Jam menunjukkan pukul 05.30 ketika seorang wanita cantik berjalan tergesa menyusuri jalanan yang masih lengang. Keira mempercepat langkahnya, napasnya sedikit terengah. Ia tak ingin pulang terlambat dan kembali menerima omelan suaminya. Halte bus yang cukup jauh dari rumah membuatnya harus berjalan lebih cepat dari biasanya.
Namun karena terlalu terburu-buru, kakinya tersandung batu kecil yang tak sempat ia lihat. Tubuhnya terhuyung sebelum akhirnya ia berhasil menahan diri agar tak terjatuh. Rasa perih langsung menjalar. Kulit kakinya terluka, darah merembes pelan. Sejak saat itu langkahnya yang tadi cepat berubah menjadi tertatih, menahan nyeri sambil terus memaksa diri melangkah.
Begitu sampai di depan rumah, pintu sudah terbuka. Nathan berdiri di sana dengan wajah kesal, sorot matanya tajam.
“Kenapa lama sekali?” sergahnya tanpa basa-basi.
“Kamu ini kenapa sih, suka sekali bikin saya kesal!”
“Maaf, Kak, tadi--”
Ucapan Keira terpotong ketika Nathan langsung menyuruhnya masuk ke mobil tanpa memberi kesempatan menjelaskan apa pun.
Sepanjang perjalanan, Keira memilih diam. Tak satu kata pun keluar dari bibirnya. Ia takut—takut kemarahan Nathan kembali meledak. Padahal hatinya dipenuhi tanda tanya. Ia ingin tahu ke mana mereka akan pergi. Tak biasanya Nathan mengajaknya keluar bersama.
Dua puluh menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan sebuah butik ternama. Keira menatap bangunan megah itu dari dalam mobil, kebingungan bercampur gugup. Ia mengenali butik itu—milik sahabat mertuanya.
“Ayo turun,” perintah Nathan dingin.
Mereka masuk ke dalam butik dan langsung disambut ramah oleh seorang karyawan. Nathan tanpa banyak bicara meminta karyawan tersebut untuk membantu Keira memilihkan baju sekaligus meriasnya. Butik itu memang menyediakan layanan salon bagi para tamu yang hendak menghadiri acara penting.
Barulah saat itu Nathan memberi tahu, singkat dan datar, bahwa mereka akan menghadiri pesta keluarga.
Mendengar itu, d**a Keira langsung terasa sesak. Ini pertama kalinya ia akan bertemu keluarga besar suaminya. Tangannya sedikit gemetar saat memilih gaun. Ia tak ingin membuat kesalahan. Ia tak ingin membuat Nathan malu.
Pandangan Keira akhirnya tertuju pada sebuah gaun berwarna pink lembut dengan sentuhan emas, berlengan transparan namun tetap tertutup dan sopan. Gaun itu sederhana, anggun, dan tidak mencolok—persis seperti yang ia inginkan.
Dalam hatinya, Keira berdoa pelan.
Aku hanya ingin melewati malam ini tanpa masalah…
Setelah berganti pakaian, Keira langsung dibawa ke sebuah ruangan khusus untuk dirias. Karena tak pernah sekalipun pergi ke salon, gadis itu hanya diam, duduk kaku, dan menuruti setiap instruksi para perias yang sibuk mengoleskan bedak, foundation, serta kosmetik lainnya ke wajahnya. Ia tak berani banyak bergerak, takut salah.
Rambut lurusnya yang biasa tergerai sederhana kini diubah dengan sentuhan lembut—disasak, ditata rapi, dan dibiarkan jatuh anggun di bahunya. Keira hanya menatap bayangannya di cermin dengan perasaan asing. Seperti melihat orang lain dalam tubuhnya sendiri.
Setelah semuanya selesai, Keira melangkah keluar ruangan dan menemui Nathan yang tengah duduk santai di sofa ruang tunggu.
“K-kak…” panggil Keira lirih, suaranya hampir tak terdengar karena gugup.
Merasa dipanggil, Nathan mendongakkan kepalanya. Seketika matanya terpaku. Seorang wanita cantik berdiri tepat di hadapannya--dengan gaun lembut, riasan sederhana namun menawan, dan senyum canggung yang tak lepas dari bibirnya.
Nathan terdiam beberapa detik. Pandangannya menyusuri wajah Keira tanpa sadar. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Baru setelah itu ia berdehem pelan, berusaha menyembunyikan rasa kagum yang tak sengaja muncul.
Ini pertama kalinya ia melihat Keira dengan riasan seperti itu. Cantik. Terlalu cantik untuk ia akui.
Tiga puluh menit kemudian, keduanya tiba di kediaman keluarga Weldon--rumah besar yang malam itu dipenuhi tamu dan cahaya. Keira berjalan pelan mengikuti langkah Nathan yang sudah lebih dulu di depannya. Dadanya terasa sesak oleh rasa gugup.
Ia akan bertemu keluarga besar suaminya.
Ia akan diperkenalkan sebagai istri Nathan.
Ada rasa malu, takut, dan cemas yang bercampur jadi satu di hatinya.
Menyadari Keira berjalan terlalu pelan di belakang, Nathan berhenti. Ia berbalik lalu menarik tangan Keira, membuat gadis itu terkejut kecil.
“Jalan di samping saya,” ucap Nathan singkat.
Kini mereka berjalan berdampingan, tangan saling bergenggaman—tampak serasi seperti pasangan bahagia di mata orang lain. Nathan tersenyum lebar, percaya diri menyapa keluarga besarnya. Sementara Keira hanya mampu tersenyum kaku, matanya menyapu wajah-wajah asing yang menatapnya penuh rasa ingin tahu.
Meski sudah dua bulan menikah, ini pertama kalinya Keira berada di tengah keluarga besar Weldon. Selama ini ia hanya mengenal orang tua Nathan dan Rafael.
“Heii, brooo!” sapa seorang pemuda sambil langsung merangkul Nathan.
Nathan tertawa kecil. “Wah, ternyata lo sekarang keren juga ya.”
Keduanya berjalan menjauh sambil saling merangkul, tanpa sadar melepaskan tangan Keira. Gadis itu tertinggal beberapa langkah di belakang. Ia berhenti sejenak, ragu untuk melangkah, rasa asing kembali menyergapnya.
Ia baru melangkah pelan ketika sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar.
“Waaaw… cantik banget.”
Keira mendongak. Rafael berdiri di hadapannya dengan senyum lebar.
“Gue sampai pangling. Nggak nyangka lo bisa secantik ini,” lanjut Rafael sambil menepuk pundak Keira lembut.
Pipi Keira memerah. “Kamu bisa aja,” ucapnya malu-malu.
Rafael terkekeh kecil. “Ya udah, yuk. Mama udah nunggu dari tadi.”
Keira mengangguk pelan. Di tengah gemerlap pesta itu, setidaknya masih ada satu wajah ramah yang membuatnya merasa… tidak sepenuhnya sendirian.
Rafael membawa Keira mendekati sekumpulan orang dewasa yang tengah asyik berbincang. Begitu Keira berdiri di antara mereka, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Parasnya yang lembut, riasan sederhana, dan aura rapuh yang ia bawa membuat mereka terpesona.
Tatapan-tatapan itu membuat Keira merasa canggung. Ia menundukkan kepala, jemarinya saling menggenggam gugup.
Ibu Nathan mengulurkan tangan untuk menyambut menantunya. Dengan ragu, Keira menerima uluran tangan itu. Wanita paruh baya tersebut memang selalu bersikap lembut padanya—terlalu lembut, bahkan. Perhatian yang ia berikan bukan hanya untuk Keira, tetapi juga untuk bayi yang kini tumbuh di dalam rahimnya.
“Wah, menantu kamu cantik sekali,” puji seorang wanita paruh baya dengan senyum tulus. “Beruntung banget kamu dapat menantu seperti dia.”
“Iya dong,” sahut ibu Nathan bangga. “Siapa dulu anaknya Nathan. Pasti dapat istri yang cantik dan baik seperti Keira.”
Pujian itu membuat Keira tersipu malu. Pipinya memanas, matanya menunduk, berusaha menyembunyikan rasa tidak pantas yang tiba-tiba menyelinap di dadanya.
“Keira, sini duduk di sebelah eyang,” panggil seorang wanita tua yang duduk di samping kursi ayah Nathan.
Keira melangkah pelan dan duduk di sampingnya.
“Berapa usiamu, Nak?” tanya nenek itu dengan suara lembut.
“Dua puluh satu tahun tahun, Eyang,” jawab Keira pelan.
Nenek itu terdiam sejenak, menatap wajah Keira dengan mata yang sarat iba. “Kamu masih sangat muda,” ucapnya lirih. “Apa kamu bahagia?”
Pertanyaan itu menusuk.
Keira menegang.
Ia takut. Takut jika kejujuran akan menjadi kesalahan. Takut jika kebohongan akan terasa terlalu jelas. Hidupnya bersama Nathan sejauh ini bukanlah kebahagiaan--lebih seperti rangkaian hari yang penuh luka, dingin, dan kesepian.
“I-iya, Eyang… Keira bahagia,” jawabnya akhirnya, suara itu terdengar rapuh bahkan di telinganya sendiri.
Nenek itu menghela napas panjang. “Maafkan Nathan, ya. Gara-gara dia, masa depan kamu berubah. Seharusnya anak seusiamu menikmati kebebasan, bukan malah mengurus rumah tangga… dan mengandung.”
Keira menggeleng pelan. “Nggak apa-apa, Eyang. Mungkin ini memang takdir yang Tuhan tuliskan untuk Keira.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, nenek Nathan memeluk Keira dengan lembut. Sesekali ia mengecup puncak kepala gadis itu, lalu mengelus perut buncitnya dengan penuh kasih--seolah menenangkan dua jiwa sekaligus.
Hormon kehamilan yang tak stabil membuat Keira tak mampu menahan air matanya. Tangis haru itu pecah begitu saja. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kehangatan yang tulus--bukan sebagai istri Nathan, melainkan sebagai manusia yang diterima.
Orang-orang di sekitarnya ikut menatap dengan mata berkaca-kaca. Mereka tak pernah menyangka, gadis semuda itu harus menanggung konsekuensi dari kesalahan anak keluarga mereka sendiri.
“Keira itu baik sekali,” puji salah satu dari mereka.
“Iya, terlalu lapang d**a untuk usianya.”
“Kamu anak yang sabar, Nak. Terlalu sabar…”
Keira hanya tersenyum kecil di balik air mata. Mereka tidak tahu… betapa kerasnya ia harus bertahan setiap hari.
“Nathan beruntung sekali punya istri secantik dan sebaik kamu.”
“Meskipun kami sangat kecewa dengan perbuatannya yang sudah m*****i hidupmu, kami tetap bersyukur karena gadis yang ia nikahi adalah perempuan baik-baik seperti kamu.”
Ucapan-ucapan itu terdengar hangat di telinga Keira. Namun di sisi lain, Rafael yang berdiri tak jauh darinya justru merasakan perih yang samar. Dadanya sesak melihat gadis itu--lembut, baik, dan penuh kesabaran—kini sepenuhnya menjadi milik kakaknya. Gadis yang tak akan pernah bisa ia miliki, terlebih karena kini Keira tengah mengandung darah daging Nathan.
Harusnya kamu jadi milikku, Kei, batinnya lirih.
Harusnya aku yang berdiri di sini, menerima pujian karena bisa menjaga dan membahagiakan kamu.
Saat Keira menoleh dan mendapati Rafael menatapnya, pemuda itu buru-buru memalingkan wajahnya. Ia tak ingin perasaannya terbaca.
Percakapan terus berlanjut, diselingi tawa dan senyum. Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Nathan, Keira benar-benar merasa bahagia. Senyum manisnya tak pernah pudar saat berbincang dengan anggota keluarga besar Weldon. Mereka hangat, ramah, dan menerima dirinya tanpa prasangka.
Tanpa disadari Keira, sejak ia berpindah duduk di samping Rafael, pemuda itu terus menatapnya dengan sorot mata lembut—penuh rasa yang tak bisa ia ungkapkan.
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama.
“Jangan terlalu dekat sama dia,” ucap seorang gadis cantik yang baru datang bersama dua saudaranya. Nada suaranya penuh cercaan. “Dia itu kan dari kalangan orang miskin. Jadi jangan gampang percaya kalau dia benar-benar hamil anaknya Nathan.”
Semua percakapan terhenti.
“Siapa tahu dia hamil sama orang lain, terus kebetulan diperkosa. Terus nyalahin Nathan biar bisa hidup enak,” lanjutnya tanpa rasa bersalah.
“Tamara!” sergah seorang wanita paruh baya dengan wajah memerah. “Apa maksud kamu bicara seperti itu?”
“Kita kan nggak tahu asal-usulnya,” Tamara menyahut santai. “Bisa aja dia bukan perempuan baik-baik.”
“Jaga mulut kamu!” suara eyang terdengar tegas. “Kami tidak terima kamu menghina Keira.”
“Kalian ini nggak cari tahu apa-apa. Langsung aja nikahin Nathan gara-gara dia ngaku-ngaku hamil anak Nathan,” tandas Tamara sinis.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi kanan Tamara. Semua orang mematung.
“Jaga bicara kamu!” Rafael berdiri dengan wajah penuh amarah. “Keira itu perempuan baik-baik. Nggak kayak lo yang tiap malam keluar-masuk club!”
Tamara menatapnya dengan mata membara. “Bagus, ya. Lo lebih belain cewek ini daripada sepupu lo sendiri?”
“Gue nggak suka orang yang menghina dan memfitnah,” balas Rafael dingin. “Sekalipun itu keluarga sendiri.”
Tamara mendengus kasar, lalu pergi meninggalkan ruangan. Orang tuanya segera meminta maaf kepada orang tua Nathan dan kepada Keira yang sejak tadi menundukkan kepala.
Keira ingin menangis. Dadanya sesak. Tapi ia menahan diri. Ia tak ingin suasana semakin kacau.
Semua mata kini tertuju padanya—penuh iba dan simpati. Namun Nathan tetap diam, berdiri jauh, seolah tak berniat mendekat.
Sampai akhirnya, melihat Keira terus menunduk, hati Nathan tergerak. Langkahnya maju tanpa ia sadari. Tangannya merangkul pundak Keira dengan lembut.
Rafael melihatnya. Dan entah kenapa, dadanya kembali terasa nyeri.
Keira seketika menegang. Tubuhnya kaku. Rasa takut menjalar cepat. Nathan tak pernah menyentuhnya dengan lembut sebelumnya—tidak pernah.
“Refleks aja,” bisik Nathan dingin di telinganya. “Saya cuma nggak mau kelihatan seperti suami yang nggak bisa jaga istri.”
Alih-alih merasa tenang, Keira justru semakin terancam. Ia segera melepaskan tangan Nathan dari pundaknya, lalu berpindah tempat. Ia tak ingin disalahpahami. Tak ingin dianggap mencari perhatian atau menikmati sentuhan yang hanya berpura-pura.
Pelukan itu bukan bentuk kasih. Hanya sandiwara.
Nathan terdiam. Ada rasa kecewa yang samar ketika Keira menjauh darinya tanpa sepatah kata pun. Ia berniat baik—setidaknya menurut versinya sendiri—namun wanita itu justru menghindar.
Akhirnya, Nathan memilih pergi.
Meninggalkan Keira yang kembali merasa sendirian di tengah keramaian.