Sudah dua bulan berlalu sejak kejadian malam itu. Keira tak pernah lagi menampakkan wajahnya di hadapan Nathan, juga tak pernah memperhatikannya secara sembunyi-sembunyi seperti dulu. Kini Keira bersama dua orang temannya tengah menikmati keindahan sungai yang letaknya tak jauh dari rumah Vika. Setelah menyelesaikan tugas kuliah, mereka sepakat untuk bersantai sejenak agar pikiran kembali segar.
Tiba-tiba saja Keira merasa mual hebat dan muntah-muntah, namun tak ada apa pun yang keluar dari perutnya. Tubuhnya melemas, lalu ia tak sadarkan diri. Karena panik, kedua temannya segera membawa Keira ke rumah sakit. Di sanalah mereka terkejut mendengar pernyataan dokter yang mengatakan bahwa sahabat mereka tengah hamil.
Beberapa saat kemudian Keira tersadar dari pingsannya. Matanya menatap sekeliling dengan bingung, lalu menemukan kedua sahabatnya yang menatapnya dengan ekspresi kecewa.
“Kei, gue nggak percaya… ternyata lo--” ucapan Vika terhenti, tak sanggup melanjutkan kalimatnya saat menyadari sahabatnya yang begitu polos kini tengah hamil.
“Ak-aku… aku… nggak mungkin,” isak Keira, menangis sesenggukan setelah menyadari kenyataan pahit itu.
“Keira, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa lo bisa hamil?” tanya Karin dengan suara lembut.
“Du-dua bulan lalu… hiks… saat kita janjian mau ngerjain tugas bareng di apartemen Karin… hiks… ada seseorang yang memperkosa aku,” tangis Keira semakin menjadi-jadi. “Aku… aku udah berusaha kabur, tapi nggak bisa… hiks… hiks…”
Keira tampak sangat menyedihkan. Tangisnya kian pecah setiap kali mengingat kejadian kelam dua bulan lalu. Karin dan Vika langsung memeluk Keira dengan erat untuk menenangkannya. Hati mereka terasa perih melihat sahabat yang begitu baik dan polos harus menerima cobaan seberat ini. Mereka bahkan masih tak percaya jika Keira harus menghadapi kenyataan yang begitu kejam. Setelah suasana sedikit mereda, mereka pun mengantarkan Keira pulang ke rumah.
Kini Keira duduk tertunduk, menunggu respons dari kedua orang tuanya yang hanya diam membisu setelah mendengar penjelasan dari Vika dan Karin. Karena tak ada tanggapan apa pun, kedua sahabat Keira pamit pulang. Sepeninggal mereka, kedua orang tua Keira masih tetap terdiam. Hingga lima belas menit kemudian, sang ibu akhirnya bangkit dan mendekatinya.
Plakkk!
Suara tamparan terdengar nyaring di tengah suasana yang sunyi. Keira terhuyung, pipi kanannya terasa panas. Air mata pun jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia sudah menduga, amarah orang tuanya akan segera meledak.
Plakkk!
Plakkk!
Tamparan demi tamparan kembali mendarat di wajahnya. Sang ibu tak henti menampar pipi Keira bergantian, lalu menjambak rambut panjang putrinya dengan kasar sambil memaki tepat di wajah cantik yang kini menangis histeris.
“Dasar anak kurang ajar! Siapa yang udah hamilin kamu?!” teriak sang ibu sambil terus mencengkeram rambut Keira.
Sebenarnya Keira sangat takut untuk memberitahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Lelaki itu terlahir dari keluarga kaya dan terpandang. Ia yakin, kehadiran anak ini hanya akan membawa malu bagi keluarga lelaki tersebut. Belum lagi jika orang tuanya berniat memanfaatkan kekayaan keluarga Nathan.
Kini sang ayah ikut memukuli Keira tanpa ampun. Tubuh dan wajah Keira dipenuhi luka lebam, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar akibat tamparan yang bertubi-tubi. Setelah puas melampiaskan amarah, keduanya memaksa Keira untuk ikut ke rumah lelaki yang disebut sebagai ayah dari bayi dalam kandungannya.
Saat tiba di kediaman lelaki itu, kedua orang tua Keira saling berpandangan, senyum licik terukir di wajah mereka. Setelah berbicara dengan seorang pelayan, mereka pun dipersilakan masuk.
Brukk!
Keira dilemparkan ke lantai dengan keras oleh ayahnya. Suara itu membuat seluruh keluarga yang sedang berkumpul menoleh terkejut. Betapa terkejutnya mereka saat melihat seorang gadis dengan kondisi mengenaskan tergeletak di lantai.
“Di mana lelaki bernama Nathan yang sudah berani m*****i putri saya?!” sentak ayah Keira dengan wajah penuh amarah, seolah ia benar-benar merasa terhina.
Seluruh anggota keluarga Nathan melotot kaget mendengar tuduhan tersebut. Mereka sangat mengenal Nathan, lelaki yang meski pergaulannya bebas, selalu mampu menjaga diri.
“Nathan harus bertanggung jawab atas bayi yang ada di rahim anak saya, atau kami akan melaporkannya ke polisi!” ancam ibu Keira.
Seorang wanita paruh baya berdiri dan menghampiri Keira yang masih tergeletak di lantai. Tangannya terulur untuk membantu gadis itu bangkit. Namun begitu melihat kondisi Keira, matanya memanas dan ia berteriak kaget. Luka lebam memenuhi wajah Keira, darah masih mengalir dari sudut bibirnya. Sementara itu, Nathan hanya terdiam, menatap Keira dengan wajah tak percaya saat gadis itu berada dalam pelukan sang ibu.
Ibu Nathan meminta Rafael, adik Nathan, untuk membawa Keira ke kamar tamu yang tak jauh dari ruang keluarga. Dengan lembut dan hati-hati, ia mengompres wajah Keira yang penuh luka. Sementara di ruang keluarga, kedua orang tua Keira tetap bersikeras ingin melaporkan kejadian ini karena Nathan masih terdiam.
“Baik, kalau anak Anda tidak bisa bertanggung jawab, saya dan istri akan melaporkannya ke pihak berwajib,” ujar ayah Keira tegas. “Setelah itu kami akan menggugurkan kandungan Keira agar keluarga saya tidak menanggung malu dan beban sekaligus.”
Ia beranjak pergi, sementara ibu Keira melangkah menuju kamar tamu untuk membawa putrinya pulang.
“Saya akan menikahi putri Anda minggu depan,” ucap Nathan lantang.
Ucapan itu langsung membuat wajah ayah Keira berbinar senang. Putrinya akan menikah dengan lelaki kaya raya. Selama ini Keira memang menjadi sumber uang bagi mereka, bekerja siang dan malam demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliah.
Setelah pembicaraan mengenai pernikahan selesai, kedua orang tua Keira pamit pulang. Saat hendak membawa Keira, ibu Nathan meminta agar gadis itu sementara waktu tetap tinggal di rumah mereka, setidaknya hingga pernikahan berlangsung. Ia tak ingin calon menantunya disakiti lagi, terlebih melihat kondisi Keira yang sangat memprihatinkan.
Nathan memilih masuk ke kamarnya dengan perasaan campur aduk--kesal, muak, dan tertekan. Bagaimana bisa ia menghamili gadis yang bahkan tak pernah ia lirik? Tangannya mengepal keras lalu menghantam dinding kamar. Ia tak mencintai Keira, lalu bagaimana ia bisa hidup bersama gadis itu dalam satu atap? Bagaimana dengan wanita yang selama ini ia cintai? Haruskah ia melepaskannya? Dan bagaimana mungkin ia akan memiliki anak di usia semuda ini?
Semua kesenangannya pasti akan hilang setelah menikah dan memiliki anak. Apakah ia sanggup hidup bersama orang yang tak dicintainya, juga dengan seorang anak yang mungkin akan merepotkan hidupnya? Kepalanya terasa semakin pening. Nathan akhirnya memilih mengguyur tubuhnya di bawah air hangat, berharap bisa meredakan stres yang menyesakkan dadanya.
“Sial… ternyata yang Kevin bilang waktu itu kejadian juga. Bahkan gue gak bisa lakuin apa yang gue omongin dulu,” gumamnya. “Melissa… gimana kalau dia tahu gue menikah sama orang lain karena kecelakaan hina kayak gini?”
Kini reputasi keluarganya berada di tangannya. Jika pernikahan itu tak terjadi, ia akan berurusan dengan polisi dan menyeret nama baik keluarganya. Seumur hidup, Nathan tak pernah membayangkan pernikahan seperti ini. Ia sudah merencanakan masa depan bersama wanita yang dicintainya. Namun kini, semua impian itu musnah oleh kehadiran seorang wanita yang datang dengan kehamilan.
Penyesalan tak akan mengubah apa pun. Semua sudah terjadi.
“Apa pun yang terjadi nanti, pernikahan ini harus disembunyikan dari siapa pun,” gumam Nathan pelan.