Kening Leon mengernyit. Lalu kedua bola matanya terbuka dengan memicing. “Apa sih! Aku lagi tidur, ngantuk. Bukan pingsan.” Leon berusaha duduk dengan bertumpu pada kedua tangan di kasur. Lucca menghela napas lega. Dia benar-benar khawatir dengan kondisi Leon. Lalu membantunya untuk duduk. Dokter masuk ke kamar. Memeriksa keadaan Leon. Lalu mengobati luka di punggungnya. “Pak Leon, obat-obatan saya letakkan di atas meja. Dan tolong, untuk kali ini, beristirahatlah sampai benar-benar pulih.” Leon mengangguk. “Ya.” “Apanya yang ya! Hanya di mulut saja! Besok juga dia sudah pergi lagi. Dia itu paling keras kepala, Dok!” tukas Lucca lalu memanggil pelayan. Dia minta dibuatkan makanan hangat untuk Leon. “Pak Lucca, kalau begitu saya pamit. Dan—Pak Leon, dua hari sekali saya akan datang unt

