Keyhan baru saja pulang dari rumah Rania. Ia tidak jadi mengajaknya ke suatu tempat, dikarenakan Rania yang menolak terlebih lagi perasaannya yang sedang kacau balau seperti ini. Sepanjang perjalanan tadi, otaknya sibuk memikirkan apa yang harus ia lakukan agar perjodohan tersebut batal. Apa harus ia membawa pergi jauh Rania sampai tidak ada seorang pun yang bisa menemuinya? Haruskah Keyhan seperti itu? Ia melangkah menuju dapur rumahnya, membuka kulkas dan mengambil sekaleng minuman bersoda lalu membawanya ke teras samping rumah. Keyhan mendaratkan bokongnya di sofa yang ada di sana lalu membuka minuman kaleng tersebut dan menegaknya. Benaknya terus dipenuhi oleh Rania, Rania dan Rania. Demi apapun di dunia ini, ia tidak akan pernah melepaskan kekasihnya itu. Sejak pertama kali melihatn

