Setitik Harapan

1021 Kata
Meyra mematut diri di depan cermin besar. Kebaya putih nan cantik tampak membalut tubuhnya dengan pas. Ia tersenyum, membayangkan momen paling bahagia itu akan datang tak sampai tiga bulan lagi. "Kamu cantik, Mey," puji Elma, sepupu Nathan sekaligus pemilik butik tempat ia memesan baju untuk pernikahannya. "Aku cantik karena pakai baju hasil desainmu. Makasih Elma, aku suka ..." Meyra tersenyum, bertemu tatap sejenak dengan wanita dengan atasan soft purple itu. "Aku ikut seneng kalo kamu suka. Bagian pinggangnya gak terlalu kecil?" Elma membungkuk, mengamati kebaya modern hasil karyanya yang telah Nathan bayar di muka, nyaris seharga mobil. "Gak kok, pas banget." Meyra tertawa kecil ketika melihat betapa seriusnya ekspresi yang Elma tunjukkan. "Kalo ada yang bikin kamu susah gerak atau gak nyaman, bilang ya. Lebih baik kamu yang komplain deh dari pada Nathan. Dia galak kalo yang dia mau gak sesuai," ujar Elma. "Iya, tenang aja. Ini beneran udah pas. Tolong doain supaya berat badanku gak berubah saat hari H ..." Dua wanita tertawa. Setelah kebaya untuk akad, Meyra masih harus mencoba tiga gaun untuk resepsi yang akan diselenggarakan di hari yang sama. "Kamu kurusan ya Mey?" Elma menyentuh lengan Meyra saat membantu mencoba dress cantik berwarna broken white. "Masa sih? Gak ah, perasaan kamu aja." Meyra tersenyum dan menggeleng. "Aku sering denger kalo orang mau nikah mudah stress. Kalo butuh temen cerita, aku selalu siap kok." Tatapan wanita seusianya itu begitu teduh, membuat Meyra ingin memberitahu semua kekhawatiran yang membuatnya sesak. Tapi, dengan segera ia tepis keinginan itu. "Sayang, udah belum?" Terdengar suara Nathan yang tampaknya sudah lelah menunggu. "Sabar, Pak. Gaunnya ribet ini. Duduk manis aja ya," sahut Elma sedikit kesal. "Tuh, 'kan. Apa kubilang, calon suamimu mulai komplain." Bibir wanita itu mengerucut. "Kami tadi ke sini buru-buru jadi gak sempat makan siang, mungkin Nathan udah lapar. Gaun yang ini juga pas, aku suka aksen bunga lily yang ini." Meyra menunjuk bagian pergelangan tangannya. "Serius suka? Itu Nathan yang kasih ide loh ..." Meyra menyentuh aksen itu, merasa senang sekaligus sedih menyadari Nathan selalu ingat detail apa yang ia suka. ** Mobil Nathan melaju dengan tiga orang di dalamnya. Elma langsung memilih ikut dan meninggalkan butik pada tiga karyawannya ketika Nathan mengajak Meyra makan. "Sayang, mau makan apa?" Nathan bertanya dengan netra fokus pada jalan di depannya yang padat merayap. "Daging, aku tahu tempat makan 'All You Can Eat' yang enak di dekat sini'," seru Elma semangat dari bangku belakang. "El, jangan berisik. Aku tanya sama Meyra," balas pria itu. "Aku terserah. Apa aja boleh. Kalo kamu gak keberatan, kita ke tempat yang barusan Elma sebut," respon Meyra yang sukses membuat Elma kegirangan. "You're lucky." Nathan menghela napas yang direspon Elma dengan menjulurkan lidah. Tak sampai sepuluh menit kemudian, mereka sudah berada di mall berlantai tujuh. Tempat yang Elma maksud terletak di lantai dua. Dan sudah bisa ditebak, wanita berlesung pipi itu yang paling banyak mengambil daging beserta pernak perniknya. "Aku ke toilet dulu ..." pamit Meyra di tengah acara makan mereka. Nathan hanya mengangguk dan mengusap lembut punggung tangannya sebelum wanita itu beranjak. "Perlu aku temenin, Mey?" tawar Elma yang baru saja mencomot daging dari panggangan menggunakan penjepit. "Gak usah, cuma sebentar." Meyra hanya ingin mencuci wajahnya karena merasa mengantuk. Akhir-akhir ini ia kesulitan tidur, pernikahan yang semakin dekat memang membuat pikirannya penuh. Beberapa menit kemudian, ia melangkah kembali ke meja tempat Nathan dan Elma berada. Namun tanpa sengaja ia mendengar percakapan dua orang itu yang menyebut namanya. Karena penasaran, Meyra memutuskan untuk diam berdiri sejenak di dinding pembatas yang terbuat dari batu alam. "Susah sih kalo kamu tanya itu." Terdengar suara Nathan. "Tinggal sebutin aja. Karena Meyra cantik, baik?" Itu adalah suara khas milik Elma. "Meyra memang cantik dan menarik. Dia juga baik, sopan. Tapi hal yang paling aku suka, hatinya yang hangat. Dia juga mau berkomitmen untuk selalu jujur." "Jujur gimana? Bukannya gak semua hal bisa dikatakan?" "Aku yakin setiap masalah bisa diselesaikan selama ada komunikasi. Jadi kejujuran itu penting." "Susah sih kalo aku." "Pantes lama jomblo, mau kukenalin sama seseorang?" tawar Nathan dengan nada meledek. "Ogah. Terakhir kamu nawarin, orangnya gitu." Elma mendengus. "Gitu gimana? Tampan, mapan, baik. Apa yang kurang?" "Dia terlalu pendiam. Aku gak bisa sama cowok pendiam. Kasihan kalo dapat pasangan banyak tingkah macam aku." "Makanya perbaiki sikap mulai sekarang." "Biarin aja. Lagian aku masih pengen sendiri. Bebas ..." "Ya udah. Tapi siap-siap aja acara keluarga dua hari lagi. Nenek pasti tanya, 'Elma kapan nikah? Elma, mana calonnya?'" Dari tempatnya berdiri, Meyra bisa melihat Nathan mengedikkan bahu seraya tergelak. Meyra berjalan ke arah mereka dengan sikap biasa seakan tak mendengar apapun. Ia merasa ada setitik harapan. Dalam hati Meyra bertekad akan jujur pada Nathan. Setidaknya kini ada sedikit keyakinan jika Nathan akan menerima kondisinya. ** Dua hari berlalu. Siang itu Nathan mengunjungi apartemen Meyra. Mereka duduk bersama di balkon sambil menikmati cahaya matahari yang cerah. Sepiring pastry, irisan apel, dan dua gelas jus melon buatan Meyra berdiri berdampingan pada meja kecil di antara mereka. Meyra membolak-balik majalah fashion tapi pikirannya penuh dengan kata-kata yang ingin ia ucapkan pada Nathan. Wanita itu menatap pria di sampingnya. Berbagai pertanyaan berkecamuk. Apa Nathan akan tetap menerima apa adanya? Ataukah memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka? "Nathan ..." Meyra memanggil dengan suara lirih, lebih terdengar seperti cicitan. "Hm?" Nathan hanya menggumam, tapi netranya menatap layar laptop yang sedang menampilkan laporan dari asistennya. "Ada yang aku omongin." "Ngomong aja, Sayang. Aku dengerin." Pria itu masih tak mengubah posisinya. "Aku boleh jujur?" Nathan menoleh, merasa ada yang aneh dengan nada bicara Meyra. Wanita itu terlihat resah dan seakan berhati-hati dalam memilih kata. "Kamu kenapa?" Nathan meletakkan laptop lalu mulai fokus menatap netra cantik milik calon istrinya. "Ehm, sebenarnya ada yang kusembunyikan selama ini. Tapi aku punya alasan kenapa aku gak jujur ..." "Kamu inget apa janji kita dari awal 'kan?" Raut wajah Nathan terlihat lebih serius dari biasanya. Meyra menggigit bibir, mulai merasa takut. "Iya, aku tahu. Tapi ini bukan sesuatu yang mudah untuk aku." Meyra menunduk, berharap air matanya tidak jatuh. "Kalo gitu kamu bisa jujur sekarang." Tangan Meyra dingin dan basah, ia gugup. Sementara Nathan masih diam, menunggu. Setelah menghela nafas, wanita itu akhirnya bersuara. "Sebenarnya ..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN