Our Secret

1269 Kata
Nathan pamit ke kamar mandi saat menunggu menu pencuci mulut yang akan akan disajikan. "Kalian ngobrol aja. Kalo papa telepon, bilang aja nanti kita mampir ke sana setelah makan malam." Ia menepuk bahu Meyra lembut lalu menyerahkan ponsel tipis berukuran 6,2 inci. Wanita itu memberi anggukan pelan. Usai Nathan menghilang, dua orang yang tersisa di meja saling diam selama beberapa saat. Hanya musik balad era sembilan puluhan yang terdengar samar, mengisi keheningan di antara mereka. "Jika aku tau kita akan bertemu di sini, aku akan membawa tasmu," ucap Kio tiba-tiba. "Tas? Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Meyra bertanya dengan heran. Kio maklum jika Meyra tidak ingat mereka pernah bertemu. Tanpa basa-basi ia pun menjelaskan apa yang terjadi tiga hari lalu di jalan, rumah sakit juga tentang penyakit mematikan yang Meyra derita. "Jadi kamu yang membawaku ke rumah sakit?" Wanita yang terlihat charming dengan make up tipis itu menatapnya tak percaya. "Iya, dan kamu pergi begitu saja. Di dalam tasmu tidak ada kartu pengenal jadi aku tak tahu harus mengembalikan ke mana." "Astaga, pantas aja aku tak menemukan tas itu di rumah. Aku bahkan tak ingat membawanya keluar ..." "Apa kamu baik-baik saja? Maksudku, di dalam tas ada dua botol obat dan kurasa ada hubungannya dengan penyakitmu." Pertanyaan Kio tak mendapat jawaban. Raut wajah Meyra yang tadinya ceria kini berubah mendung. Dan benar saja. Wanita itu menunduk dan bulir bening terjatuh dari netra indahnya. "Meyra, maaf jika aku salah bicara," ujar Kio kelabakan seraya mengulurkan sapu tangan. Ia tak pernah suka melihat wanita menangis apalagi karena ulahnya. Tunangan Nathan itu menerima sapu tangan biru laut masih tanpa bersuara. Suasana jadi terasa makin canggung. Beberapa saat kemudian, Meyra lebih bisa mengendalikan diri. Ia menghela nafas dan mulai berbicara pada pria muda di depannya. "Tolong, jangan katakan hal itu pada Nathan. Anggap saja hari ini adalah pertama kali kita bertemu." "Tunggu, Nathan belum tau? Tapi kenapa?" Netra Kio membulat. "Apa aku egois jika ingin menutup mata di pelukan orang yang kucintai sekaligus mencintaiku?" Kio tak bisa menjawab. Nathan tampak begitu mencintai Meyra, yang ia tahu memang teman dekatnya ini akan setia pada satu wanita. Sejak dulu selalu seperti itu. Jika ia menjadi Nathan, tentu akan terluka setelah mendengar kabar mengejutkan ini. "Aku ingin tetap menikah dengan Nathan. Aku takut jika nanti berkata jujur, dia akan membatalkan pernikahan ..." Air mata sebening kristal kembali membasahi pipi Meyra yang tirus. "Nathan bukan laki-laki seperti itu," ucap Kio, berusaha menghibur meski ia tahu percuma. "Tolong, Kio. Anggap saja ini permintaan pertama dan terakhir dariku." Meyra memohon dengan mata basah. "Baiklah, kalo itu maumu. Ada nomor yang bisa kuhubungi? Aku ingin mengembalikan tasmu." Kio menyandar pada kepala kursi, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang membuat hatinya tidak nyaman. Meyra menyebutkan dua belas digit nomornya, Kio menyimpan dan langsung menghubungi hingga nada dering pada ponsel Meyra terdengar makin nyaring. Nathan kembali dan menyadari atmosfer yang berbeda di meja mereka. Ia memandang Kio dan Meyra secara bergantian. Kio asyik dengan ponsel sementara Meyra tenggelam dalam lamunan. "Sayang?" Nathan membelai lembut pucuk kepala wanitanya. "Iya?" Meyra menoleh. "Kok kalian pada diem?" "Tadi udah ngobrol kok. Gue udah cerita sama Meyra kalo lo sering molor pas mapel akuntansi ..." Kio menahan tawa. "Bisa-bisanya ya lo sama temen sendiri. Lama gak ketemu malah ngumbar aib sama calon istri gue." Nathan ingin meninju lengan Kio namun batal setelah melihat Meyra tertawa. "Dia bohong, Sayang. Aku rajin udah dari dulu kok, serius ..." "Beneran juga gak apa-apa kok," sahut Meyra tak lupa dengan senyum manis. Dua sejoli itu bercanda, melupakan sosok Kio yang masih berada di sana. Diam-diam Kio mencuri pandang pada wanita yang tak lama lagi akan menjadi Nyonya Nathan. Ia tak bisa memungkiri ada getaran aneh dalam hati setiap melihat wanita itu tersenyum atau tertawa. ** Hampir pukul sembilan malam. Nathan mengantar Meyra pulang ke apartemen. Wanita itu tinggal bersama sepupu yang juga seumuran denagan mereka. "Kamu sakit?" Nathan menyentuh dahi Meyra lalu dahinya sendiri. "Cuma capek," jawab wanita yang selalu memberinya senyum hangat. Nathan tidak tahu jika ada kebohongan yang sedang Meyra tutupi. "Jaga kesehatan ya. Aku liat kamu sering kelelahan akhir-akhir ini. Besok gak usah ke cafe dulu." Gurat kekhawatiran jelas terlihat di wajah pria yang telah mengisi harinya setahun belakangan. "I'm okay. Besok hari gajian karyawan, masa iya aku gak dateng," Meyra berujar sambil tertawa renyah. Meyra memang meng-handle cafe peninggalan mendiang ibunya sejak dua tahun lalu. Hampir setiap hari ia datang ke tempat nongkrong bernuansa cozy dua lantai dengan menu andalan roti panggang itu. "Ya udah, aku balik sekarang. Good night, Princess ..." Nathan maju, hendak mengecup kening wanita berlesung pipi di hadapannya. "Eitss, no! Sabar ya, tiga bulan lagi." Meyra menahan d**a bidang Nathan yang main dekat. "Iya ..." Nathan menggaruk belakang kepalanya meski tidak gatal. Setahun bersama, skinship yang mereka lakukan tak lebih dari genggam tangan dan usap pucuk kepala. Meyra selalu berhasil menyakinkannya untuk menahan diri hingga waktu mereka tiba. * Meyra masuk ke unit apartemen setelah punggung Nathan tidak terlihat. Ia segera menuju ke dapur guna mengambil segelas air. Tangannya mencari pain killer yang selalu ia bawa kemanapun. Rasa sakit yang sedari tadi ia tahan makin menggila. "Mey, kamu udah pulang?" Wanda, sepupunya masuk ke dapur saat Meyra baru menelan obatnya. "Hm ..." Meyra hanya menggumam dan menghempaskan diri di kursi terdekat. Ia memijat kening dan memejamkan mata. "Meyra? Kenapa?" Wanita dengan kaos santai bergambar keroppi mendekat. "Gak apa-apa. Aku ngantuk." Meyra berdiri dan hendak melangkah ke kamar, namun tangan Wanda menahan lengannya. "Besok kita ke dokter, oke?" "Lain kali aja, besok aku sibuk." Meyra tampak acuh. "Dokter minta kamu operasi secepatnya. Apalagi yang mau kamu tunggu?" Hening. Meyra enggan membahas tentang penyakit yang sedang menggerogoti tubuhnya saat ini. Ia tahu pasti bagaimana kondisinya sekarang, namun dengan kemungkinan sembuh yang kecil, ia tak mengharapkan apapun selain menjalani hari-hari terakhirnya bersama Nathan. "Karena Nathan?" tebak Wanda yang sukses membuat Meyra menatapnya. "Wanda, please. Jangan bahas ini sekarang, aku capek ..." Wanita itu memelas dengan sorot mata redup, terlihat rapuh. "Terus? Kamu mau ninggalin aku? Ninggalin Nathan setelah pernikahan kalian?" Wanda terlihat kesal, matanya memerah dan basah. Ia tak rela sepupu terdekatnya menyerah pada tumor ganas yang siap merenggut nyawa kapan saja. "Wanda, stop!" Meyra duduk, kepalanya mulai berdenyut kembali setelah mereda selama beberapa saat. "Aku udah sering bilang, kalo memang Nathan tulus, dia gak akan ninggalin kamu. Apa sulitnya jujur sih?" Bukannya menjawab, Meyra justru menutup wajah. Bahunya bergetar, meski tanpa suara, Wanda tahu sepupunya itu sedang menangis. Ia memeluk dan mengusap punggung Meyra lembut. "Nathan segalanya buat aku. Bukan sekedar calon suami, tapi juga sosok pelindung yang gak aku punya sejak aku kecil. Dia juga selalu jadi sahabat yang baik. Aku takut, aku gak bisa liat dia pergi kalo nanti tau keadaanku sebenarnya," ujar Meyra di sela isakan. Wanda mengerti. Meyra tumbuh di keluarga brokenhome. Orang tuanya bercerai setelah ayahnya melakukan KDRT dan selingkuh ketika ia baru berusia sepuluh tahun. "Tapi Nathan harus tau, Meyra. Jangan sampai dia tau dari orang lain," ucap Wanda melunak. "Iya, aku lagi cari waktu yang tepat. Dia juga baru datang dari Bali. Banyak yang harus dia urus," lirih Meyra. Wanda menghela nafas. Sepenting itu sosok Nathan bagi Meyra, ia berharap pewaris tunggal perusahaan ekspor impor itu tidak melakukan sesuatu yang akan menyakiti hati Meyra. Tapi Wanda tetap pada pendapatnya. Ia merasa yakin jika Meyra harus jujur sebelum pernikahan itu terjadi. Wanita itu duduk hingga posisi mereka sejajar. "Mari kita liat kalo ketakutanmu gak terbukti. Aku mau kasih tahu Nathan sekarang juga." Wanda mengeluarkan ponsel dari kantong celana pendeknya dan langsung men-dial nomor Nathan. "Nooo!!" Meyra yang panik ingin merebut ponsel namun nada dering telah berbunyi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN