“Ele?” Sukma mengucap nama itu takjub. Penampilannya berubah seratus delapan puluh derajat. “Mbak Sukma, Mas Raga … aku mau berpamitan … aku mau melanjutkan S2 ke luar negeri!” ujarnya dengan penuh percaya diri. “Masuk!” titah Raga datar. Sementara itu, tangannya meraih pinggang ramping Sukma dan menggandengnya ke dalam. Elena mencebikkan bibirnya sambil menggerutu. “Pamer kemesraan mulu, gak tahu apa jiwa jombloku meronta,” gerutu Elena sambil mengikuti langkah kedua orang itu ke ruang tengah. “Jadi? Sudah menyerah?” Raga menatap adik sepupunya yang baru saja menjatuhkan bobotnya pada sofa. “Enggak!” Elena mengedik sambil mengeluarkan gawai dari dalam tas kecilnya. Dia lalu menatap pantulan wajahnya di depan gawai dan membetulkan kerudungnya. “Mbak Sukma, aku cantik ‘kan pakai

