BYYUURRRR!!
“Reyhaann!! s**t!!”
Malam ini si kembar sedang berada di teras depan rumah, mereka sedang saling tukar cerita dihari pertama mereka bertukar posisi. Keyhan menceritakan semua yang terjadi hari ini dengan Rania pada Reyhan yang sedang meminum minumannya. Sontak mendengar saudara kembarnya yang sudah mengungkapkan isi hatinya itu membuat Reyhan sangat kaget dan tanpa sengaja menyemburkan air dimulutnya ke wajah saudara kembarnya.
“Lo beneran bilang gitu ke Rania? Lo ngungkapin semua perasaan lo? Gila lo gila Key, ini baru hari pertama bro” tanya Reyhan lagi seakan tidak percaya. Ia juga mengelap sudut bibirnya yang basah dengan telapak tangannya
“Iya! Gue bilang semuanya, tentang perasaan gue tapi sayangnya dia gantungin gue dan malah pergi ninggalin gue” Ia menampakkan wajah sedihnya
“HAHAHA. Terlalu buru-buru sih lo” Reyhan tertawa puas
Keyhan mengelap wajahnya yang basah dengan tissue “Maksud gue kan lebih cepat lebih baik”
“Ya tapi situasi lo gak tepat, orang baru putus udah langsung disamber aja. Lo pikir Rania cewek gampangan. Slowly but sure aja sih”
Saudara kembarnya itu mencebikkan bibirnya kemudian menatap ke depan dengan wajah lesunya. Apa yang dibilang saudara kembarnya memang benar, Ia terlalu terburu-buru bahkan situasinya sangat tidak tepat untuk mengungkapkan perasaannya pada Rania mengingat gadis cantik itu baru saja putus cinta. Mungkin jika itu gadis lain akan sangat gembira dan langsung membuka hati untuk Keyhan tetapi sayangnya itu Rania. Yang Reyhan bilang bukan cewek gampangan.
“Lo gimana sama si Kayra?” Ia menoleh menatap Reyhan
Saudara kembarnya itu mengedikkan kedua bahunya “Gak gimana-gimana. Kayra juga gak curiga sama gue. Ya biarin ngalir aja lah ... Gak usah galau gitu kali Key, jelek banget muka lo. Baru digantungin Rania udah begini gimana kalo lo beneran ditinggalin Rania terus Rania pergi sama si Leo” Ia menepuk sebelah bahu Keyhan
Pria tampan itu menolehkan kepalanya dengan tatapan tak suka “Si Leo yang bakalan gue gantung”
“HAHAHA kejam banget kembaran gue” suara tawa Reyhan kembali terdengar bersamaan dengan Keyhan yang bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah
Sepeninggal saudara kembarnya Reyhan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia mencari kontak Kayra lalu jemari tangannya terlihat mengetikkan sesuatu. Ia dan Keyhan memang tukeran ponsel selama mereka menjalankan misi mereka. Lihatkan betapa niatnya mereka dalam menjalankan misi konyolnya ini. Bahkan ponsel saja sampai tukeran seperti ini. Dasar kembar.
Reyhan : malam Kayra. kamu lgi ngapain?
Basi banget sih pesan gue. ah masa bodoh!
Dua menit berselang. Kring. Ponselnya berdering, buru–buru Ia membuka pesan dari seseorang yang sudah sangat ditunggu–tunggunya.
My Kayra : Ngpain lo nnya2 bgitu?! Tumben, biasanya jga gak. Dan skali lgi gue blang gak usah pake KAMU KAMU-AN segala Keyhan. Geli gue!! Merinding ih!
Gimana gue mau ngungkapin perasaan gue kayak si Keyhan kalo dia aja galak begini
Reyhan : Tpi aku gak geli Ra mlah suka, suka bnget malah wkwk. Bsok aku jmput kuliah jam 7. Gak ada penolakan!
Senyuman licik terukir diwajah Reyhan ketika mengirim pesan balasan untuk Kayra. Kemudian Ia bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah. Ia berjalan menuju kamarnya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Di ruang tengah terlihat ayah dan bundanya yang sedang menonton TV. Langkah kaki Reyhan yang sudah menginjak anak tangga pertama berhenti ketika menyadari ada sesuatu yang janggal. Ia menolehkan kepalanya dan benar saja, Ia melihat ayah dan bundanya yang saling berpelukan sambil menonton TV. Sang bunda merebahkan kepalanya di d**a ayahnya, kedua tangannya melingkar diperut ayahnya dan satu tangan ayahnya mengelus–ngelus punggung bundanya dengan satu tangannya lagi yang memegang remote. Sesekali terlihat ayahnya mencium pucuk kepala bundanya sayang. Ck seperti anak muda saja.
Bikin iri aja nih ayah sama bunda
Reyhan berdehem “Inget umur Yah, bun” ucapnya kemudian langsung naik ke tangga berikutnya
“Sirik aja kamu Rey” sahut ayahnya yang membuat bundanya terkekeh geli
Begitu sampai di kamar, Ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Ponselnya berdering singkat lagi tanda ada pesan masuk yang sudah pasti datangnya dari Kayra.
Kayra : Pemaksaan lo! Jam 7 lewat 1 menit lo gk dateng. Gue tinggal! HAHAHAHA
Reyhan mengerutkan dahinya dengan alis yang juga ikutan menyatu.
Yang mau jemput itu kan gue kok jadi dia yang ninggal gue
Tetapi kemudian Ia tertawa sambil menggeleng–gelengkan kepalanya. Kayra ini memang sangat menggemaskan.
Reyhan : Siap Princess *emot cium dan senyum*
Kayra : No! I’m not princess, I’m queen *emot mahkota*
Reyhan tertawa saat membaca balasan pesan Kayra. jemari tangannya bergerak llincah membalas pesan Kayra.
Reyhan : Yeah, you’re queen. Queen in my heart and I’m your king *emot cium*
Kayra : KINGKONG! *emot tidur* zzzz
Mata Reyhan membulat membaca balasan pesan Kayra. Gadis itu menyebutnya kingkong. Sungguh, Kayra orang pertama yang menyebutnya demikian. Selama ini tidak pernah ada satu pun orang yang menyebutnya kingkong apalagi seorang gadis, semua gadis pasti selalu mengelu-elukan dirinya tetapi Kayra. Ia berbeda.
***
Keesokan paginya Reyhan menuruni tangga rumahnya dengan terburu–buru. Ia menuju ke ruang makan berpamitan pada ayah dan bundanya tanpa harus sarapan pagi dulu karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Hanya tinggal tersisa tiga puluh menit lagi untuk sampai di rumah Kayra. Belum lagi Ia harus menghadapi lalu lintas Jakarta yang selalu macet dipagi hari membuatnya sangat tidak yakin akan sampai di rumah Kayra dalam waktu tiga puluh menit.
“Gak sarapan dulu Rey?” tanya bundanya ketika putranya itu mencium punggung tangannya
“Gak usah bun. Udah telat, dosen kali ini killer banget” jawabnya kemudian langsung menuju garasi mobil sambil berlari kecil
Keyhan yang sedang menikmati sarapan paginya mengerutkan dahinya bingung. Dosen? Killer? Seinget dirinya dosen pertama hari ini dikuliahnya sangat sangat santai bahkan terkadang dosennya lebih sering datang terlambat dibandingkan datang tepat waktu atau malah kadang tidak masuk kelas. Lalu yang dimaksud dosen killer oleh Reyhan itu siapa? Pak Tama? Ah tidak, hari ini tidak ada kelas Pak Tama. Lalu siapa? Entahlah.
Reyhan sudah berada di mobil Ia langsung menyalakan mesin mobilnya kemudian tanpa aba–aba lagi Ia sudah melajukan mobilnya keluar garasi. Karena sudah sangat pasti jalanan akan macet, Ia mengambil jalan pintas menuju rumah Kayra walaupun rutenya lebih jauh tetapi setidaknya rutenya bebas dari macet.
Sementara itu di rumah keluarga Rattama Geraldi, Kayra sudah selesai menghabiskan sarapannya pagi ini. Ia meneguk habis s**u putihnya kemudian bangkit dari duduknya sambil menenteng tas. Langkah kakinya membawanya berjalan menuju teras depan kemudian duduk di kursi yang ada di sana. Gadis yang hari itu mengenakan blue jeans dan kemeja putih dengan sebuah sepatu casual putih dan rambut sebahunya yang dibiarkan tergerai mengambil ponselnya dari dalam tas dan mulai memainkannya sambil menunggu seseorang yang katanya akan menjemputnya hari ini. Sesekali Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya kemudian berjalan ke arah pagar rumah, menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan berharap orang tersebut cepat datang.
“Loh kamu belum berangkat Ra? Nunggu siapa?” tanya mamahnya yang keluar dari dalam rumah bersama dengan ayah dan adiknya yang akan segera berangkat
Kayra membalikkan badannya “Lagi nunggu temen mah. Ayah sama Kelvin berangkat duluan aja” Ia menghampiri mereka semua
Tama melirik jam tangannya “Udah hampir jam tujuh loh ini. Kamu gak telat emang?”
“Gak kok yah. Kelas Kayra dimulai jam delapan” Ia tersenyum
Ayahnya mengangguk kemudian berpamitan pada istrinya. Kelvin pun sama, Ia mencium punggung tangan mamah dan kakaknya kemudian berjalan mengikuti ayahnya menuju mobil. Bersamaan dengan itu sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan rumah mereka. Tama yang hendak membuka pintu mobil menghentikan gerakan tangannya dan langsung menoleh ke arahnya, begitu juga dengan Camira, Kayra dan Kelvin.
Reyhan melepaskan seatbelt ditubuhnya kemudian keluar dari mobil sambil menghembuskan nafasnya. “Pagi Pak ... Pagi tante” Ia tersenyum menyapa dan mencium punggung tangan Tama dan Camira bergantian
“Tumben banget kamu jemput Kayra?” ucap Tama dengan satu alisnya yang terangkat begitu melihat mahasiswanya yang ternyata menjemput putrinya
“Iya pak. Lagian saya suka sepi kalo berangkat sendiri jadi lebih baik saya bareng Kayra, lagipula tujuannya kan sama” Ia tersenyum
“Udah lama loh kamu gak main ke sini, makin ganteng aja kamu Key” ucapan Camira membuat Kayra membelalakkan matanya, Ia berpura–pura muntah kemudian memeletkan lidahnya yang langsung dibalas pelototan oleh Reyhan “Ayah sama bunda sehat Key?”
“Sehat tante, Alhamdulillah. Tante juga sehat kan?” Ia balik tanya
Camira tersenyum “Alhamdulillah tante sehat juga, seperti yang kamu liat sekarang”
“Ini kapan berangkatnya Yah. Aku telat nih” protes Kelvin
“Oke oke. Kita berangkat sekarang” Tama masuk ke dalam mobilnya
“Bang Key, aku duluan ya” pamit Kelvin sebelum masuk ke kursi penumpang sebelah ayahnya
“Sipp Vin” Reyhan mengacungkan jempolnya
Mobil Tama sudah keluar dari garasi tetapi kemudian berhenti lagi membuat semua orang yang masih berada di teras depan menatapnya bingung. Tak lama terlihat Tama yang keluar dari mobil “Keyhan! Bawa mobilnya hati–hati, awas kamu bikin anak saya kenapa–napa. Saya DO kamu dari kampus!” teriaknya yang langsung membuat Reyhan membulatkan matanya tak percaya. Ayah sama anak sama galaknya
“Siap pak! Kayra aman bersama saya” sahut Reyhan mantap
Sementara Kayra menepuk dahi melihat sikap protective ayahnya yang sepertinya sudah sangat mendarah daging itu dan Camira hanya geleng–geleng kepala melihat sikap suaminya. Kayra menyambar tas yang ada di kursi lalu berpamitan mencium punggung tangan mamahnya dan berjalan menuju mobil Reyhan yang kemudian langsung disusul oleh Reyhan.
Di mobil Reyhan terus menerus mencuri pandang ke arah Kayra yang terlihat menikmati pemandangan jalan melalui kaca jendela mobil. Kamu cantik banget sih Ra. Sejak tadi belum ada obrolan yang terjadi diantara mereka berdua. Hanya terdengar suara penyiar radio yang menyapa para pendengarnya di pagi hari.
“Ra?” panggil Reyhan menoleh sekilas
Kayra menoleh sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga “Ya?”
“Selesai kuliah jam berapa?”
Gadis itu menoleh ke depan dan terlihat seperti sedang berpikir “Cuma ada satu mata kuliah sih. Jam sepuluh lah selesai, kenapa emangnya?”
“Mau ngajak jalan–jalan” Ia tersenyum menoleh ke arah Kayra
Kayra tertawa tetapi kemudian Ia menatap Reyhan dengan mata yang berbinar–binar “Tumben banget ngajakin jalan. Mau kemana emangnya?”
“Kamu mau nya kemana?”
Kayra menempelkan jari telunjuknya di dagu dengan bola matanya yang menatap ke atas tanda sedang berpikir “Nonton. Ada satu film yang lagi ngehits banget dan lagi jadi trending topik di twitter, gimana?”
“Nonton doang nih? Biasa banget sih permintaan kamu. Tapi oke lah” Reyhan tersenyum
Plaakk! Kayra memukul lengan Reyhan kencang dan langsung membuat pria itu meringis kesakitan sambil mengelus–ngelus lengannya. “Dibilang gak usah pake kamu kamuan segala Keyhan! Gue bukan pacar lo! Kita juga cuma pacaran pura–pura, jadi stop panggil gue kayak begitu karena kita lagi gak akting sekarang”
Baru juga manis sebentar udah galak lagi
“Emangnya kamu gak mau jadi pacar aku?”
Deg. Jantung Kayra langsung berdetak tak karuan mendengar perkataan Reyhan. Ia menoleh menatap Reyhan yang tersenyum sambil menatap lurus ke depan dan terlihat seperti tidak ada yang salah dengan ucapannya barusan. Plaaakk! Satu pukulan mendarat lagi di lengan Reyhan. “Aduh” ucap Reyhan spontan
“Jelas gak mau lah, lo itu kan ngeselin. Mana mau gue punya pacar ngeselin kayak lo” Ia menatap lurus ke depan dengan tangan yang dilipat di dada
Yang selama ini ngeselin itu Keyhan Ra bukan gue
Reyhan tersenyum “Kalo gitu mulai sekarang aku gak akan ngeselin lagi”
Lagi–lagi Kayra harus menolehkan kepalanya dan menatap pria di sampingnya dalam beberapa menit. Ucapan yang menurutnya mengandung arti tersirat di dalamnya. Apa maksud dari ucapannya itu? Gak akan ngeselin lagi? Kenapa? Maksudnya supaya Kayra mau menjadi pacarnya begitu?
“Mendingan lo diem deh Key. Nyetir aja yang bener supaya kita selamat sampe kampus dan lo gak di DO dari kampus”
Reyhan tertawa mendengarnya kemudian tangannya terulur mengacak–ngacak rambut Kayra sambil tersenyum dan menoleh sekilas. Kayra terpaku di tempat, jantungnya langsung berdetak tak karuan lagi. Terakhir kali Ia mendapat perlakuan seperti ini dari Keyhan sudah lama sekali dan sekarang, Ia mendapatkannya lagi. Kalau biasanya Keyhan mengacak–ngacaknya dengan cara yang sedikit kencang dan tidak ada lembut–lembutnya. Tetapi kali ini seperti ada kelembutan saat tangan kokoh itu mengacak–ngacak rambutnya dan seperti terselip rasa sayang di dalamnya bahkan tangan tersebut lebih seperti ke gerakan mengelus–ngelus sayang. Kayra langsung tersadar dan buru–buru menepis tangan Reyhan, Ia merapihkan rambutnya dengan jemari tangan dan kembali menatap ke depan berusaha menormalkan detak jantungnya.
***
Keyhan sedang berada di kantin kampus pagi ini. Mata kuliah pertamanya hari ini baru akan dimulai setengah jam lagi makanya Ia memutuskan untuk bersantai–santai dulu di kantin kampus sambil mengutak ngatik ponselnya. Ia mengangkat wajahnya kemudian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kantin. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok gadis yang sedang bertopang dagu dengan sebuah buku yang ada di mejanya. Ia menyipitkan matanya untuk melihat gadis itu tetapi kemudian dengan cepat Ia langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis itu sambil menenteng tasnya.
“Pagi Rania” sapanya sudah duduk di sebelah gadis itu
Rania terlonjak kaget dengan kehadiran Keyhan “Pa-pagi Rey” jawabnya gagap. Sebetulnya saat memasuki kantin tadi Ia memang sudah melihat Keyhan tetapi entah mengapa setelah mengingat kejadian kemarin Ia jadi mengurungkan niatnya untuk menghampiri pria itu. Rasanya canggung sekali bertemu dengan Keyhan pagi ini. Seharusnya disaat seperti ini Keyhan yang merasa canggung jika bertemu dengan Rania tetapi nyatanya sekarang berbalik.
“Gak usah canggung gitu kali Ran. Biasa aja. Yang kemarin kita skip aja ya, gue tau gue yang salah, terlalu buru-buru. Sekarang kita jalanin aja dulu kayak sekarang, siapa tau ke depannya perasaan lo ke gue berubah ... jadi cinta mungkin ” Ia menyengir memamerkan barisan giginya yang putih dan rapih
“Apaan sih Rey” Rania tampak salah tingkah, Ia mengalihkan tatapannya ke arah lain
“Gak apa-apa kok Ran. Udah ah gak usah dibahas lagi, bikin canggung ... lagi ngapain sih masih pagi udah bengong?”
Rania melipat kedua tangannya di atas meja ”Gak lagi mikir aja”
“Mikir apa? Mikirin gue?”
Gadis itu tertawa kecil lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi “Pede banget”
Keyhan ikut tertawa melihat gadis di depannya yang tertawa membuat kecantikan gadis itu kian bertambah “Udah sarapan Ran?” tanya Keyhan lagi yang mendapat jawaban berupa anggukan dari Rania.
“Pulang kuliah nanti ada urusan gak?” Keyhan melipat tangannya di meja menoleh menatap Rania
Gadis di depannya menegakkan kembali tubuhnya “Rencananya sih mau jengukin tante di rumah sakit” Ia menoleh sehingga membuat jarak wajah mereka berdua sangat dekat. Ia bisa melihat dengan jelas wajah tampan Keyhan dengan jarak yang sedekat ini. Keyhan meneguk ludahnya begitu mendapati wajah cantik Rania tepat berada di depan wajahnya. Ingin rasanya Ia mencium Rania tapi rasanya tidak mungkin. Rania terlebih dulu tersadar kemudian menolehkan kembali kepalanya ke depan sambil berdehem singkat, Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Keyhan pun sama Ia memalingkan wajahnya ke arah lain sambil berdehem tapi kemudian menoleh lagi “Mau ditemenin?”
“Beneran? Gak ngerepotin emang?”
“Ya enggalah Ran. Malah seneng nemenin lo”
Rania mengangguk setuju dengan senyum malu-malunya yang terukir jelas di wajah cantiknya. Ya ampun Ran kamu kalo lagi malu–malu gitu bikin gemes banget
“Kita harus pergi dari sini sekarang” Keyhan menarik tangan Rania lalu menariknya untuk pergi keluar kantin begitu matanya tak sengaja melihat Leo yang rupanya sejak tadi menatap ke arah mereka, ah ralat ke arah Rania lebih tepatnya.
Rania yang tidak tahu menahu hanya menurut saja, Ia menyambar tas dan bukunya lalu berjalan mengikuti Keyhan. “Rey, gue mau ke perpus dulu balikin buku yang kemaren belom sempet aku balikin”
Keyhan menoleh sambil tersenyum “Kalo gitu gue temenin”
“Gak usah. Lo ke kelas duluan aja” Ia menghentikan langkahnya masih dengan kedua tangan mereka yang saling berpegangan tetapi perlahan Rania melepaskan pegangan tangannya
“Gue tetep temenin lo, gue gak mau kejadian kemaren keulang lagi” Keyhan kembali mengambil tangan Rania menariknya menuju perpustakaan
“Rey” panggil Rania
“Apa lagi Rania?” Ia menghentikan langkahnya kemudian menoleh menatap gadis itu
Rania menggigit bibir bawahnya “Ke perpus kan ke arah sana—di lantai dua, kalo ke sini kita ke parkiran dong” Ia menunjuk ke arah lift
Keyhan menyengir memamerkan barisan giginya yang putih dan rapih “Maaf gue lupa Ran, keingetan di kampus gue soalnya” ucapnya tanpa sadar
“Hah? Kampus lo? ini kan kampus lo”
Mati gue! salah ngomong! “M-maksudnya kampus sepupu gue Ran ... Gue sering main ke kampus dia gitu” sahut Keyhan asal lalu tersenyum.
Gadis itu mengangguk–ngangguk mengerti kemudian kembali melanjutkan langkahnya masih dengan tangan Keyhan yang memegang pergelangan tangan Rania.
Begitu sudah sampai di depan perpustakaan, Keyhan meminta Rania untuk masuk ke dalam sementara dirinya menunggu di luar. Sambil menunggu gadis itu mengembalikan bukunya di perpustakaan, Keyhan bertopang dagu dengan satu sikunya yang menumpu pada besi yang ada di balkon tersebut. Ia mengedarkan pandangannya menatap ke arah samping kampus yang memang terlihat dari lantai dua ini. Matanya membulat, topangan dagunya lalu dilepaskan begitu melihat pemandangan yang tidak pantas dipandang oleh mata. Dibalik semak-semak Ia melihat sepasang kekasih yang sedang berciuman. Mungkin orang-orang tidak akan melihatnya karena terhalang oleh semak-semak terlebih lagi kiri, kanan dan belakangnya yang tertutupi tembok tetapi Keyhan melihatnya dari atas dan itu terlihat jelas sekali.
“Gila! Kayak gak ada tempat yang lebih bagus aja sih. Tuh cewek lagi gampang banget, disosor dikit langsung nerima, ketagihan gitu lagi. Ck. Untung Rania bukan tipe cewek begitu” gumamnya
Tanpa sengaja Keyhan melihat sebuah kerikil kecil di dekat sepatunya, Ia pun membungkukkan badannya mengambil kerikil tersebut. Sebuah senyuman jail langsung terlihat diwajahnya sambil menatap kerikil tersebut. “Sorry ini demi kebaikan kalian sebelum lanjut ke hal yang iya-iya”
Ia siap melempar kerikil tersebut tetapi Ia terlihat berpikir lagi “Lempar gak ya? Penasaran juga sih gue, apa yang bakal mereka lanjutin”
Keyhan masih menatap ke arah pasangan kekasih itu yang makin bertindak liar. Si pria mulai menciumi leher si gadis yang sudah menengadahkan lehernya ke atas “Ya Allah maapin Keyhan ngeliat adegan ini ya Allah. Ini bukan maunya Keyhan, mereka kok yang siaran secara live gini” Ia menutup matanya dengan tangan kirinya begitu melihat tangan si pria yang mulai membuka kancing kemeja si wanita dan perlahan menyibaknya
Perlahan Ia menyingkirkan tangannya dari matanya “Astaghfirullah” Ia berjengit kaget saat melihat si pria yang kini sudah berada di atas si wanita “Gak bisa dibiarin nih. Rasain nih lemparan gue” tanpa banyak aba-aba lagi Ia langsung melemparkan kerikil tersebut ke arah semak-semak lalu membungkuk menyembunyikan tubuhnya dibalik balkon takut kalau pasangan m***m itu akan melihatnya
Tepat sasaran, lemparan kerikil Keyhan mengenai semak-semak yang langsung membuat pasangan itu terlonjak kaget. Mereka langsung mengubah posisinya menjadi duduk dengan si wanita yang menutupi setengah tubuhnya yang terbuka dengan tangan. Buru-buru mereka merapihkan penampilan mereka sebelum akhirnya pergi.
“Rey, lo ngapain?” tiba-tiba terdengar suara yang sudah tidak asing ditelinga Keyhan
Ia mendongakkan kepalanya kemudian bangkit berdiri sambil tersenyum kikuk “Enggak, tadi lagi iket tali sepatu. Kelepas soalnya” Ia menyengir
Rania hanya menganggukkan kepalanya sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Keyhan menolehkan kepalanya melihat ke arah semak-semak tadi, dalam hati Ia bersorak girang saat melihat pasangan m***m itu sudah tidak ada. Ia menolehkan kepalanya menatap Rania “Udah ngembaliin bukunya?”
“Udah”
“Yaudah yuk” Ia mengulurkan tangannya bermaksud ingin menggandeng tangan Rania tetapi sayang ekspektasi tak sesuai realita
Rania menatap ke arah tangan Keyhan lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum “Yuk” Ia berjalan mendahului Keyhan, meninggalkan tangan Keyhan yang hendak menggandengnya.
Keyhan menatap sedih telapak tangannya yang ditolak Rania kemudian menghembuskan nafas berat “Dicuekin”
“Rey, kok lo masih disitu?” panggil Rania yang membalikkan badannya saat menyadari Keyhan tak ada di sampingnya
Pria tampan itu mengangkat wajahnya “I-iya ayo” Ia berjalan ke arah Rania sambil tersenyum
Sekarang kamu boleh gak mau aku genggam tangannya. Tapi suatu hari nanti aku berani jamin kalau kedua tangan kita akan selalu saling mengenggam. Sampai kamu sendiri enggan untuk melepaskan.
***
Tersisa lima belas menit lagi sebelum mata kuliah terakhirnya selesai tetapi sejak tadi Kayra sudah tidak sabar menunggu kelasnya berakhir. Sejak tadi Ia terus menerus melihat jam tangan di pergelangan tangannya membuat Gina yang duduk di sampingnya menatapnya bingung. Sejak kelasnya dimulai juga Kayra sudah terlihat tidak konsentrasi dengan baik, sesekali Ia melihat jam tangan kemudian melamun lalu memperhatikan dosen dan bahkan Ia terlihat mengecek ponselnya untuk melihat ada pesan masuk atau tidak dari seseorang yang saat ini sedang ada dipikirannya.
“Lo kenapa sih Ra?” Gina menyenggol sikunya
Kayra yang sedang memain–mainkan pulpennya menoleh kemudian menggeleng “Gak kenapa–napa. Emangnya gue kenapa?” Ia balik tanya
“Lo tuh aneh tau gak hari ini. Gak bisa diem, pasti lo ada janji kan setelah kuliah. Mau kemana lo?” tanya Gina dengan nada suara pelan
“Apaan sih Gin. Jangan sok tau deh”
Gina mencebikkan bibirnya “Yaelah gak usah ngelak kali. Gue tau lo pasti ada janji nih abis kuliah makanya dari tadi lo keliatan pengen buru–buru pulang. Mau kemana sih Ra?” Ia sudah menoel–noel lengan Kayra
Kayra menyingkirkan tangan temannya itu “Cuma mau nemenin si Keyhan nonton doang”
Padahal yang minta nonton kan dia
“Ciyeee, pantesan keliatan sabar gitu nunggu jam kuliah selesai” ledek Gina
Gadis itu mengernyitkan dahinya. Gak sabar? gue gak sabar cuma karena mau nonton sama Keyhan? Gak mungkin banget. Si Gina ngaco beneran nih anak. Tanpa sadar Ia menggeleng–gelengkan kepalanya.
“Gak usah munafik gitu lo Ra, keliatan kok dari muka lo kalo lo gak sabar pengen cepet–cepet nonton” ledek Gina lagi yang langsung mendapat jitakan dari Kayra
Bersamaan dengan itu sang dosen yang duduk di meja depan langsung menutup bukunya dan mengakhiri kelas hari ini. Ia merapihkan buku kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kelas. Kayra sudah selesai merapihkan buku–bukunya, Ia mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Reyhan memberitahu bahwa dirinya sudah selesai kuliah.
“Gue duluan Gin” ucapnya seraya pergi meninggalkan kelas
“Have fun Ra!” teriak Gina dari dalam kelas
Kayra sudah berada di dalam lift saat ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk. Ia menggeser layar ponselnya membuka kunci layar. Satu pesan masuk dari Reyhan,
Keyhan : Aku abis dari perpus sbentar. Kamu langsung ke prkiran aja ya, tnggu aku disana. Aku lngsung meluncur ke sana skrang jga. Wait me, darl!
Gadis itu mengerjapkan matanya berkali–kali membaca balasan pesan dari Reyhan, kemudian rona merah terlihat dikedua pipi dan senyuman yang tertahankan diwajah Kayra saat membaca pesan dari Keyhan yang memanggilnya darl. Darl ? maksudnya darling ? bukannya darling itu artinya sayang ? Oh Tuhan rasanya kepala Keyhan sudah terbentur sesuatu sampai–sampai Ia bisa mengatakan hal seperti itu. Sesuatu hal yang sulit sekali dipercaya ketika Keyhan memanggilnya seperti itu. Tetapi Kayra tidak dapat memungkiri perasaannya yang senang dipanggil dengan panggilan yang terdengar konyol itu tanpa pernah memikirkan apa orang yang memanggil dirinya darl adalah benar-benar Keyhan—si seniornya.
Reyhan menutup buku di depannya lalu menyambar tas dan bergegas keluar perpustakaan dengan sebelumnya mengembalikan buku terlebih dulu di rak. Tadi saat dirinya sedang menunggu Kayra di taman kampus, Keyhan mengiriminya pesan dan mengatakan ada kuis dimata kuliah Bu Vera. Beruntung kuis yang diadakan berupa tulisan bukannya lisan yang kadang sering diadakan secara mendadak. Setelah mengetahui hal tersebut Reyhan langsung menyuruh saudara kembarnya untuk memfoto semua soal kuis nya dan mengirim itu padanya. Dan Reyhan sendiri langsung menuju perpustakaan di fakultas kedokteran. Ia langsung mencari buku untuk menjawab soal–soal dari kuis yang sedang dikerjakan saudara kembarnya itu. Berharap semua jawaban yang Ia berikan benar semua. Walaupun bertukar posisi seperti ini, Ia tidak akan membiarkan nilainya merosot hanya karena misi konyol mereka.
Ia mempercepat langkahnya ketika menuruni tangga menuju parkiran kampus. Kayra pasti sudah menunggu lama. Begitu sampai di parkiran, Ia menyapu pandangannya mencari sosok gadis cantik yang telah berhasil mencuri hatinya. Pandangan matanya terhenti pada seorang gadis berkemeja putih yang sedang bersandar ke bagian depan mobil berwarna hitam dengan kedua tangannya yang dilipat. Reyhan tersenyum kemudian langsung menghampirinya.
Isi pesan Reyhan tadi masih terus teringat jelas dibenak Kayra terlebih lagi saat Ia menyebut Kayra dengan sebutan darl. Sungguh tidak dapat dipercaya dan patut dipertanyakan. Maksudnya apa Ia memanggilnya dengan panggilan seperti itu mengingat mereka itu bukanlah sepasang pacar, kekasih, tunangan atau apapun. Mereka hanya seorang sahabat yang lebih sering saling beradu mulut dibandingkan akurnya. Walaupun Ia merasa senang juga dipanggil begitu tetapi tetap saja Ia harus menanyakan maksud Reyhan itu. Tetapi tunggu, apa tadi senang? Kayra senang di panggil darl oleh pria itu?
“Hai, lama ya nunggunya?” Reyhan tersenyum dengan tangannya yang mengelus rambut Kayra
Jantung Kayra langsung tak normal lagi. Namun buru–buru Ia menyingkirkan tangan pria itu dari kepalanya “Gak usah kayak gini Key. Nanti yang lain salah paham”
“Salah paham apa sih Ra? semuanya juga udah tahu kalo kita pacaran”
“Pura–pura pacaran lebih tepatnya” koreksi Kayra
Reyhan memalingkan wajahnya malas sambil mencebikkan bibirnya, tidak suka dengan ucapan Kayra barusan. Bukan pacaran pura–pura yang diinginkannya melainkan pacaran sungguhan seperti orang–orang kebanyakan tetapi rasanya untuk mencapai keinginannya saat ini masih tidak mungkin mengingat Kayra yang sepertinya tidak memiliki perasaan apapun padanya membuat Reyhan sedikit frustasi. Ia langsung berjalan meninggalkan Kayra yang langsung mengernyitkan dahinya bingung.
“Kok dia marah sih, apa yang gue bilang bener kan?” gumam Kayra pada diri sendiri
“Mau sampe kapan berdiri di situ? katanya mau nonton” ucap Reyhan yang ternyata sudah membukakan pintu mobil untuk Kayra
Kayra menoleh “Oh-i-iya” katanya sembari menghampiri Reyhan dan masuk ke dalam mobil dengan tanda tanya dikepalanya melihat Reyhan yang langsung berubah bete ketika Ia mengatakan hal tersebut.
Salah gue apa sih? Kok dia bete?