke celah pintu, berusaha mendengar lebih jelas. "Tentu saja. Kalau mereka sudah cerai, semua harta Reno, terutama warisan dari almarhum ayahnya, akan aman. Tidak akan jatuh ke tangan perempuan kampung itu. Semuanya akan jadi milik kita, seperti rencana awal." Jantung Reina seolah berhenti berdetak. Warisan? Rencana awal? Jadi ini semua bukan hanya karena kebencian semata?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN