Aku resmi jadi anak SMA. Seragam biruku berganti menja abu, dan senyum merekah tak bisa lepas dari wajahku. Apalagi menyadari Razka yang terlihat tengah menungguku di depan gerbang sekolah, membuatku semakin bersemangat menghadapi tiga tahun masa SMA yang sulit. “Ridaaa!” panggilnya agak keras, ketika beberapa gadis menyapa dan mengajaknya berkenalan. Mereka langsung melirik padaku dan segera pergi sambil berbisik-bisik. Aku hanya bisa tersenyum sumringah, menyadari Razka yang sengaja mengusir mereka. “Kamu lama banget ih,” gerutunya. “Tadi mau aku jemput gak mau. Nanti kalo telat gimana?” Sebenarnya, ini bukan suatu ketidaksengajaan yang membuat kami bersekolah di tempat yang sama. Saat pemilihan SMA yang dituju, tanpa kuketahui Razka melirik semua pilihan SMA yang kutulis. Jadi, diam

