Di paviliun samping mansion utama, desahan sepasang anak manusia saling bersahutan. Lucca, sedang dalam rangka rehat sejenak dari rutinitas padatnya. Alih-alih menyewa kamar hotel bintang lima, Lucca memilih membawa wanitanya ke paviliun pribadinya ini. Karena alasan—tentu saja mirip dengan adiknya—menghindari keramaian. Ya, kalau bisa menghindari keramaian atau tempat umum, Xaverius bersaudara ini merasa jauh lebih nyaman. “Ohh Lucca—ummhh—teruskan—jangan berhenti,” racau wanita yang tengah menggeliat di atas ranjang besar. Di kamar utama dalam pafiliun itu. Lucca sang penakluk wanita, mendengar itu tentu saja semakin bersemangat. Memompa dengan ritme lembut hingga kencang. Peluh mereka mengkilap membuat kulit terasa lebih licin dan menggairahkan. Selagi pria perkasa itu masih terus

