bab 4.Semakin sulit

1187 Kata
Keira POV Duh, kenapa aku malas banget, ya, mau ngikutin pelajaran? Padahal kan ini masih pagi. Harusnya aku masih semangat-semangatnya untuk mengikuti pelajaran. Astaga, sebenarnya ada apa, sih, sama mood-ku hari ini? Perasaan dari pagi tadi baik-baik saja, sekarang malah malas ikut pelajaran. Drtt… drtt… Lamananku buyar ketika mendengar ponselku bunyi dengan nyaring. Untung saja Bu Linda tidak dengar. Aku langsung melihat pesan masuk. Ternyata dari ayah. Mataku melotot sempurna saat membaca pesan itu. Yang benar saja, ayah minta uang sebanyak itu. Padahal uang mahar dari Kak Nathan sudah banyak dan semuanya untuk ayah. Ini baru dua minggu aku menikah dengan Kak Nathan, masa iya uang maharnya sudah habis semua? Terus nanti aku dapat uang dari mana sebanyak itu? Aku tidak punya tabungan sebanyak itu. “Kei! Ayah minta uang 5 juta siang ini. Ayah sudah di perjalanan ke kampus kamu.” “Keira tidak punya uang sebanyak itu, Yah.” Kubalas pesan itu dengan harapan ayah akan mengerti. Tapi itu sangat mustahil, karena sejak dulu ayah selalu memaksakan apa yang dia inginkan. Kenapa ayah selalu seperti orang tua yang gila uang? Dan kenapa selalu aku yang mendapat perlakuan berbeda dari kakak-kakakku selama ini? Ayah kembali mengirim pesan. Aku takut membukanya, tapi kalau tidak dibuka aku takut dia nanti semakin marah. “Ayah tidak percaya. Kamu kan punya suami kaya, masa iya tidak punya uang. Dasar pelit kamu, ya. Pokoknya ayah tidak mau tahu, nanti uangnya harus sudah ada.” Ya kan, ayah memang tidak akan percaya. Terus gimana nanti kalau ayah minta uang ke Kak Nathan? Aduh, bisa runyam urusannya. Nanti Kak Nathan pasti marahnya ke aku. Sudah cukup aku menjadi istri yang tidak dianggap, jangan sampai aku dipikir sebagai istri yang murahan. “Keirannie, silakan kamu ke ruangan saya sekarang. Tidak ada bantahan,” kata Bu Linda dengan tersenyum, tapi suaranya tak bersahabat. “Baik, Bu,” jawabku pasrah. “Eh, kamu tidak perlu masuk. Duduk saja di depan ruangan,” tambahnya. “Iya, Bu.” Aku langsung meninggalkan kelas dan berjalan menuju ruang dosen. Aku jadi takut. Ruang dosen dekat dengan ruang rektor, yang artinya aku harus melewati kelas para senior. Aku takut kejadian waktu itu terulang lagi. Aku tidak siap mendengar cemoohan teman-teman Kak Nathan dan mendengarkan kata-kata menyakitkan dari suamiku sendiri. Ketika langkah kakiku hampir sampai, aku melihat Kak Nathan dan teman-temannya sedang duduk di depan kelas. “Jadi, rencana lo selanjutnya apa? Mau tetap mempertahankan rumah tangga sama Keira, atau mau ceraiin tuh anak, abis itu lo lanjutin hubungan sama Melissa?” tanya Kevin. “Ya jelas Nathan bakal milih Melissa daripada Keira. Lo kan tahu mereka saling suka dari dulu, sedangkan Keira cuma pohon tumbang yang menghalangi kelancaran hubungan Nathan sama Melissa, ya nggak, Than?” tanya Kak Dicky dengan keras saat melihatku berjalan melewati mereka. “Yoi. Lagian tuh cewek pengantar pizza nggak pantes sama pangeran kampus kayak lo,” sahut Kak Bima. “Ya iya lah. Gua bakal ceraikan dia dan lanjutin hubungan sama Melissa. Kalian sendiri kan tahu kalau selera gua tinggi soal cewek, jadi nggak mungkinlah gua bakal pertahankan rumah tangga nggak berguna itu,” jawab Kak Nathan dengan santai. “Lagian elo sih, harusnya lo keluarin benih berharga lo di rahim Melissa, biar lo nggak capek-capek harus nikah sama Keira,” sambung Bagas. “Yah, ini gara-gara si Bima yang ngasih minuman gua obat perangsang dosis tinggi. Jadinya kan gua nggak terkontrol, ya sudah gua asal masukin aja yang ada,” kata Kak Nathan seperti bercanda, dan itu sukses membuat semua temannya tertawa. Oh Tuhan, aku sangat takut dengan perceraian. Bagaimana nanti nasib anakku yang harus kubesarkan sendiri tanpa seorang ayah? Apa aku bisa hidup berdua di luar sana dengan anakku? Selama ini aku tidak pernah kepikiran akan menikah di usia muda dalam keadaan hamil. “Elo mah sekarang nyesel kan jadinya. Lo harus tanggung jawab sama bayinya Keira. Oon sih,” hardik Bagas. “Sudahlah, nggak perlu dibahas. Anggap saja ini musibah menjijikkan di hidup gua. Lagian benar kata Dicky, Keira itu ibarat pohon tumbang yang menghalangi mobil yang mau lewat, yaitu hubungan gua sama Melissa.” Dadaku sesak mendengar penuturan Kak Nathan tentang diriku. Ya, memang aku hanya pohon tumbang yang bisanya menghalangi jalan orang lain untuk bahagia. Aku memang tidak layak berada di tengah keluarga Kak Nathan yang sangat baik dan terpandang. Harusnya aku tahu diri untuk tidak terlalu berharap padanya. Aku baru saja keluar dari ruangan Bu Linda. Aduh, rasanya lenganku mau lepas. Astaga, aku baru ingat kalau ayah mau ke sini. Aku harus cepat keluar, pasti ayah sudah di depan kampus. Ayah tidak boleh bertemu Kak Nathan, bisa-bisa nanti aku kena masalah lagi. Aku berlari menuju gerbang kampus. Salah satu teman sekelasku bilang ayah sudah lama menunggu. Dan benar saja, di depan gerbang aku melihat ayah dan Kak Nathan sedang berbicara. Aduh, pasti ayah minta uang ke Kak Nathan. “Ayah,” panggilku dengan napas terengah-engah. “Ini nih yang ditunggu-tunggu. Kenapa kamu lama banget sih? Ayah masih ada urusan,” bentaknya. “Maaf, Yah. Tadi Keira disuruh ngerjain tugas sama Bu Linda, jadi Keira kelupaan,” jawabku menunduk. “Dasar kamu memang nggak berguna. Ya sudah, mana uangnya?” pinta ayah. “Keira kan sudah bilang kalau tidak punya uang, Yah.” “Nathan, ayah minta uang ke kamu saja, ya. Cuma lima juta kok,” kata ayah pada Kak Nathan. “Uang yang saya berikan dua minggu lalu jumlahnya tidak sedikit. Kenapa Anda meminta uang lagi?” jawab Kak Nathan dingin. “Halah, uang segitu mah sudah habis. Lagian kamu kan kaya, masa nggak mau berbakti sama ayah mertua? Apalagi kamu yang bikin masa depan anak saya rusak, jadi kamu harus ganti rugi dong.” “Ayah, jangan kayak gini, Yah. Diliatin orang,” pintaku panik. “Ya sudah, nanti saya transfer ke rekening Anda,” jawab Kak Nathan malas, lalu pergi meninggalkan kami. Duh, bagaimana ini? Pasti nanti Kak Nathan bakal marah sama aku gara-gara sikap ayah barusan. Aku jadi takut pulang dan bertatap muka dengannya. Ayah benar-benar keterlaluan. Kenapa dia bicara seakan-akan aku barang yang dijual? Sepulang dari kampus, aku langsung menuju tempat kerjaku. Sekarang aku sudah tidak mengantar pizza lagi, melainkan melayani pembeli di kafe. Untung saja bosku baik dan memikirkan kondisi kandunganku yang masih rentan. Hari ini kafe cukup ramai, jadi tutup lebih cepat dari biasanya. Aku memilih duduk di pinggir danau, tempat yang selalu membuat hatiku tenang. Dulu aku sering ke sini bersama almarhum Kak Nana, penyemangat hidupku. Tapi kini dia sudah pergi setahun lalu, tepat di hari pernikahannya. Ayah menikahkan Kak Nana secara paksa untuk melunasi utang-utangnya. Kak Nana memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri dan memotong nadinya sendiri. Sebagai gantinya, ayah menikahkan anak keduanya. Kak Aruni. Kakakku itu sekarang entah di mana. Aku ingin tahu kabarnya, ingin mengadu tentang hidupku sekarang. Astaga, ini sudah sore. Aku harus segera pulang. Aku tidak mau kena sembur lagi sama Kak Nathan. Cukup tadi di kampus aku merasa sakit hati dan sesak. Malam ini aku tidak mau memancing emosinya. Dia benar-benar manusia berkepribadian ganda. Saat bicara denganku dan ayah, bahasanya formal dan dingin. Tapi saat bersama keluarga dan teman-temannya, dia selalu santai dan menikmati segalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN