Still Marry You

1308 Kata
Nathan menutup panggilan setelah Wanda menjawab dengan suara parau. Pria itu berlari ke arah mobil tanpa menghiraukan Kio yang menatapnya dengan heran. Ia melalui rute tercepat dan melaju dengan sangat kencang. Rasa marah dan cemburu menguap, berganti menjadi rasa bersalah dan khawatir. Ia Nathan takkan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada Meyra, calon istrinya. Setelah berkendara selama kurang dari dua puluh menit, ia segera bergegas masuk dan menaiki lift. Dengan cemas ia memencet bel lebih dari satu kali. Tak berselang lama, Wanda sudah berada di depannya dengan mata sembap. "Than, Meyra ..." Pria itu masuk tanpa bertanya dan mendapati Meyra masih menutup mata dengan noda darah yang membasahi dress dan tisu di tangannya. Nathan memeriksa denyut nadi pada leher, sedikit merasa lega karena wanita yang sangat ia cintai nyatanya masih hidup. "Ada apa dengannya? Sejak kapan hidungnya mengeluarkan darah sebanyak ini?" "Meyra sakit." "Sakit?" "Kanker otak stadium tiga," Wanda berujar. "Apa? Ini ... Ini gak bener 'kan?" Jantung Nathan seakan mencelos mendengar kabar mengejutkan itu. Bagaimana mungkin Meyra yang selalu terlihat sehat bisa menderita penyakit separah itu? "Meyra takut kamu batalin pernikahan setelah tahu tentang ini," isak Wanda. "Kita harus membawanya ke rumah sakit," ucap Nathan yang tentu langsung di setujui oleh Wanda. Tidak ada yang berbicara selama perjalanan ke rumah sakit terdekat. Sesekali, Nathan memandang Meyra yang berada di kursi belakang bersama Wanda. Wajahnya sangat pucat. Pria itu mendongak, matanya terasa panas. Ia takut, belum pernah merasa setakut ini kehilangan Meyra. Begitu sampai di rumah sakit, Meyra segera mendapat penanganan. Nathan memaksa ikut masuk namun dua perawat menahannya. "Silahkan Anda tunggu di luar." "Sabar, tunggu hasil pemeriksaan dokter. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang." Wanda menggamit lengan Nathan agar pria itu lebih tenang. Meski demikian, kekhawatiran Nathan tak berkurang sama sekali. Ia merasa telah menjadi pria paling bodoh yang pernah ada. Bukannya peka terhadap keadaan Meyra, ia justru membuat masalah baru. "Sejak kapan?" tanya Nathan seraya menghela napas kasar. "Tujuh bulan lalu. Dia simpan semuanya sendiri. Kalo aku gak tinggal seatap, mungkin aku juga gak akan tau." "Kenapa Meyra seperti ini ..." "Apa kalian bertengkar kemarin?" "Dari mana kamu tau?" Nathan menoleh. "Asal kamu tau, Meyra gak seperti yang kamu kira. Dia gak pernah aneh-aneh selama ini. Kesalahannya cuma satu, nyembunyiin penyakitnya dari kamu. Tapi kenapa kamu nuduh dia ada apa-apa sama Kio?" dengus Wanda. "Aku ..." Nathan menunduk. "Aku gak tau gimana dengan Kio. Tapi harusnya kamu percaya sama Meyra 'kan? Berapa lama sih kalian dekat?" Nathan membeku. Ia merasa ucapan Wanda ada benarnya. Seharusnya ia mau mendengar penjelasan Meyra malam itu. Bukan malah mendiamkannya dua hari. Beberapa saat kemudian, dokter keluar. Wanda dan Nathan serempak berdiri. Mereka tidak menyadari ada satu sosok lain yang sedang mengamati sedari tadi. Raut wajahnya tak kalah cemas jika dibandingkan dengan Nathan. Pria itu sangat ingin menanyakan bagaimana kondisi Meyra. Tapi ia pun sadar jika itu ia lakukan, maka sama saja dengan memperkeruh keadaan. Pria tampan itu merogoh ponsel, ia harus menghubungi seseorang yang sudah pasti menunggu telepon darinya. "Halo Bunda, Meyra gak bisa datang ke rumah hari ini." Jeda. Ia sedang menyiapkan alasan yang tepat jika sang ibu menanyakan apa alasannya. "Dia kurang sehat. Iya, Kio pulang sebentar lagi." Kio menatap kursi tempat tadinya Nathan dan Wanda berada. Kini kosong. Ia berharap Meyra baik-baik saja. Hanya itu. Pria itu tak berani meminta lebih. Sepenuhnya ia sadar, hati yang serakah akan menghancurkan segalanya. ** Pendar cahaya segera menyapa penglihatan Meyra begitu ia mencoba membuka mata. Ia menutupnya kembali, memberi waktu pada lensa matanya agar siap digunakan. Serba putih, selang infus yang menancap pada pergelangan tangannya. Meyra bisa memastikan tempatnya berada sekarang adalah rumah sakit. Tapi bagaimana bisa ia sampai di sini? Meyra melihat sekitar dan baru menyadari ada seseorang yang tengah tertidur dengan posisi duduk dengan kepala berada di tepi ranjang. Nathan. Wanita itu terkejut, namun ia masih berharap Nathan tak mengetahui tentang penyakitnya. Tangan Meyra menyentuh rambut Nathan perlahan, membuat pria itu terbangun. Ia mengerjap dan langsung tersenyum lebar saat melihat Meyra telah sadar. "Sayang, akhirnya kamu sadar." Pria itu bangkit dari duduknya dan membelai lembut pipi Meyra. "Kenapa aku di sini?" tanya Meyra. Dalam hati ia mulai merasa was-was. "Wanda menemukanmu pingsan di apartemen. Apa ada yang sakit? Di sini?" Nathan memijit lembut kening calon istrinya itu. Meyra menggeleng pelan. Tiba-tiba air matanya menyeruak. Entah bagaimana ia yakin jika Nathan telah mengetahui apa yang selama ini selalu ia sembunyikan. "Cantik, kenapa menangis?" Mendadak Nathan khawatir. "Kamu udah tau?" Meyra bersuara pelan. Nathan mengangguk, sejurus kemudian ia menghapus air mata yang mengalir pada pelipis Meyra dengan penuh kasih. Pria itu merasa batinnya sakit saat melihat wanita yang ia cintai dalam keadaan seperti ini. "Apapun yang terjadi, perasaanku gak akan pernah berubah. Pernikahan kita akan tetap terjadi dalam beberapa minggu. Tapi tolong, berhentilah menangis." Netra pria tampan itu basah. Bukannya berhenti, isak tangis Meyra semakin terdengar. Ia tak bisa menentukan apa yang ada dalam hatinya sekarang. Sedih bercampur lega. Seakan beban berat baru terangkat. Nathan bisa menerima keadaannya. ** Hari berlalu dengan cepat. Sudah tiga hari sejak Meyra masuk rumah sakit. Kio duduk termangu di kursi empuknya. Seharian ini pikirannya kacau, hingga tadi ia sempat mendapat teguran dari sang ayah karena kurang fokus saat meeting. Tok. Tok. Pintu diketuk, tanpa bertanya Kio tahu itu adalah sekretarisnya. Wanita muda yang cantik namun sangat suka mengenakan pakaian agak terbuka. Seperti hari ini, ia memakai blouse yang meng-expose sebagian punggungnya. "Pak, ada seseorang yang ingin bertemu." "Siapa?" tanya Kio malas. Ia sedang tak ingin bertemu dengan siapapun. Stok senyumnya sedang menipis. "Seorang wanita bernama Rachel, Pak." Alis Kio terangkat sebelah. Rachel? Kenapa dia datang? Bahkan tak mengabarinya terlebih dahulu. "Suruh dia masuk," titah Kio. Wanita bernama Sonia itu mengangguk dan membalikkan badan hingga Kio bisa dengan jelas melihat style baju yang menurutnya tak sedap dipandang. "Sonia?" panggil Kio sebelum si sekretaris mencapai pintu. "Iya, Pak?" "Apa gajimu kurang?" Sonia tertegun. Gaji yang ia terima bisa dikatakan cukup besar meski belum genap setahun bekerja. Tapi kenapa anak dari pemilik perusahaan bertanya demikian? "Cukup, Pak. Sangat cukup," jawabnya. "Kalau begitu nanti belilah baju yang lebih pantas. Aku tak ingin karyawanku masuk angin. Mengerti?" Kio terlihat serius. Sonia menelan saliva, ia tahu mood atasannya ini sedang kurang baik. "Baik, Pak." Sonia berusaha tersenyum seramah mungkin meski yang tampak justru senyum kecut. Tak sampai lima menit kemudian, wanita berambut sebahu dengan blouse lengan panjang berwarna broken white memasuki ruangan Kio. Ia meletakkan sebuah bungkusan di meja. "Apa itu?" tanya Kio sembari berdiri. "s**u almond. Tadi saat ke supermarket di ujung sana aku melihat ini, jadi sekalian saja aku beli dan mampir. Kamu masih suka s**u 'kan?" Rachel tersenyum manis, senyum yang pernah membuat jantung Kio berdebar. "Bukannya kamu yang suka s**u almond?" Kio mendekat. "Kok aku? Seingatku dulu, kamu sering memberiku ini. Jadi kukira ..." "Aku sering melihat dia membelikanmu s**u almond. Sepertinya, ada kesalahpahaman di sini," ujar Kio seraya tersenyum. "Dia? Maksudmu Joni?" Kio mengangguk. Angannya terbawa pada kejadian dua tahun lalu. Kio dan Joni sama-sama tahu jika Rachel belum mempunyai pasangan. Dua pria itu berusaha mendekati Rachel di sela kegiatan amal mereka. Namun di suatu sore, Kio mendapati Rachel menerima ungkapan cinta Joni. Tak lama kemudian, sang ayah meminta Kio untuk fokus pada kantor. Dari semakin jarang bertemu, Kio memutuskan untuk berhenti datang ke kegiatan amal. "Sebenarnya siapa yang suka s**u almond?" tanya Kio. "Joni ..." Rachel dan Kio tertawa setelahnya. "Bagaimana kabarnya?" tanya Kio berbasa-basi. "Joni? Entahlah, aku udah lama lost kontak setelah putus." Wanita manis itu mengedikkan bahu. Perbincangan itu berjalan hampir setengah jam. Hingga waktu makan siang tiba. Mereka makan siang bersama di restoran Jepang di sekitar kantor. Pukul satu, Rachel akhirnya memutuskan untuk kembali ke tempatnya bekerja. "Kio, alamatku masih sama ..." Rachel berucap sebelum mereka berpisah. Kio hanya mengangguk. Ia telah paham jika itu sebuah kode. Tetapi sekarang hatinya bukan lagi untuk Rachel. *** Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN