Sepulang dari rumah keluarga Nathan Keira langsung memasuki kamarnya, sejak keluar dari rumah itu dia terus diam dan hanya tersenyum paksa pada orang yang menyapanya. Ya, hatinya sakit karena perkataan Nathan yang sangat keterlaluan menurutnya. Meskipun sangat ingin melawan tapi apa daya Keira tak berani meskipun hanya menatap mata tajam lelaki dingin itu. Nyalinya selalu ciut saat bertatap muka secara langsung dengan Nathan oleh karena itu ia selalu diam dan mengalah. Toh melawan pun tak akan ada hasilnya, yang ada ia akan mendapatkan masalah yang mebih besar. Hal yang paling di takutinya yaitu di usir atau di ceraikan secara sepihak oleh lelaki itu. Tanpa dengan pandangannya tertuju pada buku harian yang ada di atas bantal, senyuman terukir jika ada buku tempatnya berkeluh-kesah. Perlah

