“Sini, Raudha! Sini!” Tian merentangkan kedua tangan, mengajak anak pertamanya untuk berjalan mendekatinya. Gadis kecil dengan manik mata kecoklatan itu tertawa, melihat ayahnya berada di dekatnya. “Ati-ati, sayang. Jangan jauh-jauh dari Raudha,” Sara memperingatkan sembari memeuhi kolam renang kecil yang terbuat dari plastik dengan air. “Dia belum lancar banget jalannya.” “Iya, aku tau,” Tian menangkap Raudha dan menggendongnya sambil menggesekkan hidung mereka. “Siapa anak Ayah yang pinter? Siapa anak Ayah yang cantik ini?” “Anak Bunda sih, Yah.” Sara mengambil Raudha dengan cepat, membuat Tian cemberut. Wanita itu hanya terkikik geli, lalu segera menjawil dagu Tian. “Jelek banget lo, Yah.” “Mata lo buta kali, ya? Jelas-jelas ganteng gini, dibilang jelek,” gerutu Tian. “Ambekan ni
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


