Sore yang sedikit berawan. Kio memasuki sebuah taman kota dengan tiga jalan setapak berpaving. Taman itu cukup luas dan dihiasi berbagai tanaman begonia dan keladi. Terlihat rindang. Ia duduk di salah satu kursi panjang yang terbuat dari beton. Tak jauh dari tempatnya, tampak pasangan lansia yang sedang mengobrol hangat.
Kio mendongak dan memejamkan mata, merasakan cahaya matahari keemasan yang menimpa kulitnya. Sudah lama rasanya sejak terakhir ia bersantai seperti ini.
Sesaat kemudian, pria itu merasa ada orang lain yang duduk di kursi sama dengannya. Ia membuka mata dan menoleh.
"Meyra?" lirihnya heran.
"Hai ..." Wanita itu tersenyum teduh.
"Kamu di sini?"
"Iya, aku suka tempat ini. Lihat, indah 'kan?" Meyra menunjuk sebuah sudut yang penuh dengan keladi putih. Sekilas daun-daun itu tampak bagai sayap kupu-kupu raksasa.
"Ya, sangat indah." Kio justru menatap kedua netra milik wanita itu namun ketika si pemilik menatapnya juga, ia segera bersikap biasa.
"Aku ingin seperti mereka." Kio tahu yang Meyra bicarakan adalah sepasang lansia yang masih betah duduk di kursi beton tak jauhjauh dari mereka.
"Bersama Nathan?"
Meyra tak menjawab. Kio menyadari jika pertanyaannya konyol. Kalau bukan Nathan, lalu siapa lagi?
"Kio," panggil Meyra.
"Hm?" Pria itu sedikit menoleh dan mendapati Meyra sedang menerawang.
"Apa kamu menyukai seseorang?"
Kio memberi anggukan lalu menjawab, "Tapi dia sudah akan menikah dengan orang lain."
"Benarkah?"
"Hm."
"Aku rasa dia wanita yang beruntung."
Kio tak mengerti apa maksud perkataan Meyra. Ketika ingin bertanya, ia justru terpana. Wanita cantik dengan dress putih itu sedang memandang langit, persis seperti yang beberapa saat lalu ia lakukan. Rambut hitam panjangnya tertiup angin. Bagai adegan slow motion, Kio tak bisa berpaling dari keindahan di sampingnya.
"Kio, makasih untuk segalanya."
"Aku gak melakukan apapun. Jangan membuat suasana menjadi canggung." Kio berusaha tertawa.
"Boleh aku meminta satu hal?"
"Katakan ..."
"Lupakan aku. Bagai debu, anggap aku gak pernah ada."
Meyra bangkit sebelum Kio merespon. Wanita itu berjalan menjauh tanpa menoleh sedikit pun. Kio sangat ingin memintanya berhenti dan kembali namun bibirnya seakan terkunci. Tanpa sadar, bulir bening mulai turun dari netranya.
"Meyra!!"
Kio terbangun di kamarnya. Keringat membasahi sebagian kaos putih polosnya. Ia duduk dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Perkataan Wanda siang tadi selalu terbayang dalam pikirannya. Bahkan tampaknya sudah memasuki alam bawah sadar.
Pria itu bangkit dan beringsut menuju balkon setelah sebelumnya mengambil rokok dan pemantik. Malam ini ia sangat kalut, sehingga harus menyalakan rokok setelah tiga bulan mencoba berhenti.
Jam pada dinding menunjukkan pukul satu dini hari namun rasa kantuknya telah hilang. Mimpi itu terasa sangat nyata, kali ini ia harus mati-matian menahan diri untuk tidak menghubungi Meyra.
'Kamu boleh meminta apapun, tapi tolong jangan pergi ...'
Sama seperti dalam mimpi, air mata Kio menetes. Baru sekarang ia merasa sangat takut kehilangan seseorang yang tak memiliki hubungan apapun dengannya.
**
"Yang ini bagus ..." ujar Meyra pada dress lengan panjang berwarna pink pastel yang terpajang di lemari sepupunya.
"Aku udah pake itu minggu lalu. Masa' dipake lagi?"
Meyra memilih dan memilah dress-dress milik Wanda yang berjejer lebih dari tiga puluh potong. Sejak satu jam yang lalu Wanda sibuk sendiri. Pukul tujuh nanti Lodi mengajaknya makan malam dan ia bingung pakaian apa yang harus dikenakan.
"Ini bukan pertama kali Lodi ngajak kamu makan 'kan? Kak aku liat kamu lebih nervous dari biasanya?"
"Jelas aku nervous. Tadi di chat dia bilang mau bicarain sesuatu yang penting. Kalo dia nembak aku gimana? Duh ..."
"Bilang 'duh' kok mukanya seneng." Meyra tertawa.
"Meyra!! Please help me ..." rengek Wanda kemudian.
"Gimana kalo kita pindah ke kamarku. Kapan hari aku baru beli dress online sih. Udah aku coba tapi sedikit kebesaran. Kalo cocok, buat kamu aja."
"Coba liat, coba liat!" Wanda mengikuti langkah kaki Meyra dengan semangat empat lima.
Meyra menggeser kursi meja riasnya ke depan lemari dan hendak naik. Wanda yang melihatnya langsung menarik lengannya.
"Eh, mau ngapain?"
"Ambil dress. Ada di kotak itu." Meyra mengarahkan telunjuk pada kotak berukuran sedang bergambar menara Eiffel.
"Biar aku aja."
Wanda segera naik dan menurunkan kotak itu. Meyra mengeluarkan A-line dress perpaduan warna hitam dan putih yang cantik.
"Wahh, lucu!! Kok bisa sih pilih dress di online sebagus ini? Aku sering banget zonk-nya." Wanda terlihat langsung menyukainya.
"Udah, dicoba dulu deh. Kayaknya pas di kamu ..."
Wanda manggut-manggut kegirangan. Tak menunggu waktu lama ia sudah berada di balik pembatas yang memang khusus untuk mengganti baju.
"Bagus gak?" Wanda melepas ikat rambutnya lalu melenggak-lenggok bak supermodel yang sedang berjalan di atas red carpet.
"Bagus dong. Dressnya ..."
Wanda merengut sementara Meyra lagi-lagi tertawa kecil. Kedekatan mereka layaknya saudara kandung.
"Iya, bagus kok. Keliatan pas banget. Dress itu untuk kamu ya," tambah Meyra.
"Serius, gak apa-apa? Keliatannya ini mahal. Aku beli deh. Berapa harganya?"
"Kok dibeli? Gak perlu. Anggap aja itu kado ulang tahunmu." Meyra mengedipkan mata.
"Tapi ulang tahunku udah lewat lho," sanggah Wanda sembari mematut diri di depan cermin besar.
"Ulang tahun tahun depan 'kan belum," ujar Meyra. Tangannya merapikan kain sutra yang menjadi alas dress dan menutup kotak itu kembali.
"Kenapa dikasih sekarang?"
"'Kan tahun depan aku udah gak di sini. Dress-dress di lemariku juga buat kamu nantinya."
"Kenapa ngomong gitu sih, Mey? Harusnya kamu optimis. Jangan mau nyerah sama keadaan!" Emosi Wanda mendadak meledak.
"Wanda, kamu kenapa marah?"
"Aku gak marah. Aku kesel. Apa coba maksudnya kamu bilang gitu? Tahun depan udah gak di sinilah, baju-baju buat akulah. Apa maksudnnya coba?" Wanda mendekat dan duduk ranjang.
"Kamu lupa ya kalo setelah nikah aku bakal tinggal sama Nathan. Dia udah nyiapin apartemen gak jauh dari kantornya." Meyra menyentuh tangan Wanda.
"Terus soal dress itu? Emangnya nanti kamu gak mau pake baju?" timpal Wanda gemas.
"Pakailah. Tapi aku lagi kuatin tekad untuk pakai ini ..." Meyra menunjukkan layar ponselnya yang sukses membuat netra Wanda membulat.
**
"Senyum dong," ucap Lodi untuk ke sekian kalinya saat mereka sudah sampai di restoran yang terletak di tepi laut.
Wanda menuruti meski sekilas. Setelahnya, hanya murung yang terlihat jelas.
"Kenapa sih? Meyra udah sehat kenapa kamu masih sedih?"
"Meyra belum sehat, Lodi. Aku khawatir." Wanda memberi tekanan pada kalimatnya.
"Oke, maaf. Tapi sekarang, aku pengen kamu lebih relax. Aku sengaja bawa kamu ke sini karena kamu suka laut."
"Mana lautnya?" Wanda memandang deretan pohon bakau tanpa ekspresi.
Lodi tertawa. Ia sendiri tak tahu jika dari spot yang mereka pilih pemandangan yang bisa dilihat hanyalah pohon bakau. Suara debur ombak juga tenggelam oleh musik era sembilan puluhan.
Waiter datang, membawa dua buku menu. Seperti yang bisa ditebak, andalan restoran ini adalah menu seafood. Lodi memesan lobster pedas dan sup kepiting jagung manis sedangkan Wanda memesan cumi saos padang dan kentang goreng.
"Kamu tau gak kenapa apa alasanku ngajak kamu ke sini?" tanya pria dengan kemeja abu muda itu.
"Makan," jawab Wanda pendek disela aktifitas menikmati makanannya.
Lodi menggeleng kecil. Sepertinya mood Wanda belum juga membaik.
"Aku mau ngomong sesuatu." Lodi meletakkan alat makannya dan mengambil sesuatu dari kantung celana.
"Iya?" Wanda menatapnya.
Lodi terlihat nervous. Ada sedikit rasa bimbang yang muncul namun segera ia tepis. Keputusannya untuk menyatakan perasaan pada Wanda sudah bulat.
"Aku tau kita baru kenal. Tapi sejujurnya aku sudah lama perhatikan kamu. Kamu selalu makan siang di bistro tempat pertama kita ngobrol. Memesan menu yang sama. Diam-diam aku suka liat kamu tertawa, cara kamu bicara. Aku juga tahu kamu sering datang ke coffee shop di Delta Plaza. Lalu-"
"Wait. Kamu menguntitku?"
"Bukan. Saat pertama adalah kebetulan tapi setelah itu, aku selalu nunggu kamu di sana. Rabu, jam tiga sore. Jadi kita bisa ngopi bareng. Tapi jujur aku baru tau kalo kamu sepupu Meyra." Lodi buru-buru menjelaskan.
Wanda tersenyum. Tadi ia hanya bercanda saat mengatakan Lodi adalah penguntit. Namun ia terkejut ternyata Lodi yang terlebih dahulu menemukannya.
"Kamu mau nerima ini?" Lodi mengeluarkan kotak kecil yang saat dibuka isinya adalah cincin berlian.
"I-ini apa?" Wanda senang tapi juga terharu. Tak percaya jika Lodi akan menyiapkan cincin cantik untuknya.
"Ini tanda kamu udah terikat denganku. Awal tahun depan di tanggal yang sama, aku ingin kita menikah ..."
Wanda menutup mulutnya dengan kedua tangan. Alih-alih menembak, nyatanya Lodi langsung melamarnya malam ini. Wanita itu masih terdiam, mencoba mencerna jika ini adalah kenyataan.
Lodi masih menunggu. Ia yakin Wanda memiliki perasaan yang sama namun kenapa wanita itu terlihat ragu.
"Tapi, maaf aku gak bisa..."
Lodi mencoba mengerti meski raut kecewa terukir jelas di wajah tampannya. Ia sudah akan menutup kotak ketika Wanda meneruskan kalimatnya.
"Maaf, aku gak bisa nolak kamu." Wanda tersipu.
"Jadi kamu mau nerima aku?"
Wanda mengangguk meski dengan malu-malu. Sontak saja Lodi hampir melonjak kegirangan. Untunglah Wanda cepat-cepat mengingatkan jika mereka sedang berada di tempat umum.
"Love you, Pret," ujar Lodi saat cincin telah melingkar di jari manis Wanda.
"Kok 'pret'? Gak ada panggilan yang lebih manis apa?" protes Wanda tak terima.
"Pretty. Salah ya?"
**
Bersambung.