Penelepon Misterius

1062 Kata
Prita menghela napas kasar. Pagi ini yang terjadi sama persis seperti kemarin. Nathan tak bisa diajak berbicara. Tiap kali ia ingin mengobrol, suaminya justru menjawab dengan nada tidak menyenangkan. Dan pada akhirnya mereka hanya akan berdebat. "Kamu bisa gak sih lebih perhatian sama Tata?" sungut Prita. "Tadi aku sudah menggendongnya. Kurang apa lagi?" Nathan menanggapi sambil memasang dasi di depan cermin. "Aku setuju nikah sama kamu karena aku kira kita bisa jadi keluarga yang utuh ..." Ada nada kesal pada suara wanita itu. "Gak ada yang memintamu setuju dengan pernikahan ini." Nathan melihatnya melalui pantulan cermin. "Nathan!!" "Aku berangkat!" Nathan keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban dari sang istri. Prita hanya bisa menggerutu sambil mengawasi Tata yang berjalan ke sana kemari menyusuri seisi taman. Menaklukan hati Nathan nyatanya tak semudah menjadikannya suami. Hingga hari ke tujuh pernikahan mereka, Nathan masih menganggapnya orang asing. Tak tersisa sosok hangat dan peduli yang selalu melekat pada diri pria itu tiga tahun yang lalu. Prita menoleh saat mendengar suara ponsel yang tiba-tiba berdering di atas nakas. Keningnya berkerut saat menemukan yang menelepon adalah nomor asing. Semula ia tak mengacuhkan namun panggilan itu trus terdengar hingga lima kali. "Halo?" "Halo Sweetie ..." Terdengar suara serak yang langsung membuat netra Prita melebar. "Kamu ..." Prita tak menemukan kata-kata. Ia terkejut. "Ya, ini aku Sayang," ucapnya dengan kekehan kecil. "Aku gak sudi dipanggil 'Sayang' olehmu," balas wanita itu. Alisnya bertaut. "Jangan galak-galak padaku, Manis. Kau pasti tahu jika kartu As-mu ada padaku." "Kamu mengancamku?!" Nada bicara Prita mulai meninggi. Ia menatap Tata yang berjalan ke arahnya. Tampaknya ia mulai penasaran dengan siapa ibunya berbicara. "Cuma mengingatkan. Khawatir kau lupa." Lagi, pria itu terkekeh. "Kenapa kamu bisa menelepon, bukannya-" "Di penjara? Bahkan jeruji besi takkan bisa menghentikanku, Prita." Prita terhenyak. Pria dalam telepon itu adalah orang yang paling ia hindari sekarang. "Akan kututup teleponnya. Jangan menghubungiku lagi setelah ini. Dan-" "Setelah menikah dengan Tuan Muda Nathan kau jadi makin sombong rupanya. Kau kira sekarang posisimu aman? Tak semudah itu. Apa Nathan memperlakukanmu dengan baik?" "Tentu saja, dia sangat menyayangiku dan juga Tata. Untuk apa kamu bertanya?!" "Hmm. Baguslah. See you soon, Sweetie." Prita hampir saja melempar ponsel dengan case putih itu jika tidak mengingat Tata sedang ada bersamanya. Sikap tak peduli Nathan dan munculnya seseorang dari masa lalunya membuatnya tidak sabar. Prita mendekati cermin. Aroma parfum maskulin milik Nathan masih tersisa di sana. "Tenang, Prita. Tenang. Ini cuma kerikil kecil. Fokus pada Nathan." Ia mensugesti diri sendiri. Wanita itu mengira jika si pria dalam telepon akan berhenti mengganggunya. Namun prasangkanya salah. ** Sore hari. Prita membantu Nyonya Laras menyiapkan segala sesuatu untuk makan malam. Meski di rumah ia memiliki tiga asisten rumah tangga, tapi dalam hal masak untuk keluaraganya wanita paruh baya itu akan sebisa mungkin meng-handle sendiri. "Tata di mana?" tanya Nyonya Laras yang saat itu baru memasukkan daging dalam panci presto. "Lagi ditemani Tasya di ruang tengah, Ma." "Ohh. Nathan udah pulang?" "Belum, mungkin masih di jalan." "Kok tumben, biasanya sebelum jam 5 udah di rumah." Prita tak menjawab. Ia tahu Nathan pasti melakukan berbagai hal untuk menghindarinya. Bukan tak mungkin jika pria itu akan menggunakan pekerjaan sebagai alasan. Mertua dan menantu itu masih berbincang di dapur sambil memasak saat sebuah mobil memasuki halaman rumah. Nyonya Laras segera meminta Prita membuat dua cangkir teh hangat untuk Nathan dan juga suaminya. Namun sosok yang terlihat hanyalah satu orang, yaitu Tuan Tyo. "Lho Pa, kok sendiri? Mana Nathan?" tanya Nyonya Laras ketika menyambut sang suami. "Dia akan makan malam di luar. Ada klien yang harus ditemui." Prita melanjutkan aktifitasnya di dapur. Ia mulai mengiris bawang dan juga wortel. Mendadak ponsel yang ia simpan dalam saku celana bergetar. Tangannya meletakkan pisau dan melihat siapa yang menelepon. Pandangannya berubah. Pria itu meneleponnya lagi. Tak ingin ada yang mendengar pembicaraannya, Prita beringsut menjauhi dia asisten rumah tangga yang sedang membantunya. Ia menerima panggilan dengan raut wajah dingin. "Kenapa meneleponku lagi?" ujarnya tidak sabar. "Yah, setidaknya kau mau mengangkatnya." "Ini yang terakhir. Kalo gak ada yang penting, aku matikan sekarang." "Hei, hei, hei! Prita Sayang, jangan membuatku kesal jika tak ingin menyesal. Aku tau di mana tempatmu berada sekarang. Apa kau ingin aku muncul dengan segera di rumah besar itu?" Suara pria itu begitu berat dan dalam. Walaupun bernada datar, namun mampu membuat Prita menelan saliva. "Apa maumu?" desis Prita. "Mauku? Kau cepat tanggap rupanya." Kekehan menyebalkan pria itu terdengar. "Temui aku jam setengah delapan malam nanti di Hotel CC. Ingat, kalau kau tidak datang, suami dan mertuamu akan mengetahui segalanya. Aku adalah rahasia yang takkan bisa kau sembunyikan." Genggaman tangan pada ponsel semakin erat. Prita sangat mengenal pria dalam telepon itu. Dan ia pun tahu jika kata-katanya bukan sekedar ancaman. Kini ia harus mencari cara untuk keluar dari rumah malam nanti. Tepat pukul tujuh, Prita telah berpakaian rapi dengan setelan berwarna abu-abu tua. Ia menuruni tangga dan mau tak mau harus melewati mertua dan juga Tasya. "Mbak Prita mau ke mana?" tanya Tasya menatap kakak iparnya heran. "Mau ketemu sepupu yang kebetulan temen kerja juga. Barusan tiba-tiba telepon untuk bahas kerjaan. Duh, mana udah malem juga tapi ini proyek besar. Tata, ayo sini ikut mama ..." Prita mendekati gadis kecil yang sedang fokus pada gadget di tangan Tasya. "Sekarang? Gak bisa dibahas besok di kantor?" Kali ini Nyonya Laras menyela. "Gak bisa, Ma. Harus sekarang." Prita menampilkan wajah merengut. "Tata biar sama aku, Mbak," ujar Tasya yang duduk di sofa sambil menonton televisi. "Jangan, nanti rewel. Mbak juga belum tau pulang jam berapa," ucap Prita. "Nah, apalagi belum tau pulangnya. Kalo kemaleman kasihan Tata. Nanti biar bobok sama auntie ya Cantik ..." Tasta memangku Tata dan memainkan kedua pipi gadis kecil itu. Tata terlihat tak keberatan. Ia bahkan tidak menoleh sama sekali pada ibunya. "Kalo gitu mbak titip Tata ya. Mau dibawain apa nanti?" "Gak usah, Mbak. Tasya lagi gak pengen apa-apa," tolak gadis tujuh belas tahun itu. Ia belum bisa merasa akrab dengan Prita meski istri dari Nathan itu selalu berusaha mendekat dan mengajak mengobrol. Jauh dalam lubuk hatinya, Tasya masih menyayangkan Meyra batal menjadi kakak iparnya. Tetapi kedatangan malaikat kecil bernama Tata tak dipungkiri memberi warna baru pada rumah berlantai tiga itu. Usai berpamitan pada Nyonya Laras, Prita keluar dengan mengendarai mobilnya sendiri. Ia melakukan mobil usai security membukakakan pintu pagar yang sering tertutup. Wanita itu tak menyadari jika ada dua pasang mata yang mengintai dan kini mengikuti pergerakannya. *** Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN