Sisil mengulas senyum setelah menekan rasa ego dan cemburunya. Ternyata tidak mudah, ketika dia harus membebaskan seorang lelaki yang bergelar suami untuk lari ke pelukan wanita lain. “Pergilah, Mas! Aku akan sangat bahagia jika hubungan kalian segera diresmikan!” ucapnya sambil tersenyum. Memanipulasi hatinya yang sebetulnya sakit mengucap itu semua. Ahsan menatap perempuan yang ada di hadapannya itu lekat-lekat, mencari kesungguhan dari manik matanya. Namun Sisil memalingkan wajah, membuang pandang. Tak kuat ketika netranya bersirobok dengan Ahsan. “Apa kamu sungguh-sungguh dengan semua ucapanmu, Sil? Jika kamu berjanji akan menjalani kehidupan rumah tangga ini secara normal, aku akan melepaskan Elena.” Ahsan berkata mantap. Mencoba menggoyahkan hati Sisil. Rasa tak tega menjalar di

